
Apa itu? Yang bisa membuat ku buta, bodoh dan berdebar hebat.
Author POV
"Hoaaaam..." Cordelia mengucek matanya yang masih belum bisa melihat jelas di pagi hari.
Melihat sekeliling kamarnya untuk mengembalikan nyawanya yang belum terkumpul. Setelah sedikit sadar, Cordelia segera mencari ponselnya di seluruh ranjang nya.
"Good morning Del." Cordelia membaca pesan Whatsbro dari ponselnya.
"Good morning too Sean." Balas Cordelia dengan senyum yang tanpa di sadarinya mengembang di bibirnya.
Ting...
"Kok dia cepet banget balesnya." Tanya Cordelia seakan tak percaya.
Belum sempat Cordelia membuka pesan dari Sean. Sudah ada nama Shankara menelfonnya.
Dengan berat hati Cordelia menganggakat telfon dari Shankara. Dan hanya diam saja sambil meletakkan ponselnya pada telinganya.
"Halo?" Suara dari seberang menyapa.
"Kenapa." Jawab Cordelia datar. Ini masih pagi untuk merusak mood nya hari ini.
"Lo sibuk?" Tanya Sean seperti nadanya sangat berhati-hati.
"Nggak kok." Jawab Cordelia yang lagi lagi singkat padat dan jelas.
"Gw pengen balikin mutiara Lo yang dari kemaren belum sempet gw balikin. Sorry ya." Ucap Shankara terdengar tulus dari balik telfon.
"Buat Lo aja gw nggak papa kok. Itung itung ganti rugi buat sembuhin pipi Lo yang memar." Cordelia tampak kesal saat pembahasan mutiara ini kembali terkuak.
"Gw tau harganya nggak murah jadi gw ngerasa nggak enak aja buat nerimanya." Shankara menggerakkan kakinya di lantai. Seakan sedang nerves Dan tak sanggup bicara lagi.
"Nggak papa lagi, pipi Lo pasti lebih berharga di banding 2 mutiara itu. Lagian gw punya banyak kok di rumah." Cordelia membalasnya dengan nada males malesan.
"Ok." Jawab Shankara bingung dengan sikap tidak bersahabat Cordelia.
"Ia." Jawab Cordelia singkat.
Keadaan menjadi hening hanya suara nafas mereka bersautan di telfon ini. Shankara merasa bingung harus bagaimana disaat Cordelia sedang menahan kekesalannya merasa di PHP in. Hingga akhirnya.
"Gue mau pergi. Yaudah ya gw patiin telfonnya." Tanpa repot menjawab, panggilan sudah di putuskan oleh Cordelia terlebih dahulu.
Hati Cordelia terasa bergetar marah. Kesal dan ingin memaki Shankara yang seakan sepeti iseng iseng berhadiah padanya.
__ADS_1
"Aaaaah..." Teriak Cordelia kesal.
Nafas nya menjadi dalam dan cepat karna emosi. Apakah ini salahnya atau salah Shankara. Setelah mengingat mereka hanyalah teman sekelas.
"Bodoh ya gw. Gw ini siapa, dia itu siapa. Kenapa gw yang berharap banget gini kalo Shankara bakal suka balik sama gw. Harusnya gw nggak marah kaya gini. Karna Shankara tuh cuma temen. Kecuali kalo dia pacar gw yang ngajak ketemuan tiba tiba nggak jadi tanpa alasan terus nggak kasih kabar. Gw baru boleh marah." Cordelia frustasi sekarang bukan karna kekesalan nya pada Shankara tapi pada dirinya sendiri yang bodoh.
"Lo tu bodoh banget tau nggak deeel. Suka suka dia lah mau gimana. Dia kan bukan siapa siapa Lo." Terlalu memikirkan kenyataan bahwa Shankara bukan siapa siapa dalam hidupnya membuatnya menangis deras.
"Lo bodoh. Aneh, Lo nggak tau malu. Hiks." Cordelia memukul kepalanya pelan karna kesal akan kebodohannya sendiri.
Biasanya dirinya memang selalu berharap untuk bisa jadi kekasih Shankara. Tapi nggak seharusnya kali ini dia marah seakan akan Shankara udh buat kesalahan besar.
"Udah gitu tadi gw judes banget pas di telfon sama dia. Aaah bodoh bodoh. Huaaaaaa.." Cordelia Makin menangisi kebodohannya. Memikirkan betapa malunya nanti bertemu dengan Shankara. Memikirkan bagaimana Shankara menganggapnya setelah ini.
Cordelia takut jika Shankara mengetahui perasaan nya pada Shankara. Dia takut Shankara malah menjauh.
"Dasar aku dan kebodohan." Racau Cordelia lagi.
00
Cordelia sedang sibuk berkemas koper dan barang barangnya untuk pergi liburan.
Dirinya sudah menentukan akan pergi kemana. Setengah mutiara hasil menangisi kebodohannya kemarin sudah di berikan pada sang papa dan di tukar dengan uang untuk pergi liburan.
Solo trip kali ini akan jadi liburan dirinya dan kamera saja. Kekesalannya akan segera meluap sesaat setelah dirinya mulai pergi untuk liburan.
"Luxury trip I'm coming..." Ucap Cordelia bahagiaaa.
00
Setelah kepergian Cordelia untuk Liburan, Sean yang tidak bisa menghubungi nomer telfon Cordelia pun bingung.
"Kenapa chat gw nggak pernah di bales ya sama Cordelia, apa dia pergi ya? Dia kemana sih udh 3 hari ini nggak bales chat." Sean mengelilingi kamarnya. Seperti setrika yang terus bergerak.
Sean mengecek akun sosial media Cordelia. Tapi tidak ada sama sekali pembaruan pada akun sosmed nya itu. Sean yang khawatir memilih mengunjungi rumah Cordelia.
Setelah sampai di rumah Cordelia, Sean di tanya oleh satpam rumah Cordelia.
"Cari siapa kak?" Tanya satpam rumah Cordelia Ramah.
"Cordelia das meer Pak, ada?" Jawab Sean pada satpam rumah.
"Sudah buat janji?" Tanya satpamnya lagi.
"Belum sih. Soalnya dia nggak bisa di hubungin udah 3 hari ini. Cordelia nya ada di rumah nggak ya pak?" Tanya Sean to de point.
__ADS_1
"Yang ada di rumah hari ini cuma pak Dylan sama Bu Doris. Maaf saya nggak bisa kasih izin masuk ya." Jelas satpam pada Sean masih ramah.
"Kalo boleh tau Cordelia nya kemana ya?" Tanya Sean pada satpam itu lagi.
"Kalo itu saya kurang tau kak. Tapi delianya sudah pergi dari 4 hari yang lalu. Sampai kapan nya juga saya kurang tau." Ucap pak satpam oji dengan nada sopan miliknya.
"Oooh. Terimakasih ya pak. Saya permisi." Sean memutus perbincangan mereka.
"Ya kak. Hati hati di jalan yaaa...." Pak oji melambaikan tangannya ramah pada Sean.
Sean melajukan mobilnya sedikit jauh dari gerbang rumah Cordelia. Berhenti dan mencoba menelfon Cordelia.
"Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif... Tinggalkan pesan tekan 1."
"Nggak aktif lagi nomer dia. Cordelia pergi kemana sih. Kok nggak kasih kabar sama sekali ke gw. Coba telfon gigi dulu deh." Sean mencari nomer Gianira tapi jawaban yang di dapat sama saja.
Dengan berat hati akhirnya Sean memutar balik mobilnya dan berhenti di depan rumah Cordelia lagi.
"Pak, permisi. Boleh minta tolong telfonin om Dylan atau Tante dory di dalem nggak? Bilang kalo ada Sean Adriatik mau ketemu. Tenang aja saya jamin Dylan kenal saya." Sean bicara dengan satpam yang tadi.
Setelah menjawab dan menelfon majikannya satpam oji membuka gerbang rumah Cordelia Dan mempersilahkan masuk Sean.
Sampai di depan pintu rumah, Sean menekan bel dan muncullah Tante dory dari dalam.
"Waaaaah ini beneran Sean Adriatik ternyata. Sudah lama ya kita nggak ketemu sayang. Masuk yuk masuk." Mama dory menyapa Sean dengan hangat. Mengajak tamu yang pernah di anggap anaknya sendiri itu untuk masuk.
"Makasih tante." Sean masuk dan langsung bertemu papa Dylan.
"Hai Sean. Kenapa mendadak datang ke rumah. Papa kamu sehat? Katanya kalian pindah ke sini lagi ya? Duduk duduk nak." Papa Dylan juga menyambut kedatangan Sean dengan baik.
Dan berlangsung lah pembicaraan mereka yang di mulai dengan basa basi Sean sampai dia mendapatkan informasi kemana semua anak das meer pergi.
.
.
.
.
.
To be continued....
Nadiapuma
__ADS_1
05.06.2020