CINTA TIADA AKHIR [ Tujuh Kehidupan ]

CINTA TIADA AKHIR [ Tujuh Kehidupan ]
Berkunjung Ke Istana Agung Santanu


__ADS_3

Mendengar, kelemahan dari kekuatan kegelapan adalah cahaya. dheandra dan rancasan melakukan keja sama untuk mengalahkan kekuatan kegelapan agar dia musnah. Dheandra, mengumpulkan seluruh kekuatan cahaya bersama dengan petri di telapak tangan tangan, sampai membuat sebuah bola di atas telapak tangan. Begitupun dengan rancasan dia mengumpulkan kekuatan airnya. Dan, mereka pun menyatukan kekuatan mereka sampai membuat sebuah langit menurunkan petir-petir. Lalu, mereka mengarahkan ke prabu brawasa.


Prabu brawasa, juga tidak akan kalah dia juga mengumpulkan kekuatan kegelapan di tangannya lalu dia arahkan ke dheandra dan rancasan. Dan, membuat kekuatan mereka bertabrakan. Bahkan, cahaya terus saja bersinar. Sampai akhirnya terjadi ledakan yang sangat besar.


Ketiga, pendekar itu pun terpental cukup jauh. Tapi Dheandra masih bisa bertahan. Walaupun hanya mundur berapa langkah, saja. Lalu mereka kembali melakukan pertarungan mereka, mereka tidak akan berhenti sebelum salah satu dari mereka ada yang mengalah atau mati, itu sudah menjadi peraturan para pendekar.


Dheandra, yang sudah kehabisan kesabaran memainkan seruling itu, dia membuat sebuah nada langit dheandra merasakan ada getaran kuat di dalam. Seruling, lalu sebuah kekuatan besar lima elemen yang menyatu menyerang prabu brawasa. prabu brawasa, yang belum melakukan persiapan pun terpental sampai mengeluarkan darah dari mulutnya.


Prabu brawasa, yang memang sudah kehabisan tenaga, lalu menghilang sebelu kekuatan rancasan mengenai tubuh prabu brawasa. Keduanya lalu, menentralkan energi dalamnya. Lalu, berjalan ke ara warga, yang sudah berkumpul dan meneriaki kedua pendekar.


"Terima, kasih kisanak sudah menyingkirkan prabu brawasa yang selalu membuat masalah." ucap salah satu penduduk desa.


"Kalian, tidak perlu berterima kasih. Karena, itu sudah menjadi tugas kami untuk melindungi kalian dari serangan para pendekar aliran hitam." ucap Dheandra.


"Yang, di katakan oleh, sahabat ku memang benar kalian tidak perlu berterima kasih, ini semua memang sudah tugas kami." timpal rancasan."


"Kalian, memang baik. Kalau, boleh tau siapa nama kalian wahai kisanak?" tanya penduduk desa.

__ADS_1


"Namaku, adalah sang Hyang rancasan dan ini sahabat ku sang Hyang Batara dheandra." ucap rancasan. Para, penduduk desa pun sangat terkejut mendengar hal itu, karena sang Hyang adalah nama keluarga berpengaruh di kalangan keluarga pendekar.


Para, penduduk desa pun langsung bersujud kepada kedua pria itu. Dan, berterima kasih banyak karena mereka sudah datang untuk menolong mereka.


Dheandra dan rancasan, yang terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu pun sangat terkejut. Dan Dheandra menyuruh para penduduk desa untuk berdiri karena dia tidak menyukai perlakuan seperti ini ataupun pujian.


Rancasan, membantu pria tua itu untuk berdiri agar, mereka tidak melakukan hal itu lagi kepada mereka. Walaupun, dia seorang pendekar kuat dia tidak ingin menyombongkan diri. Karena, mereka tau di atas langit masih ada langit. Jadi, walaupun mereka sudah menyingkirkan prabu brawasa mereka tidak berbangga hati. Bahkan, mereka tidak menerima sanjungan atau seorang yang bersujud di kaki mereka.


Salah, satu penduduk desa. Ingin membalas kebaikan dheandra dan rancasan dengan menawari mereka makan di rumah makan dia. Namun, sebenarnya dheandra ingin menolak tawaran itu, tapi dia tidak tega dengan para desa. Jadi, dia dengan terpaksa menerima tawaran itu. Walaupun, harus di tatap tajam oleh rancasan, tapi tidak di gubris dheandra lalu menarik tangan rancasan agar ikut bersama dirinya.


Para, pelayan pun langsung menyiapkan hidangan makan yang sudah di sediakan oleh pemilik restoran itu. Mereka, lalu membawanya ke meja yang sudah ada dheandra dan rancasan. Keduanya, lalu makan hidangan itu. Dan, keduanya menikmati hidangan itu. Satu, jam mereka sudah menyelesaikan makannya.


Para, penduduk desa pun menyetujui hal itu. Lalu, mereka melepaskan kepergian Dheandra dan rancasan. Saat, keduanya sedang berjalan di tengah-tengah desa banyak sekali semua orang menatap mereka. Bahkan banyak pujian yang di lontarkan oleh mereka. Namun, dheandra dan rancasan hanya membiarkan saja.


"Dheandra, Kamu dapat seruling dari mana?" tanya rancasan, kepada dheandra, karena sangat penasaran akan kekuatan yang keluar dari dalam seruling bahkan seruling itu mengeluarkan lima elemen yang bersatu dan menyerang prabu brawasa sampai dia menghilang.


"Aku, kan sudah bilang. Kalau, aku bikin ini seruling walaupun aku juga baru mengetahui kalau di dalam seruling bisa mengeluarkan kekuatan bahkan kekuatannya semua ada pada dalam tubuhku?" ucap Dheandra.

__ADS_1


"Apa, maksud kamu Dheandra?" ucap rancasan, karena dia tidak mengetahui akan perkataan dari dheandra. Dia, mengira kalau seruling itu sangat sakti dan sangat berbahaya kalau seruling itu jatuh ke tangan yang salah.


Namun, dheandra hanya membalas dengan senyuman saja. Karena, dia belum saatnya mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Apa, lagi itu hanya seruling biasa yang dia buat dari bambu.


Saat, ke-dua nya sedang berjalan sambil mengobrol, ada seorang pria yang berpakaian seperti prajurit. Lalu dheandra dan rancasan menghentikan jalannya lalu mereka bersiap untuk melawan. Namun, langsung di hentikan oleh prajurit kalau mereka tidak aka. melukai dheandra maupun rancasan. Karena, mereka di perintahkan raja untuk menjemput pendekar, raja menyuruh kedua pendekar sakti.


Dheandra dan rancasan, saling bertatap. Mereka ingin mendengar jawaban satu sama lain. Untuk, mengiyakan ajakan para prajurit. Setelah pertimbangan yang cukup lama mereka bersedia untuk ikut bersama dengan para prajurit datang ke istana.


"Rancasan, apa kamu mengetahui siapa raja saat ini?" tanya dheandra kepada sang Hyang rancasan. Namun, para prajurit tidak mendengar apa yang terjadi.


"Dia adalah raja agung Santanu sosok raja yang sangat kuat di benua ini. Dan, dari rumor yang dia dengar kalau kekuatan raja agung sudah memasuki tahap dewa. Dan, itu tandanya dia sudah pernah mengorbankan nyawa pendekar untuk menaikan kekuatannya.


Dheandra, sangat terkejut lalu dheandra terdiam sejenak jadi para raja memang sangat kejam bahkan dia rela mengorbankan nyawa pendekar haya sebuah kekuatan tinggi. Tapi, jika raja memiliki kekuatan tinggi kenapa dia tidak menyelamatkan nyawa para penduduk desa. Itu, menjadi pertanyaan yang keluar dari dalam otaknya. Namun, apa yang di katakan oleh dheandra masih bisa di denger oleh rancasan, karena dia memiliki kelebihan membaca isi hati orang.


Setelah, Berjalan cukup jauh dheandra, rancasan dan para prajurit sudah sampai di depan istana yang sangat tinggil. Lalu, keduanya di suruh masuk oleh prajurit. Karena, raja sudah sudah menunggu kehadiran keduanya.


Dengan, langkah pelan. Dheandra dan rancasan masuk kedalam istana. Lalu, dia sudah di sambut oleh berapa prajurit yang sudah di tugaskan di dalam Kerajaan, para prajurit itu pun mengantarkan dheandra dan rancasan menghadap sang raja yang berada di kursi singgah sana'nya.

__ADS_1


Saat, mereka Sudah Sampai di hadapan raja. Raja, agung Santanu pun berdiri dari kursi singgah sana. Dan, dia berjalan mendekati kedua pendekar itu.


"Selamat, datang di kerajaanku..!!"


__ADS_2