Cinta Terlarang Duyung

Cinta Terlarang Duyung
Pearl necklace


__ADS_3

" you'll never know if you not try it "


-0-


"Dek." Panggil seseorang dari belakang ku.


Aku menengok kearah suara itu dan menemukan suara yang memanggil ku. Akhirnya kak Marcelino datang.


"Kamu kenapa." Katanya panik dan segera menghampiri ku yang masih jongkok di pinggir jalan.


"Kamu abis nangis? Gara gara dia ya?"


Belum sempat aku menjawab kak Celo sudah mendaratkan pukulan ke Kara.


"Oh God... habis lah gue." Batinku


"Kakaaaaak. Stop stop." Teriakku bangun dan menghadang kak Celo yang akan meninju kara lagi.


"Dia yang buat kamu nangis kan? Kenapa kamu stok kakak dek. Sini biar kakak hajar dia." Ucap kak Celo menggebu-gebu.


"Kakak tenang dulu yaaaa. Coco nangis karna kakak lama banget jemputnya. Coco kepanasan dan jadinya nangis di jalan." Kataku ngos ngosan karna harus menjelaskan.


"Jadi dia nggak apa apain kamu?" Tanyanya masih sedikit membentak.


"Nggak sama sekali nggak." Kataku penuh penekanan.


"Sorry bro. Lu tau kan gimana rasanya jadi laki laki yang orang tersayangnya di sakitin. Lu juga pasti bakal marah kok." Kak Celo dengan tak tau malu menyodorkan tangannya untuk bersalaman disaat kara masih memegangi ujung bibirnya yang berdarah.


"Kara Lo ikut kita aja ya sebagai ucapan maaf dari gua dan kakak gua yang salah paham ini. Maafin kakak gua yaa.." kataku takut takut menatapnya.


"Gua nggak papa kok Del. It's ok bro, lo cuma salah paham aja kan. Btw thanks Del, gua nggak papa kok bisa balik sendiri. Lagian cuma luka dikit doang."


Lalu kak Celo dan kara malah berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri.


"Ini Del mutiaranya. Gua duluan ya." Kara dengan fasihnya menggenggam tangan ku dan mengembalikan mutiara dari tangannya ke tanganku.


"Maaf sekali lagi ya kara. Makasih udah bantu gua kumpulin mutiaranya." Kataku yang di sambut senyum manis kara lalu pergi.


"Thanks bro udah bantuin Cordelia." Kata kak Celo.


Saat kara sudah sedikit jauh. Marcelino menatap garang adiknya.


"Ayo ke mobil sekarang Kaka mau denger penjelasan kamu. Tentang kenapa kamu nangis dan kenapa dia juga pegang mutiara kamu." Kak Celo menatapku dingin haus penjelasan.


"Aku belum selesai marahnya ke kakak ya. Yang udah sembarangan mukul orang kaya tadi." Jawabku nggak kalah ngotot.

__ADS_1


-0-


Author POV


Di mobil


"Coba ceritain gimana kejadiannya." Marcelino memulai pembicaraan dengan adiknya.


Setelah menjelaskan panjang lebar kejadian tadi.


"Gitu ceritanya, terus kakak tiba tiba Dateng pukul kara. Kakak tau nggak aku tu udah suka kara dari semester 1. Dan sekarang kakak pukul dia. Oh God I'm sure dia nggak akan lagi mau ngobrol ataupun berurusan sama aku. Kakak tu nyebelin tau nggak." Omel Cordelia pada sang kakak.


"Jadi dia kira mutiara mutiara itu dari kalung kamu yang putus? Kamu serius kan dia nggak tau kalo mutiara itu berasal dari air mata kamu?" Tanya balik sang kakak.


"Bisa di pastikan 100% kalo kara cuma kira itu kalung mutiara aku yang putus. Nggak mungkin juga kalo dia percaya itu dari air mata aku." Jawabku memastikan.


"Kamu tau kan kalo kita dilarang nangis di tempat umum. Kamu bisa di hukum loh karna nangis."


"Selama kakak nggak aduin aku ke mama. Nggak akan ada yang tau kan. Please ya kak jangan kasi tau Mama... Kakak tau kan aku masih takut banget ketemu Oki." Cordelia memohon pada kakaknya.


"Promise me nggak bakal di ulangin lagi ya nangis sembarangan kaya gitu." Marcelino mengangkat jari kelingking kirinya.


"Promise deh kak." Sambut Cordelia terpaksa.


"Lagian kamu harus berani dong ketemu sama Oki. Lagian itu kejadian nya udh beberapa tahun yang lalu loh." Nasehat sang kakak.


"Tapi kan kita harus melangkah ke yang lebih baik lagi. Dan kamu harus be...."


"Stop stop" cordelia tida tiba memotong pembicaraan sang kakak.


"Kakak nggak tau kan gimana rasanya ada di posisi aku waktu itu. Kakak nggak ngerasain. Dan nggak akan pernah. Jadi jangan bahas masalah itu lagi." Cordelia berusaha mengatur nafas dan emosinya. Dia ingin marah tapi juga ingin menangis jika mengingat kejadian itu.


_flashback on_


Beberapa tahun lalu tepatnya saat Cordelia masih berusia 17 tahun.


Saat itu adalah perayaan ulang tahun Cordelia. Setiap ulang tahun seekor duyung harus di habiskan di dalam air. Untuk mengetahui apakah mereka benar benar bisa bertumbuh besar atau tidak.


Semua keluarga Cordelia Ada di laut. Membuat kue dari rumpukan rumput laut yang di susun dengan indah. Menyiapkan kudapan kudapan enak dan menghias rumah.


"Delia selamat ulang tahun." Oki menyalami tangan Cordelia. Lalu membisikkan sesuatu. Lalu mengedipkan sebelah matanya pada Cordelia.


"Siap." Jawab Cordelia juga mengedipkan sebelah matanya pada Oki.


Setelah acara ulang tahun Cordelia selesai. Dia pergi menemui Oki di tempat mereka biasa bertemu jika di laut.

__ADS_1


"Sekarang gua tutup yaa mata lu pake kain. Jadi pegang tangan gua erat erat kalo Lo nggak mau hilang." Jelas Oki sambil menutup mata Cordelia dengan penutup mata.


"Ini surprise. Jadiii percaya aja ya sama gua." Tambah Oki.


"Lu jangan macem macem ya." Ancam Cordelia pada Oki.


"Siaaap." Katanya dan membawa cordelia menuju suatu tempat.


Setelah sampai di tepi palung yang dalam. Oki membuka penutup mata Cordelia Dan mengeluarkan sebuah kado untuk Cordelia.


"Ini untuk mu." Oki memberikan hadiah yang terbungkus dengan kayu.


"Makasih." Cordelia membuka kotak pemberian Oki Dan di dalamnya terdapat kalung mutiara yang berkilau indah.


"Waaaw. Ini keren banget Ki." Kata Cordelia terkesima menatap kalung hadiah dari Oki.


"Kamu suka?" Tanya Oki yang hanya di sambut dengan anggukan dari Cordelia.


"Pemandangan disini juga keren banget kan?" Tanya OKI yang lagi lagi hanya di jawab anggukan dari Cordelia.


Cordelia cukup tersipu dan tersentuh dengan kado ulang tahun ke 17 nya yang sangat indah.


Pemandangan bawah laut yang indah makin sempurna dengan pantulan dari sinar matahari yang hanya mengintip sedikit di balik air laut.


Gelombang yang tenang, suhu air yang sedikit hangat. Membuat semua perpaduan ini semakin indah.


Ikan ikan lucu berenang di permukaan palung yang sangat indah.



"Biar gua pakein kalungnya." Tanya Oki.


"Boleh" Oki memakaikan kalung mutiara itu di leher Cordelia.


"Makasih banyak ya Ki." Cordelia tersenyum senang sambil memegang kalung mutiara itu.


"Yuk kita jalan jalan di sekitar sini. Pasti bagus pemandangannya." Ucap Oki yang memberi tangannya untuk jadi pegangan bagi Cordelia.


Saat beberapa lama mereka melihat pemandangan dan berbincang. Tiba tiba ombak besar datang menerpa mereka....


.


.


.

__ADS_1


To be continued


05 - 03 - 2020


__ADS_2