
" sister's know you well, care about you and love you without reason. "
Karna keluarga adalah alasan kamu masih ada di dunia ini.
-0-
Author POV
Di dapur
"Hei Celo. Kenapa Lo bengong?" Tanya Gianira kurang ajar sambil menyenggol sang kakak.
"Eh adek nggak ada akhlak, manggil kakaknya yang bener kek. Main panggil nama nggak pake embel embel kak atau Abang gitu." Omel Marcelino kesal.
"Yang bangke Lo, UPS... Sorry sorry kan kalo 'C' di baca 'K' " jawab Gianira sambil tertawa terbahak bahak.
"Eh adek kurang ajar." Marcelino berdiri dari duduknya dan menjitak Gianira gemas.
"Gilaaaa sakit woooy." Perotes Gianira pada sang kakak.
"Kan kan, ngelunjak lagi kakaknya di bilang gila." Sekarang giliran pipi sang adik yang jadi sasaran.
"Ampun kak ampun." Kata Gianira memegang kedua pipinya yang kena cubit.
"Sakit tauuuu." Gianira mengusap pipinya sayang.
"Sini biar kakak bawain ke kamar makanannya" Marcelino mengambil camilan yang terjatuh di bawah dan membawanya.
"Kak minumnya belooom." Teriak Gianira pada kakaknya yang dengan senang hati membawakan barang barangnya ke kamar sang adik.
"Eh kamar kamu kelewat." Kata Marcelino di belakang Gianira.
"Kan mau nobar sama Coco di kamarnya nggak di kamar aku." Jawab Gianira santai.
"Gi..." Panggil Marcelino yang berhenti berjalan.
Marcelino tampak memikirkan perbuatannya tadi siang yang menyebabkan sang adik Cordelia diam sepanjang jalan menuju rumah.
"Kenapa?" Tanya Gianira yang ikut ikutan berhenti juga.
"Bikin Coco lupa sama masa lalunya gimana ya? Tadi dia ketemu sama Oki." Marcelino menatap mata Gianira serius.
"Atau setidaknya buat dia seneng deh hari ini. Aku nggak bisa ketemu coco dulu deh. Nanti dia makin kesel." Lanjut Marcelino yang kini menampakkan muka sedihnya.
__ADS_1
Gianira mendekati kakaknya. Menepuk bahu sang kakak yang pastinya penuh dengan beban berat anak pertama yang harus bertanggung jawab atas adik adiknya.
"Girl's time Will fix everything. Tenang, nanti aku yang bilang sama Coco kalo kakak nggak maksud bikin dia inget masa lalu lagi." Dengan wajah meyakinkan Gianira.
"Dah kak Lo nggak pantes sedih sedih gini. Najis liatnya." Ucap Gianira memecah suasana.
Marcelino memang tipe orang yang suka di hormati oleh adik adiknya. Jadi dia akan sangat kesal jika Gianira memanggil namanya saja tanpa kata kakak atau Abang di belakang.
"Mulai nggak sopan lagi ya Gi." Peringatan sang kakak.
"Dah ya kita mau marathon Drakor dulu. Sini makanannya. Makasih Abang sudah bawain makanan dan minuman. Nanti tipnya pake ojolpay yaaaa..." Gianira segera mengambil cemilan nya dari sang kakak dan lari masuk ke kamar Cordelia.
Marcelino memang tipe yang mudah tersulut emosi. Dengan kesal akhirnya dia memilih pergi dari depan kamar adiknya.
-0-
Di kamar Cordelia
"Kak gigi kok lama banget sih?" Ucap Cordelia yang masih sibuk menulis nulis sesuatu di bukunya.
"Maap maap. Nih" Gianira memberikan Nori untuk Cordelia yang di sambut senyum lebar.
"Waaaaah. Nori, saya suka saya sukaaa. Thank you kakak." Cordelia membuka kemasan Nori sambil melihat sang kakak sibuk menyusun posisi laptop di kasur.
"Tau gak?" Kata kata penuh sihir yang membuat seluruh manusia kepo pun keluar dari mulut Cordelia. Kata kata yang selalu menjadi awal gunjing, ghibah yang seru.
"Kenapa kenapa?" Gianira mendekat ke arah adiknya menunggu kelanjutan ceritanya.
"Tadi aku ketemu Oki. aku juga bingung sama diri aku sendiri kak, kenapa ya. Setiap ketemu dia aku selalu aja kaya yang tiba tiba ketakutan. Kaya seakan akan tu memori aku yang dulu muncul semua." Jelas Cordelia panjang sambil menahan tangis.
"Apa aku masih belum sembuh ya kak. Kenapa ya aku nggak bisa ketemu dia."
Gianira memeluk adiknya sayang sambil menepuk nepuk punggung sang adik menenangkan.
"Aku takut kaaak." Dan tangis itupun pecah.
"Sayang, Coco sayang ada kak gigi sama kak Celo kok yang selalu ada buat kamu. Nggak papa keluarin aja unek uneknya yaa biar lega." Dan tangis Cordelia pecah dalam pelukan sang kakak.
"Aku takut... Hiks hiks..." Gianira masih mengelus punggung sang adik agar segera mereda.
"Udah nangisnya?" Cordelia melepas pelukan sang kakak dan mengelap pipinya yang sedikit basah.
"Aku kesel banget sama kak Celo." Jawab Cordelia keluar dari pertanyaan Gianira.
__ADS_1
"Kenapa emang dia? Lama jemput nya? Emang dia tu kebiasaan deh lama jemputnya, harus banget kita aduin ke papa." Bela Gianira semangat.
"Bukan cuma itu kak. Kakak tau kan Kara, cowo yang aku suka itu. Ih parah banget. Dia kan udh tolong aku eh di tonjok coba sama kak Celo. Parah banget emang dia tu." Cerita Cordelia panjang dan berlanjutlah kisah yang menimpa nya tadi di pinggir jalan.
"Tapi kakak jangan bilang mama kalo aku nangis di tempat umum ya." Selesai menceritakan kisah perkelahian sang kakak, Cordelia pun ingat jika ini rahasia.
"Promise deh." Balas Gianira dengan kelingking terangkat dan di balas penuh semangat dengan Cordelia.
"Ya udh kan sekarang kamu udah nggak sedih lagi kaaan. Jadi, kita nonton Drakor but sebelum nonton. Kita harus kumpulin mutiara kamu yang memenuhi kasur kita. Aku nggak mau sakit badan cuma karna tidur di atas mutiara." Gianira berdiri dan mulai mengumpulkan mutiara.
"Kak, menurut kakak kara orangnya gimana?" Tanya Cordelia masih dengan kegiatan memungut mutiara.
"Care sih kayanya dari cerita kamu pas dia ikutan ambilin mutiara dan nenangin kamu." Jawab Gianira.
Cordelia yang mendengar jawaban sang kakak tiba tiba berhenti mengambil mutiara dan tiba tiba tersenyum dan hampir tertawa sendiri.
"Dasar korban cinta. Jadi gila deh adek gue..." Gianira menepuk jidatnya bingung melihat tingkah sang adik yang di mabuk cinta.
"Kak, pacaran tuh gimana sih rasanya?" Tiba tiba Cordelia menanyakan hal yang menurut Gianira aneh untuk gadis berusia 20 tahun ini.
"Kakak cuma bilang kara baik yaaa. Doesn't mean kamu boleh pacaran sama dia. Inget kamu dari mana dia hidup dimana." Nasihat sang kakak yang langsung membuat Cordelia lesu dan terduduk di kasurnya.
"Patah hati deh aku." Katanya dan menatap kosong pada lantai di kamarnya.
"Nanti kakak cariin pacar yaa, sabar. Kakak juga pernah kok suka sama makhluk darat. Tapi cuma sebentar sih. Mendingan jangan terlalu Deket deh sama kara, kakak takut juga jadinya." Lagi lagi Gianira memberi petuah pada adiknya.
"Dulu aku sama Oki udah sedeket itu. Tapi cuma karna dia takut mati dia ninggalin aku." Cordelia menghela nafas berat.
"Aku nggak percaya lagi sama cinta dari makhluk laut kecuali kalian sejak kejadian itu." Cordelia menatap sang kakak sayu.
"Kamu harus berdamai sama diri kamu sendiri dek." Gianira mengusap kepala sang adik sayang.
.
.
.
To be continue
28 Maret 2020
Jangan lupa vote dan komen.
__ADS_1
Lup youuu...