
Author POV
Sean dan Cordelia sudah sama sama mendapat restu dari kedua orang tuanya. Semua hal yang mereka lakukan seakan penuh dengan cinta dan kegembiraan.
"Del, Will you marry me?" Sean mengeluarkan cincin berlian untuk melamar Cordelia.
Seluruh tamu undangan bertepuk tangan dengan meriah. Hari ini adalah hari dimana Sean melamar Cordelia untuk menjadi kekasih seumur hidupnya.
00
Cordelia masih berdiri di depan etalase kaca yang menyimpan sebuah gaun cantik berwarna putih.
"Gila ya, sebentar lagi aku bakal pake gaun ini buat nikah sama Sean." Gumam cordelia sendirian.
Dirinya masih menatap tak percaya pada gaun itu. Senyuman muncul pada bibir Cordelia begitu melihat pantulan Sean yang berdiri di belakangnya.
"Gimana? Kamu suka kan gaunnya?" Tanya Sean pada Cordelia setelah mata mereka bertemu di pantulan kaca.
"Jelas Doong, ini bener bener gaun impian aku. Nanti di hari pernikahan kita. Aku yakin semuanya impian aku, pencapaian aku bakal jadi kenyataan. Life with you was a miracle." Cordelia merangkul Sean yang tersenyum sambil mengangguk.
"Semoga kita sama sama terus ya." Sean mengusap kepala Cordelia sayang.
00
Cordelia Dan Sean memutuskan untuk melaksanakan pernikahan mereka di pantai. Tempat pertama kali mereka bertemu dan mengenal satu sama lain.
"Nanti kalo kita nikah, bayangin deh punya rumah di pantai. Punya backyard yang banyak rumput nya. Nggak usah susah susah punya kolam renang lagi biar aku nggak kepanasan." Cordelia merangkul erat lengan Sean.
"Pasti seru banget kalo kita pelihara dogy, atau kelinci. Terus kita yang sama sama urusin. Nggak kerasa ya tinggal 2 Minggu lagi." Kini Sean menimpali. Mengusap kepala Cordelia dengan lembut.
"Aaah can't wait to be your wife." Cordelia sedikit melompat senang.
"Aaaah, hapily ever after." Bisik Sean di telinga Cordelia.
"Permisi pak, jadi ini nanti kursi dan meja pengunjung di letakkan di sebelah mana ya?" Seorang petugas dekorasi Bertanya pada Sean.
Mengetahui petugas wedding organizer yang sudah datang, Cordelia melepas rangkulan lengannya pada Sean dan menyapa bapak petugas tadi.
Sean menjawab petugas tadi dan menarik Cordelia agar mendekat ke arahnya.
Cordelia yang masih malu malu segan untuk menempel dengan Sean seperti Biasanya. Akhirnya dengan sedikit kuat, Sean menarik Cordelia ke dalam rangkulan nya.
Terlihat tawa tipis dari bapak petugas tadi sambil berusaha menjauhkan pandangannya dari Cordelia dan Sean. Pasangan yang sedang di mabuk cinta.
00
Tema dekorasi kali ini adalah outdoor dan juga nature. Kursi kursi besi yang di hias dengan bunga bunga, juga alas meja putih polos yang membuat suasana makin tenang.
__ADS_1
Suara deburan ombak dan beberapa alat musik saling melengkapi nada irama hingga terdengar merdu.
Beberapa tamu undangan sudah hadir pada pernikahan Cordelia Dan Sean yang di gelar dengan mewah.
Nampak jelas senyum bahagia Sabahat Cordelia yang sengaja datang dari dasar laut untuk melihat teman kesayangan mereka menikah. Berita pernikahan Cordelia memang tidak di tutup tutupi.
Meskipun menikah dengan manusia, semua sahabat Cordelia seakan merestui pilihannya. Tanpa mengetahui hal apa yang akan terjadi setelah pernikahan seekor duyung dan manusia.
"Cordelianya dimana kak?" Tanya OKI pada kak gigi.
"Coco ada di sana masih belum selesai di make up. Silahkan duduk dulu ya sambil menunggu acara di mulai. Mohon di nikmati jamuannya." Gigi membalas Ramah pada oki.
Oki berjalan menemui Cordelia. Setelah sampai di belakang Cordelia wanita dalam pantulan kaca itu terkejut.
"Aku tau kamu masih nggak nyaman sama aku Coco. Aku datang kesini bukan ingin menghancurkan hari bahagia kamu. Aku datang untuk memberi mu selamat." Cordelia sedikit terkejut dengan kedatangan oli di ruang riasnya.
"Makasih sudah mau datang ya Ki." Ucap Cordelia tanpa berpaling menatap wajah OKI. Mereka hanya menatap satu sama lain lewat pantulan kaca.
"Kamu tau menikah dengan manusia itu sangat beresiko. Tapi pilihan kamu ini keliatannya memberi kamu kebahagia banget hari ini. Tadinya aku mau kasih kamu bunga koral untuk mengingatkan kamu dengan laut. Tempat asalmu, Tapi aku bawa lagi saja bunga nya. Aku yakin pilihan kamu yang terbaik Coco." Oki memperbaiki hiasan kepala cordelia sedikit.
"Sini kasih ke aku aja. Aku berterimakasih banyak sama kamu Ki sampe bawa bawa kaya gini. Mungkin aku nggak akan bisa ketemu kamu di laut lagi. Aku bakal rawat bunga ini di rumahku. makasih banyak pernah jadi orang baik sekaligus jahat di hidup aku ." Ucap Cordelia Masih menatap pantulan kaca.
"Ini bunganya." Oki memberikan buket bunga koral itu pada cordelia. Di pegang nya dengan erat bunga itu dan menuju keluar untuk bertemu Sean.
Oki berjalan mengikuti di belakang Cordelia. Tangannya ingin membatu cordelia berjalan dengan sepatu tinggi seperti itu. Tapi sebagian hatinya menolak.
00
Cordelia berdiri sambil merangkul lengan sang papa. Tangan kanannya merangkul lengan papanya, lalu tangan kirinya merangkul buket bunga yang di berikan oleh OKI padanya.
Deburan ombak dan dentingan piano menjadi pengiring langkah kaki Cordelia menuju Sean. Perjalanan dari arah laut menuju ke darat, seakan menggambarkan kalau cordelia berasal dari laut.
"Papa jangan nerves." Bisik Cordelia pada papanya.
"Coco yang harunya jangan nerves. Pegang buketnya erat erat." Ucap sang papa yang membuat Cordelia bisa tersenyum.
Mereka sampai di altar pernikahan ini. Sean berdiri menatap Cordelia yang sekarang sedang berdiri di depannya. Cordelia masih malu menatap Sean.
Setelah orang yang menikahkan Cordelia Dan Sean siap. Sekarang giliran Cordelia Dan Sean yang mendapatkan pertanyaan apakah anda siapa melakukan pernikahan ini
Sean dengan lantang mengatakan saya siap bersamaan dengan Cordelia.
Mereka saling mengucapkan janji sehidup semati sebagai tanda jadinya mereka berdua sebagai suami istri.
Begitu selesai pembacaan sumpah satu sama lain. Kali ini saatnya Sean mencium mempelai perempuannya.
"Sekarang kamu istriku." Ucap Sean dan mencium bibir Cordelia sayang.
__ADS_1
Semua tamu undangan bertepuk tangan meriah dengan sangat antusias. Setelah ciuman itu Cordelia hanya berdiri dalam diam. Dirinya tak lagi menatap Sean yang ada di depannya.
Sekarang saatnya melemparkan bunga pada pasangan pasangan yang masih melajang.
"Sayang ini di pegang sama sama. Bunga koralnya di taro dulu ya" ucap Sean sabar.
Tak mendapat respon dari Cordelia, Sean mencoba mengambil buket bunga koral itu dari tangan Cordelia tapi seakan seperti kaku dan membatu. Cordelia menggenggam erat buket koral itu.
Semua orang panik karena Cordelia hanya menatap ke arah laut tanpa menatap kemanapun lagi.
Suara penyanyi dan biano tadi juga tak lagi terdengar. Cordelia sekarang malah berjalan menuju ke laut di temani suara deburan ombak yang membesar.
"Coco, kamu mau kemana? Coco?" Papa cordelia berusaha membatu Sean untuk menahan Cordelia agar tidak jalan menjauh.
"Del Del kamu bisa denger aku nggak?' Del?" Sudah berusaha semaksimal mungkin agar cordelia tidak bisa jalan menuju laut.
Cordelia seperti di kendalikan oleh orang lain tanpa disadari. Dirinya terus berjalan dan tidak ada yang bisa menghentikannya. Tatapan matanya kosong menatap ke laut.
Cordelia sampai di bagian pasir pantai yang berair. Disitulah Cordelia berhenti dan menatap ke arah laut.
Begitu ombak datang mengenai kakinya. Cordelia berubah menjadi buih dan menetes ke laut. Menyatu dengan buih buih ombak yang mulai kembali ke laut.
Kini suara tangisan penyesalan dari pikah keluarga Cordelia terdengar kuat. Ternyata benar jika kita nggak bisa melawan tuhan, tidak bisa melawan takdir. Mau sebesar apapun itu.
.
.
.
.
.
The end
Aku bikin cerita ini dengan sepenuh hati. Sudah setahun lebih kita menghadapi pandemi ini.
Karena pandemi aku bisa menulis lagi, karena pandemi aku bisa mengarang lagi.
Terimakasih untuk semuanya yang baik hati membaca dan menunggu cerita ini. Aku mohon maaf karena ceritanya Sampai disini saja. Karena jujur idenya sudah stuck. Pokoknya terimakasih sebanyak banyaknya pada semua pembaca yaaa...
dari 05.03.2020
sampai 08.08.2021
terimakasih yaaaa reader kuu. mari bertemu lagi di karya karya ku berikutnya.
__ADS_1