
Ayah adalah segala galanya bagi Ibu, dan Ayah bukan cuma hanya sebagai seorang suami bagi Ibu...
Akan tetapi Ayah juga adalah seorang sahabat terbaik bagi Ibu...
Dan dari mereka berdua lah aku belajar tentang kebahagiaan yang namanya cinta dan kasih sayang...
Serta betapa hebatnya sebuah kesetiaan, dan betapa jauh lebih berharganya cinta jika dibandingkan dengan sebuah materi semata...
Tapi kini semuanya hanya tinggal kenangan dan tak akan mungkin bisa kembali lagi seperti sedia kala...
Karna semuanya telah hancur berantakan dan berakhir dengan begitu menyakitkan...
Dan satu hal yang paling menyakitkan bagiku, kalau ternyata orang yang begitu kejam terhadap aku dan orang tuaku adalah Kakak kandungku sendiri...
Semenjak kepergian Ayah Ibu hanya bisa menangis dan terus menangis...
Makanan yang aku berikan kepada Ibu seperti duri yang akan masuk kedalam mulutnya...
Begitu juga dengan kelelapan tidur Ibu setelah kepergian Ayah terus terusik...
__ADS_1
Karna Ibu masih saja terus mengenang Ayah didalam tidurnya...
Sampai pada acara tahlilan dirumahku pun selesai...
Setelah seluruh tamu udah pada pulang, kemudian aku pun duduk sendirian diteras rumah sambil menangis...
Dan sambil meratapi semua kenyataan pahit yang telah terjadi dikeluargaku saat ini...
Gak berapa lama kemudian Iren pun datang menghampiriku dan duduk tepat disampingku sambil memberikan senyum kecilnya untukku...
" Nad, Iren tau gimana perasaan kamu saat ini, dan Iren juga tau betul kok gimana sakitnya kamu..." Ucap Iren sambil menghapus air mataku...
" Tapi Nad, kamu juga harus ingat kalau jalan hidup kamu masih panjang dan kamu juga masih punya mimpi yang harus kamu capai..."
" Dan satu hal yang paling penting yang harus kamu tau kalau kamu masih punya Ibu yang harus kamu perjuangkan kebahagiaanya dan hari tuanya kelak Nad..."
" Nad, saat ini Ibu kamu udah kehilangan orang yang paling dicintainya didunia ini..."
" Dan sekarang yang Ibu kamu punya cuma tinggal kamu dan Kakakmu aja..."
__ADS_1
" Jadi Iren mohon sama kamu, walaupun sakit dan walaupun kamu belum ikhlas atas semua ini..."
" Tapi setidaknya kamu mau belajar untuk menerima dan mengikhlaskan semuanya..."
" Karna kalau kamu seperti ini terus, siapa coba orang yang akan mengembalikan semangat hidup Ibu kamu lagi.? "
" Dan siapa coba orang yang akan mengembalikan senyumanya seperti dulu lagi Nad.? "
" Nad, sekali lagi Iren mohon sama kamu supaya kamu mau belajar untuk mengikhlaskan dan menerima semua ini..." Ucap Iren sambil menggenggam tanganku...
Aku yang dari tadi mendengar semua omonganya Iren langsung memeluknya dan menangis sejadi jadinya dipundaknya...
" Udah Nad, udah, kamu jangan nangis lagi, ntar kamu sakit, Iren tau kok gimana remuknya perasaan kamu saat ini..." Ucap Iren sambil mengelus punggungku...
" Nadra udah gak sanggup lagi hidup seperti ini Ren, dan Nadra juga udah gak mau lagi hidup didunia ini, Nadra mau nyusul Ayah aja, Nadra mau ikut ama Ayah..." Ucapku sambil menangis...
Iren yang mendengar aku berkata seperti itu langsung melepaskan pelukanku dan langsung memegang wajahku sambil menatapku dengan tatapan yang penuh dengan rasa kecewa yang begitu besar terhadapku...
" Nadra ngomong apa barusan.? kamu sadar gak sih apa yang kamu omongin barusan.? " Ucap Iren kesal...
__ADS_1