
Author POV.
"Coco, mama liat kamu sama Sean makin Deket aja. kalian nggak pacaran kan?" Tanya mama Cordelia yang masih menyiapkan sarapan untuk sang papa.
"Ha? Gimana ma?" Tanya Cordelia takut.
"Ia, kayanya sebulan ini kamu happy banget, Sean juga sering banget bawa bawa hadiah. Ya, aneh aja gitu. Masa Tiba tiba sebulan ini dia berubah. Kamu juga berubah, jadi lebih happy bawaannya." Jelas mama panjang lebar karena merasa putri nya mula berubah.
"Kan bagus ma, kalo Coco jadi happy." Jawab Coco yang langsung mendapat tatapan serius dari mamanya.
"Coco yakin nggak mau ngaku sama mama? Ini selagi papa belum ada disini." Mama Coco menatap anaknya dengan tatapan curiga.
"Jelas Cordelia ini ada apa apa deh sama Sean. Atau mereka pacaran ya?" Batin sang mama
"Cordelia, mama tanya sekali lagi ya. Kamu beneran pacaran sama Sean?" Mama membuat Cordelia tidak bisa berkutik lagi.
"Ma, kalo coco..."
"Good morning" selak sang papa yang baru masuk ke ruang makan.
"Loh kok pada diem diem aja papa Dateng. Ada berita apa nih pagi pagi gini?" Ucap papa senang.
"Mama lagi nanya ke Coco, apa dia pacaran sama Sean atau nggak. Soalnya sebulan ini mereka aneh banget." Mama duduk di kursi makannya, tapi matanya tetap menuju ke putri terakhir nya.
"Cordelia, Apa yang di bilang mama itu bener?" Tanya sang papa lagi.
"Dia diem terus dari tadi pa ditanya. Mama sudah nanya berkali kali tapi nggak mau ngaku. Sayang bilang aja sama mama sama papa." Ucap mama pelan.
"Ia, Coco pacaran sama Sean." Karena merasa terpojok akhirnya Cordelia mengaku juga pada kedua orang tuanya.
"Coco tau kalo duyung itu nggak bisa menikah sama manusia kan?" Tanya sang papa pelan.
"Ia Coco tau. Tapi kan coco cuma pacaran sama Sean. Coco bisa aja putus yakan di tengah jalan." Cordelia mencoba membela dirinya.
"Papa mama tau, kamu cuma pacaran. Tapi di umur segini, apa kamu nggak pengen menikah? Kak gigi aja bakal nikah bulan depan. Papa bilang ini demi kebaikan Cordelia." Papa mencoba menjelaskan dengan tenang pada cordelia.
"Terus, Coco nggak boleh pacaran gitu?" Tanya Coco sedih.
Di tatapnya kedua orang tua yang selalu di sayangnya. Bagaimana mungkin dirinya nggak dapat restu dari papa mamanya.
__ADS_1
"Ya sebaiknya jangan pacaran sama manusia. Ya kan ma." Papa mencoba minta bantuan sang mama.
"Tapi Coco beneran sayang banget sama Sean pa. Apa nggak boleh Coco bahagia sebentar aja? Papa tau kan kalo Coco udah sakit hati gimana." Ucap Coco kesal.
"Sayang, mama tau. Tapi semua duyung yang memilih menikah sama manusia nggak pernah kembali ke dunia duyung lagi. Semua kekuatan kamu bakal hilang, dan mama nggak tau apa lagi yang bisa terjadi sama kalo kalo beneran sama manusia. Mama nggak akan pernah rela kamu bahagia dengan sesuatu yang nggak pasti, fana, tapi membahayakan diri kamu sendiri. Coco, mama sama papa bilang gini untuk kebaikan kamu." Kali ini sang mama mencoba merangkul putrinya yang sudah hampir menangis.
"Terus Coco harus putus sama Sean gitu ma?" Tanya Coco dengan suara parau.
"Keputusannya kembali lagi sama Sean dan Coco. Kalau memang cuma pacaran, pesan mama ya sebaiknya berteman saja. Toh kita semua sudah kenal Sean kan." Jelas sang mama yang di angguki oleh Cordelia.
"Ok nanti Coco bilang ke Sean ya. Coco udah selesai makannya. Mau naik dulu." Cordelia berdiri dari kursinya dan menuju ke kamar.
00
Sampai di kamar Cordelia segera menelfon Sean. Hatinya sudah nggak bisa menahan rasa sakit sebelum berpisah dari Sean.
"Hallo, Sean." Cordelia mencoba berdeham untuk memperbaiki suaranya.
"Hai deel? Tumben banget pagi pagi udah telfon?" Tanya Sean dari balik telfon.
"Aku,... Heeem..." Cordelia merasa bingung harus bicara apa. Kini air matanya sudah menetes dengan deras.
"Maafin aku ya... Hiks, kita kayanya memang nggak di takdirin buat pacaran." Ucap Cordelia degan suara bergetar.
"Hey, aku kesana ya. Kita harus ketemu ok. Kamu tenang dulu ya." Sean berusaha menenangkan Cordelia.
"Jangan Sen. Jangan pernah Dateng ke rumah aku lagi. Jangan pernah telfon aku lagi. Aku bukan manusia Sean. Aku ini duyung, kita nggak akan bisa sama sama sampe kapanpun. Hiks." Cordelia menutup sambungan telfonnya pada Sean. Air matanya berlinang dengan deras.
Banyak hal yang belum selesai dia kerjakan. Tapi semua air mata ini mengganggu aktivitas hidupnya.
00
Matahari sudah terbenam, suara tangisan dari kamar cordelia masih terus terdengar. Jika kamu disana mungkin akan segera menghampiri dan membantunya untuk berhenti.
Tapi tidak bisa. Air mata yang tadinya berubah menjadi mutiara berwarna putih bersih. Kini berubah menjadi warna hitam yang sangat gelap.
"Coco, buka dong pintunya. Kamu udah nangis dari pagi loh. Jangan gini dong co. Papa sama Mama khawatir." Mama Cordelia berusaha mengetuk pintu kamar putrinya. Tapi yang terdengar dari dalam hanya suara tangisan.
"Cordelia, papa harus gimana biar kamu berhenti nangis nak?" Tanya papa yang mulai frustasi.
__ADS_1
"Buka dulu lah nak pintunya. Mama harus gimana lagi? Bilang mama sayang." Mamanya masih berusaha agar cordelia mau membuka pintu kamarnya.
"Semua masalah itu kan ada jawabannya. Sekarang kita cari sama sama ya. Coco, papa mohon buka dulu pintunya." Akhirnya pintu kamar cordelia terbuka.
Papa dan mama Cordelia terkejut melihat Cordelia yang sudah sangat lemas dan kasur nya yang di penuhi mutiara berwarna hitam.
"Cordelia kenapa sampe nangis mutiara hitam gini? Kamu beneran tersiksa banget sama kata kata papa mama tadi ya? Memangnya nggak ada yang lain selain Sean sayang?" Tanya sang mama yang ikut menangis melihat mutiara Hitam dimana mana.
Mutiara hitam melambangkan kesedihan yang sangat menyakitkan, kesengsaraan dan luka yang tidak pernah bisa di obati.
"Mama jangan nangis." cordelia membantu mamanya untuk duduk di ranjang miliknya
"Mama nggak boleh nangis, Cordelia cuma sedih aja karena nggak bisa bareng bareng Sean. Padahal Sean itu yang selalu ada buat Coco, dia yang bikin Coco bisa berenang lagi, dia yang bikin Coco lupa sama kara, dia adalah sahabat terbaik Coco mama. Coco nggak bisa kalo harus melepas Sean." Cordelia Masih menangis sambil menjelaskan hal itu pada sang mama.
"Terus Coco mau tetep sama Sean?" Cordelia menganggukan kepalanya menjawab sang papa.
"Paa, selama ini semua duyung itu cuma nggak bisa kembali ke laut kan pa? Coco nggak keberatan bakal jadi manusia sepenuhnya nggak bisa punya mutiara lagi, nggak bisa ke laut lagi. Coco bersedia pa. Coco nggak sanggup kalo harus pisah dari Sean. Coco lebih baik hidup di daratan selamanya asal bareng Sean." Cordelia menangis lagi.
Papanya memeluk Cordelia erat. "Ia sayang, ia.. papa sama Mama bakal selalu support Coco ya. Jangan nangis gini lagi ya sayang. Ia bener yang Coco bilang. Asal mama papa bisa liat Coco bahagia. Nggak papa kalo Coco nggak mau balik ke laut lagi ya."
"Makasih banyak ya pa. Coco janji nggak akan menyesal ngambil keputusan ini." Coco memeluk erat papa dan mamanya.
Akhirnya satu perjuangan cintanya kali ini akan berhasil. Dia yakin kalau hubungannya dengan Sean akan berhasil.
.
.
.
.
.
TBC...
25.07.2021
Nadiapuma
__ADS_1
Jangan lupaaa baca juga yaaa cerita cerita lain yang author buat ...