Cinta Terlarang Duyung

Cinta Terlarang Duyung
mutiara cinta


__ADS_3

"Bahkan 1 kata dari mulutmu pun lebih indah dari pada kata kata mutiara milik motivator terkenal."


Cordelia POV


"Good morning semua" sapa ku saat sampai di meja makan.


"Pagi sayang mau sandwich ikan atau nasi goreng aja?" Mama sibuk menyusun sandwich yang masih belum di ketahui pemiliknya.


Aku menatap meja makan dan kursi kosong hanya di sebelah kak Celo. Mau tidak mau pasti aku duduk di situ dong. Kita tidak boleh terlihat tidak akur karna kak Celo bisa keceplosan pasal aku yang menangis di tempat umum.


"Kok bengong? Ayo duduk." Mama meletakkan sandwich tadi ke piring kak gigi.


"Hari ini kita mau pulang, Coco mau ikut atau di daratan saja?" Papa bertanya padaku yang baru saja duduk.


"Paa, kita makan dulu ya. Bahas pulang kan bisa nanti." Jawab mamaku yang tak ingin aku merasa terbebani dengan kata pulang.


Jujur aku lebih nyaman berada di daratan daripada 'pulang' yaa, pulang artinya kembali ke dasar laut. Kita memang mengisi waktu weekend untuk pulang.


"Sandwich ya co?" Kata mamaku memecah lamunanku. Aku hanya mengangguk dan menatap sepiring ikan kakap.


"Karna sudah dapat makanan semua mari kita mulai makannya." Ujar papa yang mengangkat gelasnya.


'ting' suara gelas yang di satukan.


Kami biasa melakukan itu di laut sebelum makan. Begitu pula disini. Daratan.


"Ini sausnya." Kak Celo memberi saus pada piringku.


"Makasih kak." Jawabku singkat. Entah kenapa mendengar kata pulang aku jadi mendadak nggak napsu makan.


"Malam ini ada acara makan malam sama keluarga besar di lautan. Coco masih belum bisa turun sayang?" Tanya papa sekali lagi padaku.


"Kalau kamu masih takut, nggak usah kok. Nggak papa sayang pelan pelan ya." Jawab mamaku yang aku angguki.


"Aku juga nggak bisa pulang weekend ini pa. Ada beberapa disain baru yang harus di urus untuk launching Minggu depan." Timpal kak Celo.


"Ok, jadi kamu jaga Coco di darat ya." Jawab papa sambil melemparkan senyumnya padaku.


Sebenarnya aku juga rindu lautan. Rumah dimana aku di besarkan, di lahirkan dan banyak teman temanku.


Tapi aku takut kenangan lama itu muncul lagi. Aku takut ketemu Oki.


-0-


Selesai sarapan papa, mama dan kak Gigi langsung pulang menuju lautan dengan mobil untuk sampai ke pantai.


Aku memilih untuk berenang di kolam halaman belakang.


"Co, masih marah?" Tanya kak Celo yang tiba tiba datang dan duduk di sebelahku.


Setengah badanku sudah berubah jadi ikan karna aku menurunkan kakiku ke kolam.

__ADS_1


Aku hanya menjawabnya dengan gelengan.


"Maaf ya, lama jemputnya. Oh ia kakak dapet nomer nya kara nih. Kamu mau?" Tanyanya sambil memegang hpnya.


"Serius kak?" Dan mood ku yang tadinya rusak berubah menjadi bersemangat mendengar nama kara keluar dari mulut kak Celo.


"Heeem masalah kara aja semangat bangeeeet." Kak Celo mengacak rambutku kesal.


"Mana mana Coco mau nomernya." Kataku semangat.


"Eits, jangan mulai chat duluan. Malu dong sebagai perempuan ih." Omel kak Celo padaku.


"Nggak papa kan aku mau minta maaf karna kakak kemaren udah tonjok dia. Jadi ada bahan gitu kan buat chat dia duluan nanyain dia udh baik apa belum mukanya yang kakak tonjok terus..."


'Byuuuur'


"Berisik amat ya ampuuun." Kak Celo mendorongku yang belum selesai ngomong sehingga masuk ke air.


"Kakak jahaaaaaat." Teriakku muncul di permukaan.


"Dah ya nanti kakak kirim nomernya ke kamu. Please jangan agresif." Ucap kak Celo yang berdiri dan hendak pergi.


"Makasih kak" kataku yang di balasnya dengan lambaian tangan dan masuk ke rumah.


-0-


Author POV


"Aku chat apa yaaaa. Iiih gimana mulainya." Cordelia tampak berfikir keras untuk memulai pesan dengan Shankara.


"Hai shankara, ini Cordelia." Ah nggak nggak. Dan di hapus lagi pesan nya.


"Aaaah pusing." Cordelia mengacak acar rambutnya frustasi.


"Hai Shankara, ini nomer Cordelia. Maaf ya karna kakak gua, Lo jadi memar gitu. Sekarang udah baikan kan lukanya?"


Sambil menutup mata akhirnya Cordelia mengirim pesan singkat itu pada Shankara.


"Gilaaaa cepet banget langsung di read. Oh my good, oh my good."


"Tarik nafas, buang. Tarik nafas, buang. tarik lagi, buang." Cordelia sibuk menenangkan dirinya sendiri.


"Hai Del. Memar dikit doang gini mah udh biasa. Nggak papa lagi, Lo juga gak papa kan?" Balas Shankara.


Otomatis Cordelia langsung berdiri di atas sofa dan loncat loncat karna pesan nya di balas cepat oleh Shankara.


"Waaaw. Dia bales chat guaaaaa... Ya lord, thank you... Senangnyaaaaa." Cordelia masih lompat lompat di atas sofa sambil memeluk erat handphone nya. Lalu saat sudah sedikit tenang Cordelia melihat ponsel nya.


'satu pesan suara terkirim'


"Tunggu tunggu siapa yang kirim voice note. Oh God. Gimana ini..." Cordelia panik dan langsung meng unsend pesan suara yang berisi suaranya sedang berteriak senang.

__ADS_1


"OMG maluuuuu" dan muka Cordelia pun berubah jadi sangat merah.


"Ini apa?" Balas Shankara.


"Maaf itu salah pencet. Bukan apa apa kok." Balas Cordelia.


"Semoga semoga dia belum denger voice note aku. Ya ampun Malu banget. Gila gila gilaaa...." Teriak Cordelia penuh emosi.


Antara senang dan kesal bercampur menjadi satu. senang karna kara dengan cepat membalas pesannya dan juga kesal pada dirinya sendiri yang malah dengan bodoh mengirim voice note Tampa di sengaja.


"Aku ingin menghilang dari muka bumi ini sajaaaa." Teriak Cordelia sekali lagi.


"Ok. Kalung mutiara Lo yang kemarin udah di benerin?" Tanya Shankara.


Kali ini Cordelia membalas pesan dari Shankara dengan kepala dingin. Dia tak mau terlalu senang menyebabkan Shankara ilfill dengannya.


"Tahan Coco tahan. Jangan gegabah nanti dia kabur." Cordelia mengatur nafasnya.


"Udah kok. Thanks ya udah bantu pungut mutiaranya."


"Ternyata kemarin aku nemuin mutiara lo di tanah pas jalan balik. Senin selesai kelas kita ketemu ya di kantin. Gua balikin mutiaranya."


Dan balasan ini sukses membuat Cordelia menjatuhkan tubuhnya ke sofa dan berteriak histeris.


"Waaaaw. Gilaaaa kara ngajak gua ketemuaaaan. Aaaaak seneng banget. Seneng.... Nggak ngerti lagiii rasanya kaya mau meninggal... Oh my God." Teriak Cordelia yang kali ini di datangi pembantu di rumahnya.


"Cordelia, butuh bantuan embak?" Tanya salah satu pembantu rumahnya.


"Nggak mbaaa aku cuma lagi seneng ajaaaa. jangan hiraukan aku yaaa. Semangat kerja nya mbaaaa." Cordelia bangkit dari tidurnya dan memilih berjalan ke kamarnya.


"Jawab apa yaaaa. Iiih kok seneng banget gini." Cordelia masih bimbang mau menjawab apa, sampai Shankara membalasnya lagi.


"Eh atau gua balikin di kelas aja?"


"Haaaaa.!!" Cordelia kaget dengan balasan Shankara yang sangat membuatnya kecewa.


"Jangan, mending pas selesai kelas aja deh. Aneh nggak sih kalo Lo tiba tiba kasih gua mutiara."


"Nggak boleh lepas. Gila apa aku kehilangan Shankara ganteng aku" dumel Cordelia.


Dan berlanjutlah percakapan antara Cordelia Dan Shankara lewat chat singkat itu.


.


.


.


To be continue


28 Maret 2020

__ADS_1


See yaaaa!!!


__ADS_2