
" aku butuh kamu. Karna manusia adalah makhluk sosial yang memerlukan makhluk hidup lain untuk bertahan hidup "
-0-
Saat beberapa lama mereka melihat pemandangan dan berbincang. Tiba tiba ombak besar datang menerpa mereka....
Genggaman tangan Oki pada Cordelia semakin erat. Mereka tau cara mengatasi ombak besar ini. Dengan berenang menerjangnya.
Tapi seakan kekuatan mereka tidak sebanding dengan ombak itu. Mereka terseret ombak hingga masuk dalam palung laut yang dalam.
Cordelia POV
Aku memegang kepalaku. Rasanya nyeri, pandanganku sedikit buram.
Oki. Dimana dia.
Ku kerjapkan mataku beberapa kali dan menatap sekeliling. Dan pandanganku berhenti pada bagian atas laut.
Aku sudah jatuh. Ke dalam palung lautan dalam, tapi sinar matahari masih sedikit bisa masuk dari atas.
Badanku merasakan rasa dinginnya air lautan dalam yang tak pernah tersentuh cahaya matahari. Dan ku lihat sebercak warna merah pada aliran air laut dalam yang tenang.
"Gawat. Kalo aku berdarah gini bisa banyak predator yang datang." Kataku mengusap dahi yang terasa perih.
Aku menatap ke bawah. Dan aku sadari jika aku belum jatuh ke dasar Palung. Aku tersangkut di karang besar yang cukup menampung tubuhku.
"Oki!" Teriakku yang tak ada jawaban.
Aku memilih berenang sedikit ke arah bawah yang semakin gelap. Meneriaki Oki yang tak kunjung ku dapat jawabannya.
Aku frustasi, aku lelah. Dan ku putuskan untuk berenang naik ke atas. Karna aku tidak bisa melihat apapun lagi dibawah sana.
"Cordelia..." Aku mendengar sebuah teriakan dari bawah yang sangat gelap.
Jujur aku takut sangat takut. Aku hanya mematung di tempat ku. Menatap ke bawah seandainya ada tanda tanda dari Oki.
"Oki... Oki..." Teriakku berharap Oki bisa mendengarnya.
"Cordelia." Balas Oki yang masih bisa ku dengar berasal dari bawah.
"Oki, lo bisa denger gua!" Teriakku makin kuat.
"Cordelia!" Teriak Oki lagi.
Jujur aku nggak tau dia denger suara aku atau nggak. Palung ini memang sangat dalam, dan ada begitu banyak hal hal menakutkan yang sangat berbahaya di bawah sana.
Dan aku yakin Oki juga terluka sama sepertiku.
"Oki. Lo denger gua?" Teriak ku lagi. Yang jujur sebenarnya aku mulai Lelah.
__ADS_1
"Gua denger." Jawab Oki dari dasar laut.
Aku nggak berani masuk lebih dalam ke palung ini. Aku bisa tersesat karna nggak ada cahaya sama sekali dan aku sudah cukup lelah dengan semua kejadian ini.
"Ikutin suara gua kii..." Teriakku lagi.
"Gua bisa lihat cahaya..." Jawabnya yang bisa sedikit membuatku lega.
"Okiii..." Teriakku lagi.
Aku berteriak sampai akhirnya aku bisa melihat wajah Oki lagi muncul dari wilayah gelap itu.
"Oki." Kataku menggenggam tangannya sambil membantu dia naik ke karang tempat aku tersangkut tadi.
"Lo nggak papa Ki?" Tanyaku karna bajunya sudah berlumuran darah.
"Gua nggak papa kok." Jawab Oki dengan senyum nyerinya.
Aku tau dia hanya berbohong tentang keadaannya yang baik baik saja. Aku berterimakasih karna OKI masih bisa selamat dari palung yang mengerikan itu.
Sejujurnya kami memang di larang untuk mendekati Palung ini. Apalagi sampai memasukinya, aku yakin setelah ini aku akan di hukum oleh peraturan pemerintah.
"Cordelia. Ayo Kita pulang." Kata Oki tertatih. Dan mulai berenang naik sambil menggenggam tanganku.
Aku mulai berenang perlahan naik ke atas. Tapi kalung mutiara pemberian Oki tiba tiba lepas.
Terjatuh ke bawah. Sontak aku langsung melepas tangan Oki dan berenang ke bawah untuk mengambil kalungku.
Dan gelombang air yang membesar tiba tiba di sekitar ku. Sampai aku sadar saat Oki meneriaki aku.
"Delia, awas. Ada hiu." Teriak Oki yang malah berenang menjauh dariku. Dia segera berenang meninggalkanku yang sudah gemetar.
Ukuran hiu ini tidak seperti hiu biasanya. Ukuranya hampir 10 meter.
Aku tau yang di lakukan harus berenang pelan pelan tanpa menggangu hiu ini.
Tiba tiba hiu besar itu menampakkan taring taring besarnya padaku, aku gemetar, aku bingung harus apa.
Ku putuskan untuk berenang secara perlahan ke belakang. Aku harus berenang menjauh.
Tapi saat aku bergerak sedikit hiu itu langsung membuka mulutnya. Aku dengan cepat berenang ke bawah karang yang hancur karna gigitan hiu.
Aku segera berenang ke atas saat megalodon besar itu sibuk menghilangkan karang dari mulutnya
Saat aku berenang agak jauh megalodon itu tetap mengikutiku dengan cepat.
Aku yang yakin jika kekuatanku tidak secepat megalodon ini memilih menempelkan tubuh pada dinding Palung yang dingin.
Megalodon itu berenang ke atas. Sialnya kepalaku yang berdarah cukup membuat megalodon itu berbalik mencariku.
__ADS_1
Megalodon itu sudah ada tepat di depanku. Membuka mulutnya siap menggigit ku.
Ku pejamkan mataku takut, tapi tidak ada yang terjadi setelah beberapa waktu.
Aku tak tau dari mana asalnya pusaran air yang menyedotnya ke dalam palung lagi.
Saat itu kakak ku datang. Memeluk ku yang setengah sadar. Dan aku tak tau apa yang terjadi selanjutnya.
_flashback off_
00
Author POV
Setelah sampai di rumah, Cordelia langsung masuk ke kamarnya. Dia masih kesal dengan sang kakak yang terus mengungkit masa lalunya.
"Loh kok kamar aku berantakan?" Cordelia menatap selimut yang sudah ada di bawah kasur.
"Kerjaan kak gigi niiih pasti." Cordelia mengambil selimut di lantai dan melipatnya.
Lalu terdengar pintu kamar mandi terbuka.
"Eh ada yang punya kamar." Ucap Gianira yang langsung naik ke atas kasur.
Cordelia yang sedang dalam mood buruk langsung mengganti baju dan masuk ke kamar mandi.
"Lo kenapa?" Tanya Gianira bingung melihat sang adik yang biasanya cerewet mendadak jadi pendiam.
"Coco, uy." Gianira mencolek pipi sang adik yang sudah berbaring di sebelahnya.
"Lo marah karna kamar Lo gua acak acak ya?" Tanya Gianira dengan hati hati.
Cordelia hanya menatap sebentar kakaknya dan pindah posisi memunggungi sang kakak.
"Atau masalah cowo ya? Lo mah jangan kesel gitu dong. Mending kita nonton Drakor aja yuk sekalian menghasilkan uang. Bentar lagi pacar kakak ulang tahun niiih. Deeek bantuin dapet uang ya." Gianira duduk di atas kasur dan menggoyang goyangkan bahu sang adik.
"Aku siapin cemilan dulu yaaa, sama ambil laptop dan wadah untuk mutiara. Deeek yaaa. Ih kok diem aja siiih." Gianira menatap punggung adiknya kesal.
"Karna kamu diem aja jadi aku anggap kamu setuju yaaaa." Gianira menuruni kasur dan keluar kamar.
Menuju kamarnya untuk mengambil laptop dan pergi ke dapur untuk mengambil cemilan dan tak lupa Nori kesukaan sang adik.
.
.
.
To be continue
__ADS_1
27 Maret 2020