Cinta Terlarang Duyung

Cinta Terlarang Duyung
Di tembak


__ADS_3

Sean POV


Setiap hari yang ada di kepalaku hanya Cordelia, setiap menit, setiap detik. Hidupku selalu di penuhi dengan senyumnya. Aku ingin sekali rasanya memiliki Cordelia dalam hatiku.


Sudah 2 tahun sejak aku menemukannya menangis di jalanan karena Shankara. Aku yakin kini hatinya sudah di benahi.


Apakah ini waktu yang pas untuk memintanya menjalani ke jenjang yang lebih serius?


00


"Sean." Cordelia berlari kecil mendekatiku. Aku ikut tersenyum melihat senyum lebar yang terlukis indah di bibirnya.


"Kenapa Del?" Tanyaku padanya yang sekarang sedang memakai toga.


Ya, hari ini dia resmi lulus dari kampus. Hari yang membahagiakan dan menyenangkan.


"Kita belom foto bareng. Kamu kan support sistem aku juga." Katanya menarikku agar mendekat dengannya dan meminta tolong kak gigi untuk memfoto kami.


Aku tersenyum menatap kamera karena aku bisa bersamanya di hari yang bahagia. Niatku hari ini ingin menjadikan Cordelia sebagai pacarku.


"I'm so happy Sen. Aku bisa pulang ke laut all the time." Ucap Cordelia senang.


"Kamu nggak mau ajak aku juga?" Tanyaku pada Cordelia.


"Sure, Kita bakal bareng bareng terus. Happy happy di pantai dan laut."


"Oh God senyum Cordelia yang sangat lebar itu membuatku terpaku. Aku yakin jika bisa meledak. Jantungku sudah meledak dengan keras." Batinku


"Sekarang kita nggak perlu khawatir lagi yakaan." Cordelia menggenggam kedua tanganku dan sedikit melompat senang.


"Iaa, sekarang kamu bisa all the time ngurusin mutiara dan rumah tangga kita nanti." Cordelia terkejut dengan kata kataku barusan. Dia mengerutkan dahinya dan menatapku.


"Maksudnya bisnis bisnis kita nanti. Yakaan, kalo dulu kan cuma aku yang handle. Sekarang ada kamu." Timpalku dengan sedikit tertawa.


"Tahan tahan, masih belum aman." Batinku lagi


00


Malam ini aku mengajak Cordelia makan malam di sebuah restoran mewah di dekat pantai. Ya, tempat favorit kita adalah pantai dan laut lepas.


Makanan sudah tersaji di atas meja. Kami makan dengan tenang tanpa berbicara apapun sampai makanan penutup mulutpun disajikan.


"Del. Sebenernya aku mau bilang sesuatu." Kataku pelan.


"Kenapa?" Tanya Cordelia berbisik sambil mendekatkan wajahnya ke arahku.

__ADS_1


"Sebenernya, selama ini aku sudah suka sama kamu. Dari jaman dulu banget, dari pertama kali aku pindah ke rumah pantai di sebelah kamu. Rasanya anak perempuan dengan rambut panjang hitam yang ceria itu udah mencuri hati aku dari lama. Aku tau kamu punya luka yang mungkin masih ada sampe sekarang. Tapi aku bakal berusaha. Jadi Del." Aku memberi jeda untuk memastikan Cordelia.


Terlihat raut wajah bingung dan juga sedikit kaget. Aku nggak yakin dia sedang memikirkan kalo aku bakal nembak dia.


"Del, mau nggak jadi pacar aku?" Aku memberikan setangkai bunga mawar merah.


"Kalau kamu terima aku, bisa ambil bunga ini. Atau ada sesuatu yang mau kamu bicarain dulu ke aku?" Tanyaku padanya yang masih terkejut sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Ini aku nggak lagi mimpi kan ya?" Tanya Cordelia padaku sambil sesekali menepuk pipinya sendiri.


Aku mencubit tangannya lumayan kuat. Dan Cordelia sedikit berteriak.


"Nah, sakit kan. Berarti ini nggak mimpi." Kataku pada Cordelia yang menatapku kesal.


"Bisa bisanya lagi nembak gini kamu malah cubit aku. Niat banget kayanya minta di tolak." Ucap Cordelia kesal.


"Lagian nanti kalo aku jawab. Ini bukan mimpi, kamu masih sadar. Pasti nanti kamu nanya lagi. Beneran kan ini, ah aku nggak percaya." Kataku mencoba menirukan gaya bicara Cordelia.


"Ish kesel bangeeet." Cordelia balik mencubit tanganku lumayan kuat.


"Nah enak kan di cubit gitu." Ucap Cordelia.


"Ia ia, maaf. Terus jadinya ini kamu terima atau nggak?" Tanyaku padanya nggak bisa bersabar lagi.


"Ya aku sih sebenernya mau mau aja. Tapi, kamu tau aku bukan manusia kan." Cordelia menatapku misterius.


"Masalahnya ada legenda yang bilang kalo manusia sama duyung itu nggak akan pernah bisa bersatu. Dan papa mamaku itu menentang banget hubungan manusia dan duyung." Jelas Cordelia dengan ekspresi kecewa.


"Kita coba dulu aja jalanin satu bulan ini gimana? Kalo memang papa mama mu nggak kasih izin. Kita balik ke keadaan sebelumnya aja. Kalo memang kasih izin, kita gas." Aku berusaha meyakinkan Cordelia agar Setuju denganku.


"Ah apa boleh kaya gitu ya?" Tanya Cordelia, sambil menyandarkan bahunya ke kursi.


"Ya boleh lah pasti. Kita jalanin dulu hubungan kita selayaknya orang pacaran selama sebulan. Kalo memang kita cocok, aku bakal bilang ke papa mama kamu kalo kita pacaran." Jelasku masih berusaha meyakinkan Cordelia.


"Del, Apa yang kamu pikirin sekarang?" Tanyaku pada Cordelia yang menatap aku bingung.


"Apa kalo kita bakal pisah nanti, kamu sama aku nggak akan bisa gini lagi? Seandainya kita putus. Apa masih bisa kita kaya gini lagi?" Cordelia hampir menangis mengatakan itu padaku.


"Nooo, it will never happen. Apapun yang terjadi, seandainya papa mama kamu nggak kasih restu sekalipun. Aku bakal tetep kaya gini, Sean yang selalu ada buat Cordelia, sahabat kecil Cordelia. Karena aku bener bener cinta sama kamu Del." Cordelia meneteskan air matanya.


"Please please jangan nangis." Sean menangkap butiran air mata yang terjatuh dari pipi Cordelia.


"Ok, kalo kamu beneran bisa nggak benci aku ataupun berubah apapun yang terjadi, aku mau jadi pacar kamu. I love you too Sean." Cordelia tersenyum namun air matanya masih menetes.


"Hey remember not to cry in public." Kataku mengingatkan Cordelia.

__ADS_1


"Baru pacaran belum ada satu detik kamu udah ngeselin." Cordelia melempar tisu ke arahku.


"Hahahahah, I love you so much. Makanya aku nggak mau sesuatu terjadi. Apalagi kalau kamu sampe di samperin dan di culik orang." Kataku mengelus kepalanya sayang.


"Gila akhirnya aku bisa bilang sayang ke Cordelia tanpa ragu lagi." Batinku senang.


"Heeem, mulai deh senyum senyum sendiri." Ucap Cordelia yang membuatku tersenyum lebar padanya.


"Karena kebahagiaan aku ada di depan mata. Jadi aku bisa dengan bebas tersenyum kan." Ucap ku senang.


"Ia aja deh suka suka kamu." Kami tertawa bersama sama.


00


Mobilku berhenti di depan rumah Cordelia. Aku menatapnya yang menatap ke arah jalanan dengan pandangan kosong.


"Del." Aku menepuk bahu Cordelia yang langsung terkejut.


"Kenapa?" Katanya padaku.


"Kita udah sampe rumahmu." Kataku menyadarkannya.


Cordelia menganggukan kepalanya paham.


"Makasih banyak untuk hari ini ya. Mulai sekarang kamu pacar aku." Kataku padanya yang malah blushing.


"Jadi ini rasanya punya pacar." Ucap Cordelia pelan.


"Ia, sayangku. Nanti langsung mandi, bersih bersih terus tidur yaa." Kataku mengelus kepalanya lagi.


Cordelia hanya mengangguk sambil malu malu dan keluar dari mobil.


"Makasih ya sean. See you next time." Katanya sambil melambaikan tangan padaku. Tampak jelas senyum lebar milik Cordelia yang di tunjukan olehnya padaku.


.


.


.


.


.


TBC...

__ADS_1


24.07.2021


Nadiapuma...


__ADS_2