
Hari mulai menjelang senja, Pungguh baru pulang dari sawah orang tuanya. Selama belum ada pekerjaan di proyek, dia mengerjakan apa yang bisa dikerjakan di sawah.
Sawah orang tuanya tidaklah lebar, hanya satu petak ukuran sedang. Sawah itu merupakan warisan dari orang tuanya Simbah. Awalnya sawah itu lebih dari satu petak tapi karena dijual untuk biaya menikah Pungguh dan untuk biaya berobat bapaknya maka sekarang tinggal satu petak.
Disela-sela pekerjaan proyek yang tidak selalu ada Pungguh mengolah tanah milik orang tuanya. Apalagi sejak bapaknya meninggal otomatis dia bertanggung jawab mengolah sawah tersebut.
Pungguh meletakkan cangkul yang dibawanya di samping rumah, lalu menyangkutkan topi caping pada sebuah paku yang ada di dinding luar rumah.
Dia berjalan menuju bangku panjang yang ada di bawah pohon jambu lalu membaringkan badannya di sana. Beberapa jam mencangkul badannya lumayan terasa lelah. Sepeda unta yang dikendarai lumayan menolong untuk mengantar bolak balik ke sawah.
Huuuu.....huuu....huuu....
Terdengar suara Marsa menangis.
"Pasti dia menangisi ibunya. Kasihan kamu nduk" Pungguh berkata dalam hati.
Dia lalu beranjak masuk rumah.
"Nduk...." Pungguh menghampiri anaknya yang sedang menangis di depan Simbah.
"Bapak....huu....huu...huu.... Mau sama ibu, pak" Marsa memeluk bapaknya.
"Ibu kan di rumah eyang. Kamu sama bapak yo. Ayo bapak gendong" Pungguh mengangkat anak perempuannya.
"Kenapa ibu harus pergi pak? Kenapa ibu meninggalkan aku? Padahal aku janji tidak nakal. Padahal aku janji akan jaga adik. Ibu tidak sayang aku pak. Huuu...huuuu...hu....." tangis Marsa makin menjadi-jadi.
"Ibu...., ibu.... Huuuu...huuu...hu.... Mau sama ibu, pak" Marsa mulai meronta-ronta.
"Mbah... Mau sama ibu" Dia beralih memohon pada simbahnya.
"Oalah nduk. Nasib mu" Simbah menyeka air matanya lalu mengusap-usap punggung cucunya.
"Genduk kan sama bapak, sama mas, sama Simbah di sini" Pungguh mencoba memberi pengertian
"Tapi aku mau sama ibu pak, aku mau sama adik juga. Ibu..... Huuu...huu...hu....."
__ADS_1
"huuu...huuu...huuu...."
"ngopo to pak?" tiba-tiba Truno muncul dari pintu samping rumah.
"Ini adikmu mau sama ibu" jawab Pungguh
"Ngopo sih dek. Ibu itu sudah pergi meninggalkan kita. Ibu tidak mau lagi bersama kita. Ibu tidak sayang sama kita. Sudah diam!" Kata Truno kesal
"Truno, kamu tidak boleh bicara begitu!" Pungguh menyela perkataan anaknya
"Kenyataan lho pak. Kenyataan ibu pergi meninggalkan kita. Ibu sudah tidak sayang sama kita. Kalau ibu sayang pada kita, tidak mungkin ibu pergi meninggalkan kita"
"Mas jahat. Ibu sayang sama aku. Mas bohong. Huuuu...huu...hu...." tangis Marsa kembali kencang.
"Ibuuuuu. Aku mau sama ibu...."
"Sudah, sudah. Kamu jangan mempengaruhi adikmu" Pungguh mencoba menghentikan perdebatan diantara kedua anaknya.
"Sudah nduk nanti ya kapan-kapan bapak antar ketemu ibu"
" Kapan pak?" Marsa bertanya pada bapaknya.
"Sekarang diam dulu nangisnya. Marsa anak pintar kan. Nanti kapan-kapan bapak antar"
"Bapak janji?" dia bertanya lagi
"Ya, Bapak janji" Demi mendiamkan anaknya Pungguh terpaksa berjanji akan membawa anak itu ketemu ibunya. Dia menghela napas berat.
"Sekarang Marsa mandi dulu ya. Sudah sore. Udah bau asem ini keringetan nangis terus" Pungguh menurunkan anaknya dari gendongan
"Bapak janji kan ngantar aku ketemu ibu?" Anak itu bertanya kembali
"Iya, bapak janji " Pungguh tak sampai hati untuk menidakkan keinginan anak perempuannya
"Udah sana mandi dulu. Bapak udah ke bau an" Pungguh menurunkan Marsa dari gendongannya.
__ADS_1
"Mas nggak boleh ketemu ibu" Sambil lewat Marsa mengancam mas nya.
"Mas nggak ingin ketemu Ibu. Ibu tidak sayang kita" Truno membalas sambil melotot
"Maaaas!!!" Marsa berusaha memukul masnya. Tapi yang hendak dipukul berusaha menghindar.
"Bapak, mas jahat!" Dia mengadu pada bapaknya.
"Truno, sudah lah jangan ganggu adik mu. Kasihan dia nangis terus" Pungguh berusaha menengahi.
"Udah sana nduk, mandi dulu ya. Jangan dengarkan mas mu" yang kesekian kalinya Pungguh menyuruh anaknya mandi.
Saat Marsa masuk kamar mandi, Truno mendekati bapaknya.
"Bapak kenapa menjanjikan ke Marsa akan mengantar menemui ibu? Bapak tidak ingat ibu pergi meninggalkan kita tanpa perasaan? Bapak tidak ingat ibu sudah tidak perduli pada kita? Apa bapak tidak sakit hati pada ibu? Aku saja sakit hati pak" Truno mengeluarkan uneg-uneg nya.
"Kamu tidak kasihan pada adikmu le? Seharian ini dia menangis terus. Apa salahnya bapak menjanjikan akan mengantar menemui ibumu. Lagi pula bapak janjikan kapan-kapan. Yang penting sekarang dia diam dulu"
"Meskipun kapan-kapan tetap saja berarti bapak bakal mengantar Marsa menemui ibu" Tukas Truno.
"Le, Marsa itu masih kecil belum mengerti persoalan begini"
"Terserah bapak! Aku tak suka bapak menemui ibu dan jangan pernah suruh aku menemui ibu!" Truno berkata dengan sengit. Dia lalu melangkah pergi.
"Kamu mau ke mana le sudah mau maghrib ini?" tanya Pungguh melihat anaknya pergi keluar rumah.
"Bapak tak usah perduli. Aku sudah besar! Sama seperti ibu yang tidak memperdulikan aku"
"Le, kamu jangan bicara begitu. Bapak sayang sama kamu le" Pungguh mencoba mencegah Truno pergi.
Truno tetap melangkah makin menjauh dari rumah. Pungguh yang merasa serba salah hanya bisa memandang anaknya dari jauh.
"Kemana Truno?" Tanya Simbah
"Dia kabur lagi" jawab Pungguh.
__ADS_1