Cinta Terlarang Duyung

Cinta Terlarang Duyung
Cordelia Das Meer


__ADS_3

"Cuaca pagi ini Cerah...


Secerah senyum ku memulai hari..."


-0-


Author POV


Cordelia mengemas barang barang nya untuk berangkat ke kampus. Sisa sisa liburan kemarin rasanya masih menggangu pikiran untuk memulai hari Senin.


"Coco buruaaaan." Panggil sang kakak yang sudah selesai merias wajah di depan kaca.


"Ia bentar." Coco menggunakan ranselnya dan langsung turun ke bawah menyusul sang kakak.


00


Di dalam mobil


"Kak, kak celo mana?" Cordelia mencari keberadaan sang kakak yang tidak ada di kursi kemudi.


"Ada yang ketinggalan katanya." Jawab singkat Gianira yang sibuk menulis tugas.


Pintu kemudi terbuka dan munculah Marcelino yang siap mengantar adik adiknya.


"Kakak lama banget sih. Coco ada kelas pagi niiih udh telat." Gerutu Cordelia di kursi belakang.


"Slow aja..." Jawab Marcelino santai sambil mengusap rambut adik bungsunya.


00


Di sebuah kampus di daratan


"Del.. Delia..." embun mengguncang bahu Cordelia yang tertidur pulas di meja kelas.


"Deeeel, dah selesai nih kuliahnya ooooy.." tak juga bangun dengan guncangan itu.


"Cordelia ada kara tuuuuh" bisik embun pelan di telinga cordelia.


Cordelia mengangkat wajahnya dari kursi sambil ditutupi dengan kedua telapak tangannya.


"Dimana dimana? Kaca mana kaca?" Bisik cordelia pada embun yang ada di sebelahnya.


Embun dengan senang hati memberi kaca pada Cordelia yang di sambut baik. Tak butuh waktu lama muka bantal Cordelia sudah menjadi fresh dengan liptint merah dan pipi berseri.


"Mana Bun katanya ada kara?." Tanya Cordelia dengan sedikit berbisik.


"Udah pergi lu kelamaan dandan nyaa." Kata embun santai.


"Yaaaah, tahan dong biar dia nggak pergi dan bisa liat gua niiih udah cantik." Gerutu Cordelia yang dapat sambutan tawa dari embun.


"Ayo balik dah selesai kelas hari ini. Tidur Mulu sih." Kata embun sambil memukul bahu temannya.

__ADS_1


Dengan menghembus nafas kesal Cordelia bangkit dari tempat duduknya dan keluar kelas.


00


Cordelia POV


"Telfon aku kenapa nggak di angkat angkaaaat ya looord..." Gerutuku sambil berulang kali menelfon kak Celo.


"Halo.." ucapku kencang yang akhirnya setelah setengah jam ku telfon berkali kali kini telfonku di angkat.


"Kaaaak katanya bentar doang dah sampeeee ini mana buktinyaaaaaa kakak blm sampe juga di sini. Panaaaaas aku tak sanggup." Omelku pada kak Celo yang masih diam di balik telfon.


"Kakak baru selesai meeting dek. Bentar dulu yaaa, tunggu situ jangan kemana mana 15 menit lagi." Begitu kira kira jawaban kak Celo yang langsung di matikan tanpa tau diri.


Aku duduk di tempat jualan bakso sejak tadi. Sampai sudah habis 2 mangkok. Dan sekarang aku lapar lagi.


"Mas mau air putih pake es nya satu lagi ya." Kataku ke Abang jualan.


Aku sudah membayangkan bisa berenang di rumah dengan nyaman tanpa panas panasan dan kehausan begini.


Karna jarak rumahku cukup jauh dan papa yang melarang aku untuk naik angkutan umum. Akhirnya kak Celo yang harus bolak balik antar jemput aku dan kak Gigi yang masih kuliah.


Ini sudah gelas ke 7 ku menunggu disini. Aku tidak bisa kena panas terlalu lama. Nggak bisa kekurangan air dan kulit harus lembab.


Aku masih menunggu sambil menatap ponsel di genggaman.


"Hai" sapa seseorang yang sangat ku kenal. Tiba tiba badanku mematung.


"Hai okiii." Jawabku mencoba biasa.


"Lo nunggu marcel ya?" Tanyanya sok akrab.


Sebenernya kami memang akrab sejak kecil. Tapi sayang karena sebuah kejadian di bawah laut beberapa waktu lalu hubungan kami renggang.


"Ia" jawabku sekenanya.


"Udah lama?" Tanyanya lagi.


"Nggak juga baru kok." Aku berdiri menuju Abang penjual bakso dan membayar semuanya. Lalu memilih pergi dari sana.


"Duluan ya Ki." Kataku berjalan menjauh sambil sekali lagi menelfon kak Celo.


"Kebiasaan kak Celo niiiih" batinku kesal mau menangis.


"Tahaaaan. Coco tahaan jangan nangis di sini sayang nanti mutiaranya jatuh tahaaaan." Ku kuatkan diriku sendiri.


Tapi aku nggak sanggup dan malah menangis. Sebuah mutiara menggelinding di jalan. Aku memilih jongkok di pinggir jalan dan menangis.


"Dasar Cordelia lemaah" marahku pada diri sendiri.


Sekarang tanganku sudah penuh dengan mutiara, aku bingung harus sembunyikan dimana. Tidak ada orang yang boleh tau jika air mataku berubah menjadi mutiara. Tapi aku tak bisa berhenti menangis.

__ADS_1


Cuaca panas dan hati yang panas karna bertemu Oki Dan kak Celo yang nggak kunjung datang membuatku nggak bisa berhenti menangis.


"Delia. Lo kenapa?" Kurasakan seseorang jongkok di depanku. Lalu mengusap punggung ku menenangkan.


"Lo kenapa. Jangan nangis di jalan gini berdiri yuk. Udah jangan nangis. Kenapa Lo cerita sama gua." Katanya panjang mencoba menenangkan ku.


Aku beranikan mengangkat kepalaku ke arahnya. Sudah tidak ku pedulikan riasan muka yang berantakan. Dia Kara, Shankara Leonard teman sekelasku yang selalu aku impikan bisa jadi pacarku.


"Ya ampun Lo kenapa, kok sampe nangis gini di pinggir jalan. Malu ih ayo berdiri." Katanya menatapku memasang muka melas


Aku berusaha menelan kesedihan ini. Menatap muka nya yang ganteng sudah cukup memperbaiki mood ku hari ini yang terlalu melelahkan.


"Udah yaaa. Ini mutiaranya punya Lo?" Tanyanya menatap banyak mutiara berjatuhan di tanah.


"Mati deh gue kalo sampe dia tau ini air mata. Gua. Duuuh gimana dooong." Batinku bingung.


Tanpa di suruh kara malah mengumpulkan mutiara yang sudah lumayan banyak itu dari tanah.


"Nih gua kumpulin yaaa. Lu jangan nangis di jalan gini Weh di kira orang gila nanti." Katanya sambil memungut mutiara.


Aku tersenyum seperti orang bodoh. Sedikit tertawa melihatnya yang jongkok di depanku mengumpulkan mutiara sambil terus bicara hal hal untuk menenangkan ku tapi aku mendadak tuli dan nggak bisa mendengarnya.


Yang aku mau tau sekarang bukan kata kata yang terus ia rapalkan. Tapi wajah tampannya yang fokus menatap ke Tanah sambil terus bicara.


"Del. Ini punya Lo kan? Jangan bengong." Katanya mengangkat segenggam mutiara di tangan kanannya.


"Eh ia." Jawabku gagap.


"Lu ngapain bawa mutiara banyak gini ke kampus? " Tanyanya sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Eh itu... Eeeem apa namanya.. eeeem" aku gagap


"Lagian kenapa lu nangis di pinggir jalan gini. Nggak malu apa." Tanyanya lagi dengan wajah cengo tapi tetap tampan.


"Coco jawab... Lu harus jawab. Tapi nggak tau mau jawab apaaaaa..." Batinku bingung.


"Eem. Anu itu apaaah.... Kalung nah iaaa Kalung kesayangan gua putus. Makanya pada jatuh gini mutiaranya. Ia, kalung gua putus." Kataku sekali lagi meyakinkan Shankara dan diriku sendiri.


"Oooh ya udah nih kan udh gua kumpulin sama itu di tangan lu juga kan. Cuma gini doang maah malu maluin kalo nangis. Jangan nangis lagi ya lo Del. Kok lu belum pulang?" Tanya kara menatapku.


"Dek." Panggil seseorang dari belakang ku.


Aku menengok kearah suara itu dan menemukan suara yang memanggil ku. Akhirnya kak Marcelino datang.


.


.


.


.

__ADS_1


To be continued


05 - 03 - 2020


__ADS_2