
"Assalamualaikum...."
Terdengar suara pintu dibuka . Lalu terdengar langkah kaki dari luar. Simbah yang sedang ada di dapur bangkit dan melongok dari pintu penghubung ke dapur.
"O.... Kamu tho nduk" Simbah menyapa. Rupanya Srita yang baru masuk rumah.
"Iya mbah...." Srita menjawab singkat.
Simbah kembali melanjutkan aktivitasnya di dapur. Dia masih belum ingin bertanya-tanya soal sidang. Sementara Srita langsung masuk kamar.
"Itu ibu kalian sudah pulang" Kata Simbah pada ke dua cucunya.
"Ibu pulang?" Anak-anak Srita bergegas bangkit menuju kamar. Mereka berlari menemui ibunya.
"Bu... Ibu sudah pulang. Dari mana, kok lama?" Marsa bertanya
"Bu....." Secil mengangkat tangannya seolah-olah ingin digendong.
"Apa tho Secil, ibu capek lho" Srita mengabaikan anaknya lalu menuju tempat tidur. Dia membaringkan badannya.
"Ibu sudah makan? Simbah sedang masak. Nanti kalau sudah Mateng ibu makan ya" Marsa penuh perhatian pada ibunya.
"Yaaa..." Srita menjawab tanpa melihat anaknya.
"Bu.... Gendong" Lagi-lagi Secil mengulurkan tangannya
__ADS_1
"Kamu main sama mbak mu dulu. Ibu capek! Marsa, bawa adek mu main dulu"
"Mau sama ibu" Secil tidak mau disuruh pergi.
"Nanti. Ibu capek" Srita tetap tidak menggubris anaknya.
"Mau sama ibu...." Secil mulai merengek.
"Ayo dek, main sama mbak" Marsa menarik tangan adiknya.
Anak kecil itu menurut dengan wajah tak rela. Dia mau dengan ibunya.
Marsa membawa adiknya kembali ke dapur. Meneruskan kegiatan mereka sebelumnya yaitu main sisa-sisa sayur yang dimasak Simbah.
"Adik mau sama ibu. Tapi kata ibu, ibu sedang capek Mbah" Marsa menjelaskan.
"Ya sudah, main sama mbak saja ya. Ini Mbah goreng kan telur. Nanti maem"
Srita kebangetan memang. Pergi dari pagi, anaknya kangen kok tidak mau diurusi dulu.
Simbah bicara dalam hati.
Dia meneruskan memasak sambil sesekali melihat cucunya. Hatinya kian miris memikirkan nasib cucu-cucunya yang sebentar lagi akan berpisah satu sama lain. Hidup yang selama ini baik-baik saja meskipun dalam kekurangan akan semakin berasa sulit.
Tak lama kemudian Simbah menyelesaikan semuanya.
__ADS_1
"Nduk mandi dulu sana. Udah mau Maghrib ini. Marsa, bilang ke ibumu udah mau Maghrib, adikmu belum dimandikan" Simbah menyuruh Marsa.
Marsa menuruti perintah Simbah dan bangkit menuju kamar ibunya.
"Bu...." Marsa masuk ke kamar. Melihat ibunya yang sedang baring sambil mengotak-atik HP nya.
"Ada apalagi Marsa!" suara Srita agak meninggi.
"Adik belum mandi bu. Sudah mau Maghrib" jawab Marsa
"Kamu kan bisa mandikan adikmu dulu. Kamu sudah besar lho Marsa. Udah sana, urus adikmu dulu. Ibu masih ada yang diurus. Mengganggu saja kamu ini!" suara Srita makin meninggi.
Dia sedang asyik komunikasi dengan Bagito. mereka sedang merasa bahagia karena keputusan sidang hari ini. Dari tadi HP nya tak lepas. Rasanya sudah tidak saling sabar.
"Tapi Bu, tadi Simbah yang suruh bilang ke ibu" jawab Marsa lagi
Srita bangkit dari baring.
"Marsa! Kamu anak ibu. Nurut sama ibu! Udah sana, mandikan adik kamu dulu!" Srita mendorong Marsa keluar dari kamar.
Marsa beranjak dari depan pintu menuju dapur.
"Katanya ibu masih ada yang diurus Mbah, jadi aku yang disuruh mandikan adik" Marsa menjawab dengan lesu.
"Kebangetan ibu mu. Udah mau Maghrib kok ya. Ya sudah ayo mandi. Biar Simbah mandikan adikmu"
__ADS_1