Cinta Terlarang Duyung

Cinta Terlarang Duyung
Bracelet


__ADS_3

Pagi pagi sekali rumah keluarga dass meer sudah berisik dengan pertengkaran Celo dan Coco. Pusing seakan bukan lagi kata yang tepat untuk kedua orang tua mereka setiap mendengar pertengkaran mereka.


"Kamu itu di bilangin nggak bisa ya. Udah di bilang kakak Anter ya di Anter." Suara Celo sekarang sudah terdengar lebih tinggi dari sebelumnya.


"Nggak mau nggak mau. Pokoknya Coco nggak mau!! Coco mau di jemput sama Someone." Coco tak kalah ngotot sambil menghentakkan kaki kesal.


"Udah udah kalian udah setengah jam cuma cek Cok kaya gini. Udah gini aja ambil jalan tengahnya. Coco berangkat sama papa aja, jadi Celo tenang Coco sama papa dan Coco nggak usah berangkat bareng celo. Beres kan?" Ucap kepala keluarga ini Dylan dass meer.


"Kenapa kok malah diem?" Tanya mama penasaran karena mereka saling diam.


"Ya udah Coco setuju." Coco beranjak dari meja makan menuju kamarnya.


"Kamu kenapa masih disini? Nggak mau berangkat?" Tanya Dylan pada putra pertamanya.


"Ia pa, Celo berangkat." Setelah mengatakan itu Celo segera keluar rumah.


00


Di perjalanan menuju kampus tercinta Cordelia. Suasana di mobil itu terasa hening namun tidak dingin. Merasa tak nyaman, papa cordelia mencoba mengajak putrinya mengobrol.


"Coco, Kamu mau di jemput siapa sih memangnya? Sampe berantem gitu sama Celo." Tanya papa pada Cordelia yang hanya melirik sekilas papanya dan kembali menatap pemandangan luar lewat jendela.


"Biasalaaah pa." Jawab Cordelia malas.


"Sean?" Tebaknya.


"Bukan Sean, dia temen sekelas aku. Namanya shankara." Jelas Cordelia yang di anggukan papa.


"Manusia?" Tanya papa Dylan lagi.


"Ya manusia emangnya apa? Kucing." Cordelia sedikit kesal dengan pertanyaan sang papa.


"Ahahahahah, ya papa tanya karena kita kan bukan manusia. Kamu tau kan, kalo duyung kaya kita ini nggak bisa menikah sama manusia? Papa pernah baca nggak cuma kekuatan dan kemampuan jadi duyung saja yang hilang. Tapi bisa berubah jadi buih ombak." Jelas sang papa pada Cordelia yang hanya mengangguk.


Cordelia seperti sibuk dengan pemikirannya saat papanya selesai bicara. Hingga tak terasa mereka sudah sampai.


00


Shankara menatap hangat Cordelia yang baru turun dari mobil. Yang di tatapnya itu merasa salah tingkah dan sedikit tersenyum.


"Udah lama?" Cicit cordelia pelan, tiba tiba suaranya menghilangkan.


"Lamaaaa banget aku berdiri disini untung nggak panas." Jawab shankara lebay.


"Dasar." Pukulan pelan mendarat di bahu shankara yang membuatnya tertawa.

__ADS_1


"Ayo masuk." Shankara memberikan lengannya untuk di gandeng.


Cordelia yang merasa malu menatap shankara tak percaya sambil sesekali melirik ke kanan dan kekiri memastikan tidak ada yang melihat.


"Ayo buruan pegel inii." Shankara menaik turunkan bahunya tanda lelah.


Tanpa pikir panjang lagi Cordelia merangkul lengan shankara dan sedikit menariknya agar cepat jalan.


"Kamu cantik banget sih, nggak cuma hari ini. Tapi setiap hari." Bisik shankara pelan. Bisikan Shankara berhasil membuat kedua pipi Cordelia memerah.


00


Beberapa kali dentingan gelas dan piring terdengar oleh shankara dan Cordelia. Mereka duduk dengan nyaman sambil menunggu pesanan makanan datang.


"Aku mau kembaliin mutiara kamu yang jatuh waktu itu. Ini dia." Kara mengeluarkan kotak buludru merah dari sakunya.


"Ya ampun sampe di masukin kotak gitu?" Tanya cordelia tertegun.


"Buka aja." Ucap Shankara.


Cordelia membuka kotak buludru itu dan menemukan beberapa mutiaranya telah di gabungkan dengan rantai emas dan menjadi gelang.


"Karaa, kenapa di bikin gelang gini.." ucap Cordelia berusaha menutup mulutnya karena terkejut.


"It's ok, soalnya aku perhatiin kamu udah nggak pake lagi kalungnya. Jadi aku bikin gelang. Sini biar aku pakein." Ucap Shankara dengan senyum manisnya.


"Boleh deh, makasih banyak yaa... Aku nggak bisa bales apa apa..." Ucap Cordelia agak keras saat Sean berjalan di belakangnya.


Shankara mengaitkan gelang itu pada Cordelia.


"Udah nih, cocok banget sama tangan mungil kamu." Ucap Shankara pelan.


"Semoga aja Sean liat aku. Karena aku juga mau nunjukin ke dia kalo aku bisa juga bahagia dan punya cowo lain. Emangnya dia aja yang bisa seenaknya bilang kita temen dan ciuman sama cewe lain.!!." Batin Cordelia kesal.


00


Hari hari indah yang di lalui Cordelia dengan Shankara sebagai teman dekat. Membuat Cordelia nyaman berada di sisi Shankara. Walaupun hatinya masih sakit setiap melihat Sean dengan perempuan itu. Cordelia berusaha menutupi kekesalannya dengan balik memanas manasi Sean.


"Sean mau temenin aku beli sesuatu nggak?" Chat Cordelia pada Sean.


"Beli apa?" Hanya dalam waktu hitungan detik Sean sudah membalas chat Cordelia.


"Aku mau beliin Hadiah untuk Shankara nih. Tapi kan dia cowo, aku bingung jadinya. Kalo sama kamu kan jadi bisa gampang gitu, mau nggak?" Cordelia segera mengirim chat itu.


"Eh tapi kalo sibuk nggak usah deh. Sorry ya ganggu Lo." Chat Cordelia lagi sebelum Sean membalas.

__ADS_1


Cordelia memutar mutar kotak ajaib miliknya menunggu balasan shankara. Setengah hatinya senang karena dia berhasil membuat Sean kesal. Tapi setengah hati yang lain merasa berat.


Ting....


"Aku di depan."


Dengan cepat Cordelia membaca pesan Sean dan tersenyum cerah. Kedua kakinya segera berlari menuju lemari dan bersiap.


00


Cordelia pov.


"Maaf ya lama." Sean hanya mengangguk dan melajukan mobilnya.


"Nanti kita ke mall sana ya. Terus kita beli kado untuk Shankara. Kamu harus bantuin aku pilih sepatu yang keren. Temenin aku makan, nanti aku yang traktir." Aku beberapa kali melirik ke arah Sean yang terlihat nggak semangat.


"Kenapa sih Lo nggak semangat banget kayanya? Ganggu ya gue? Atau Lo takut ketemu pacar Lo di mall?" Tanyaku bertubi tubi.


"Gue kan udah pernah bilang dia bukan pacar gue. Jadi tenang aja." Jelas Sean masih fokus dengan jalanan yang sudah mulai ramai.


"Ya gue doakan di segerakan jadiannya. Hahahaha." Saat lampu merah Sean menatap mataku lekat.


"Kenapa?" Tanyaku bingung karena Sean menatapku.


"Lo beneran suka sama shankara?" Tanya Sean dengan tatapan penuh harap.


Aku masih memandangi matanya, tanpa bicara apapun. Sebelum aku membuka mulutku, beberapa mobil sudah menyalakan klakson agar kami segera jalan.


Jalanan ramai ini seakan menelanku dan Sean dalam kesibukan masing masing. Saat dia fokus pada jalanan, aku fokus dengan ponselku yang sebenarnya hanya ku hidup dan matikan sejak tadi.


Ada perasaan berat hati setiap menatap kekecewaan di mata Sean. Tapi aku terlalu gengsi untuk bilang ke Sean kalau dia cuma punyaku...


Seandainya bisa, seandainya dia nggak mulai duluan dengan perempuan itu. Aku pasti nggak akan bikin dia sedih kaya gini.


.


.


.


.


.


Tbc...

__ADS_1


17.05.2021


Nadiapuma


__ADS_2