
Cordelia pov
"Kamu mau bawa aku kemana sih? Kok tiba tiba banget gini?" Tanyakan pada Shankara yang duduk di kursi kemudi.
"Kita bakal refreshing, aku udah lama banget nggak main mainan ke tempat itu." Balas Shankara yang membuatku makin penasaran.
"Memangnya kemana sih? Nggak mau kasih spoiler gitu?" Tanyaku penasaran.
"Noo, kamu bakal happy banget nanti." Shankara menatapku seakan meyakinkan aku kalau dirinya bisa membuatku senang
00
Kami masuk ke salah satu tempat yang menyediakan wahana wahana vr yang tidak nyata. Shankara membeli tiket dan membawaku ke wahana vr tentang peperangan.
"Aku nggak bisa perang gini gini. Nggak ada bakat." Kataku ada Shankara yang menatapku lucu.
"I will teach you... Sebelum pake vrnya, kita latihan pegang senjatanya dulu yaa. Pandangan fokus kedepan." Jelas Shankara yang ku angguki.
"Nah ini senjatanya pegang dengan semangat. Pake tenaga, jangan lemes nanti jatuh." Aku mengulurkan kedua tanganku untuk menerima senjata dari Shankara.
"Kok berat banget ternyata.!!" Kataku kaget karena hampir terjatuh.
"Ayo bisa bisa. Nah pegang nya kaya gitu udah bener. Sekarang tinggal cara angkat dan arahinnya" Shankara dengan santai berdiri di belakangku dan membantu aku mengangkat alat tembak yang berat itu.
Tangan kanannya di letakkan di atas tanganku, begitu juga tangan kiri yang memegang bagian kedua pegangan tembakan.
Secara tidak langsung kara sedang memelukku walau hanya ingin mengarahkan tembakan nya.
Kara menjelaskan beberapa kali sambil menggerakkan tubuhku dengan tangan kami yang menyatu. Tapi telingaku seperti di tutupi dengan sesuatu. Aku nggak bisa mendengar suaranya dengan jelas. Hanya degup jantungku saja yang memenuhi isi kepalaku.
Kepala Shankara tepat di sebelah kepalaku. Beberapa kali, aku berharap nggak ada orang yang mendengar detak jantung yang terlalu kuat ini.
Kara memanggil namaku beberapa kali, aku yang masih belum fokus malah diam saja.
"Hey kamu bisa atau nggak?" Kara mencubit pipi kananku pelan untuk menyadarkan aku yang seperti orang hilang.
"I... Iya aku bisa kok. Gini kan?" Aku mencoba mengarahkan senjata itu seperti yang di contohkan tadi.
"Nah mantab. Ayo kita main sekarang." Kara memakaikan vr dan headphone dengan lembut.
"Siap ya..." Begitulah permainan vr kami di mulai. Shankara melindungi aku setiap hampir tertembak lawan. Dan beberapa kali memberiku heal potion agar aku bisa tetap hidup.
00
__ADS_1
Hari ini kara mengajakku makan malam bersama. Bukannya membawaku ke restoran atau ke tempat makan. Kara malah memesan makanan cepat saji lewat Drive thru.
"Kita makan dimana kalo Drive thru gini?" Tanyaku pada kara yang bersantai karena mobil berhenti untuk mengantri.
"Aku mau bawa kamu ke tempat rahasia." Ucap kara tersenyum menatapku.
"Kalo rahasia, berarti aku nggak boleh tanya dong?" Ku naik turunkan alisku bertanya padanya.
"Yaps. Karena rahasia, jadi kamu ikut aja, sebaiknya pilih menu favorit kamu." Kara memamerkan senyum manisnya padaku.
"Karena tadi mainnya udah kamu yang bayar, sekarang makannya aku yang bayar." Shankara menatapku kaget.
"I know it's not first time kamu bilang kaya gitu. Tapi aku suka banget karena kamu care ke orang lain." Katanya sambil mengusap puncak kepalaku.
"It's call simbiosis mutualisme." Kataku dan kami tertawa bersama.
00
Sudah seperti kebiasaan baru untukku dan kara. Kami beli makanan Drive thru dan memakannya di tempat favorit kara. Tempat ini seperti gunung, tapi bukan.
Kami duduk di bawah pancaran sinar bintang yang terlihat jelas dari sini.
Terkadang strugel juga makan di tempat seperti ini. Ada drama makanan tumpah, cuci tangan pakai apa, atau malah makanan tertukar. Tapi ternyata sensasinya ada disitu.
00
Author pov
Suara orang orang yang menyanyikan lagu ulang tahun menyeruak ke seluruh ruangan. Dekorasi di tembok melengkapi kemeriahan malam ini
Cordelia datang dengan kado di dalam pelukannya. Dirinya sengaja datang sendiri dan memberikan kado itu pada orang yang berulang tahun.
"Happy birthday Kara. Wish all of your dreams come true." Cordelia mengajukan tangannya untuk berjabat tangan.
Namun Shankara tak bergeming, memalingkan wajah dan mentap ke arah perempuan lain di sebelahnya. Cordelia yang bingung memilih menarik tangannya lagi dan menjauh dari tempat Shankara berdiri. Di tatapnya seluruh penjuru yang kebanyakan di isi tamu perempuan, beberapa dari mereka tidak bisa di kenali. Mungkin kenalan Shankara.
"I'm not crazy for joining this party. Lebih baik pulang." Gumam Cordelia kesal sambil menghentakkan kaki beberapa kali.
Cordelia menatap dirinya di pantulan cermin. Dress biru laut panjang yang memang sengaja di siapkan untuk hadir ke ulang tahun Shankara membuatnya kesal.
"Kalau tau bakal begini jadinya lebih baik aku nggak datang. Tapi mungkin nanti temen temen aku yang lain bakal datang. Aku terlalu kesal." Cordelia keluar dari kamar mandi dan menuju tempat utama, dilihatnya Shankara yang memotong kue ulang tahunnya.
Beberapa orang yang di kenali oleh Cordelia akhirnya beberapa kali melintas di depan matanya.
__ADS_1
"Potongan kue ini akan aku kasih ke seseorang yang paling spesial buat aku." Ucap kara setelah memberikan kuenya untuk sang mama dan papa.
"Please please sebut nama gue. Sebut nama gue please." Cordelia terus merapalkan itu berulang.
"Gisele, makasih banyak udah dateng, jauh jauh dari luar negeri." Kara memberikan potongan kue itu dan mengecup dahi perempuan bernama Gisele itu.
Mengetahui itu rahang bawah Cordelia seakan jatuh jika tidak segera di sangga oleh tangan Cordelia.
"Gila, kara gila. Dia gila dia gila." Batin Cordelia.
"Sebenernyaa di acara ulang tahun ini gue juga mau kasi tau ke kalian. Kalo gue bakal tunangan sama Gisele, mohon doanya ya temen temen." Semua tamu yang hadir memberikan tepuk tangan meriah mendengar kabar bahagia itu.
Hanya Cordelia yang masih menatap Shankara tak percaya. Bahkan pesan Shankara yang memintanya hadir ke acara ulang tahunnya dengan kata kata manis masih tersimpan di ponselnya.
"Tahan tahan jangan nangis disini. Kita bisa rugi." Cordelia akhirnya berlari keluar tanpa peduli semua mata menatapnya.
00
Sampai di luar Cordelia bingung dan nggak tau harus berbuat apa. Air matanya juga sudah tak terbendung lagi. Akhirnya Cordelia berjongkok dan menangis sejadi jadinya.
Separuh hatinya masih berharap Shankara datang menenangkannya atau datang dengan memberikan penjelasan. Tapi dia tak merasakan pergerakan apapun.
"Kenapa sih harus pergi pas lagi sayang sayangnya? Kenapa harus melukai di depan mata." Teriak Cordelia sambil terus menangis.
Harusnya dia tidak menangis begitu saja di tempat umum. Tapi hatinya hancur.
"Del..." Suara itu terdengar seperti halusinasi di kepala Cordelia. Tapi tanpa ragu Cordelia menengadahkan kepalanya menatap seseorang yang memanggil namanya ...
.
.
.
.
.
TBC...
19.07.2021
Nadiapuma...
__ADS_1