
Author POV
Suara tangisan terdengar memenuhi mobil seseorang yang terparkir di depan toko kue.
"Del, I bought some cake for you." Ucap Sean yang baru masuk ke mobil.
Hanya suara sesenggukan saja yang menjadi jawaban dari Cordelia yang masih menangis.
"Lo butuh banyak energi buat nangis, minum dulu deh. Gue takut Lo pingsan." Sean mengusap rambut Cordelia dengan sayang.
Yang di ajak bicara masih terus menangis tanpa memperdulikan sekitar. Persetan dengan semua air mata yang akan berubah jadi mutiara. Hatinya terlalu sakit untuk terus bertahan.
"Kita disini dulu sampe kamu tenang ya." Sean menepuk pundak Cordelia sayang.
Dirinya ingin sekali memeluk Cordelia Dan menenangkannya. Tapi dia ingat kalau hubungan mereka bahkan tidak terlalu baik.
00
Tok.. tok.. tok...
"Coco, makan yuuk. Kakak bikinin makanan kesukaan kamu. Udah dari kemaren kamu belom makan." Gigi mengetuk pintu kamar sang adik untuk yang kesekian kalinya.
"Kakak makan duluan aja. Coco mau tidur." Balas pemilik kamar itu dengan suara serak.
"Kalo nangis terus nanti kamu jadi kaya mendadak. Kakak nggak mau kalah saing." Ucap Gigi.
"Kakak masuk yaa." Tanpa menunggu jawaban dari pemilik kamar, gigi membuka pintu dan masuk.
Pemandangan kamar yang gelap, dengan banyak mutiara berserakan di ranjang dan lantai membuktikan kalau Cordelia sudah menangis sangat deras.
Gigi memeluknya erat, Berusaha menenangkan adiknya yang masih menangis sesenggukan.
"Udah co, kalo kamu terpuruk gini nanti dia makin seneng. Dia ngerasa hebat karena udah nyakitin kamu. Udah ya, jangan nangis lagi. Nanti kita tenggelam di tumpukan mutiara kalo kamu nangis terus gini." Cordelia mulai mengatur nafasnya agar bisa tenang.
"Kaaak, aku tau kalo aku sama kara tuh nggak pacaran. Bukan siapa siapa. Tapi kenapa dia nggak pernah bilang kalo dia mau tunangan." Cordelia akhirnya mencurahkan isi hatinya pada sang kakak.
"Kenapa dia perlakuin aku seakan akan aku ini spesial buat dia. Kenapa dia kasih aku banyak barang barang. Kenapa dia peduli aku. Huwaaa, kenapa cowo itu selalu pergi pas lagi sayang sayangnya. Kenapa harus akuu." Gigi hanya bisa mengusap rambut adiknya. Dirinya juga emosi dengan kara, tapi untuk saat ini coco lebih penting.
"Nggak papa, ngga papa yaaa. Kakak disini sama Coco." Gigi juga ingin ikut menangis. Tapi dia harus menguatkan adiknya.
"Apapun yang terjadi, aku sama kak Celo, bakal selalu ada buat Coco ya.. sesakit apapun itu, kamu harus tetap bertahan ok. Life must go on sayang. Kita kuat kita bisa yaaaa." Gigi tak berhenti merapalkan kata kata penyemangat untuk adiknya.
Semua memang terasa berat, tapi itu pasti akan terlewat.
00
Cordelia pov
Kejadian di ulang tahun Shankara menyadarkan aku, kalau semua nya nggak akan berjalan sesuai rencana. Kalau Shankara selama ini bukan milikku.
__ADS_1
Bukan mudah bagiku berhenti menghubungi, menangisi dan mencari Shankara. Tapi dia nggak pernah datang bahkan hanya untuk menjelaskan yang terjadi di hari ulang tahunnya .
Sekarang teman ku hanya Sean, Almira, kak gigi, dan papa mamaku. Yang selalu ada untukku di saat sedih maupun senang. Sudah cukup cinta cintaan yang membuat patah hati itu.
Mari kita jalani hidup dengan berbuat baik.
00
"Kalo di hitung hitung kamu nangis kemaren hasilnya banyak juga ya. Perlu di coba kayanya patah hati biar kita jadi kaya raya." Ucap kak gigi sambil menghitung total penjualan mutiara milikku.
"Uang sebanyak ini mau di apain?" Kak gigi menunjukkan layar ponselnya padaku.
"Itu buat modal bikin rumah baru di pantai. Ahahahahahah." Kataku asal.
"Coco, di bawah ada Sean." Tiba tiba mamaku masuk ke kamar.
"Temuin dulu gih." Aku beranjak dari kasur dan mengikuti mama.
00
"Ayo maen." Ucap Sean santai padaku.
"Gila." Jawabku kesal.
"Loh kenapa gila? Kan kemaren kamu bilang mau ke laut." Sean duduk di kursi tamu dan menatapku bingung.
"Ya udah gas aja kita. Jangan ragu ragu." Aku hanya berdecak kesal dan masuk untuk menyiapkan baju juga berpamitan dengan mama.
00
Aku menatap jendela mobil yang sudah menampakan lautan luas yang biru.
"It's been 3 Months Kan yaaa. Kamu udah baik baik aja kan sekarang?" Cicit Sean.
"Jelas dooong. Everything must go on. Aku harus bisa move on. Terimakasih pada Sean dan semua orang yang baik hati membantu aku melupakan kara dengan cepat." Kataku sambil menarik nafas lega.
"Now I can see your smile clearly yaaah. Beda banget sama Minggu lalu. Senyumnya masih terpaksa, semua terpaksa." Sean tersenyum lebar setelah melirikku.
"Halah gombal. Fokus aja menyetiiir keburu sore nanti kita nggak sampe sampe." Kataku memukul bahunya.
Sean yang baru saja aku pukul malah tertawa.
00
Suasana pantai yang sangat tenang ini membuatku rileks. Beberapa kali aku menengok ke arah Sean yang berbaring di atas Hammock sambil memejamkan matanya.
Aku nggak tau apa yang akan terjadi sama aku kalo waktu itu Sean nggak ada. Mungkin sekarang aku udah jadi tontonan manusia, atau malah jadi penelitian karena air mataku mutiara. Untuk kesekian kalinya, Sean tau wujud asliku. Untuk kesekian kalinya, Sean menyelamatkan aku.
00
__ADS_1
Aku membuka mata saat seseorang mengayun Hammock ku dengan kencang. Terasa seperti gempa dan membuatku takut jatuh.
"Tolong..." Teriakku setelah membuka mata, Sean sudah mengayun ayun ku dengan kuat.
"Berhenti nggak. Weeh." Kataku kesal.
Karena nggak kunjung berhenti aku menggunakan kekuatan menguasai air untuk menyiram Sean agar berhenti.
"Deel. Tega banget Lo ya, jadi basah gini baju gue. Mana udan gelap gini, dingin." Sean menghentikan Hammockku.
"Nah makanya jangan nakal." Aku mencoba duduk tapi kepalaku pusing seperti orang habis berputar putar.
"Loh loh. Kok oleng." Aku berteriak saja.
Brak...
Aku terjatuh dari Hammock karena Sean. Nggak sakit sih memang, karena jatuh di pasir yang lumayan empuk. Tapi aku kesal banget sama Sean karena menjatuhkan aku.
"Kurang ajaaar." Aku berdiri dan mengejarnya yang malah kabur setelah menjatuhkan aku.
"Sini kalo berani jangan kabuur." Kataku Masih berlari mengejar Sean.
"Yeeee, nggak kenaaa. Kamu nggak bakal bisa tangkep aku Del." Teriak Sean yang masih berlari agar nggak tertangkap.
Sean sudah berada bagian pasir yang basah. Aku yang masih ragu untuk mendekat menahannya agar nggak berlari ke daratan.
"Kamu udah nggak bisa kabur lagi. Sekarang tinggal masuk air aja." Ucapku kesal.
Beberapa kali kaki Sean di terjang ombak dan percikan air laut mengenaiku. Tapi aku punya ide, menunggu deburan ombak selanjutnya.
"Sean, hujan." Kataku menunjuk ke arah laut." Begitu Sean lengah aku mendorongnya kuat hingga masuk ke laut.
Aku tertawa karena Sean basah kuyup. Tapi Sean malah menciprati aku dengan air.
.
.
.
.
.
TBC...
23.07.2021
Nadiapuma.
__ADS_1