CINTAKU TERHALANG ANIME

CINTAKU TERHALANG ANIME
Ketika Istri Nggak Bisa Romantis


__ADS_3

"Ada apa lagi? Kenapa kamu nggak tidur?" Dimas bertanya saat Vina masih tetap duduk.


"Aku masih belum mau tidur. Aku mau nonton anime."


"Kamu nggak lelah, seharian berdiri menyalami tamu?"


"Lelahku akan hilang jika aku nonton anime."


"Cih!"


"Tapi aku nggak bawa headset, semua barangku masih ada di rumahku. Boleh aku pinjam headsetmu?"


"Ada di dekat TV, ambil aja." Vina bergegas mengambilnya.


"Karena kamu belum mau tidur, kalau begitu aku akan nonton TV." Dimas mengambil remote dan menyalakan TV.


Tapi begitu TV dinyalakan, muncul adegan romantis di layar. Membuat Dimas gelagapan mengganti channel.


Kini acara berganti menjadi berita. Dimas mengganti channelnya lagi, berganti menjadi acara sinetron.


Dimas pun mulai menontonnya.


Ketika tokoh antagonis di TV merebut suami temannya, Dimas geregetan dan mulai berkomentar.


"Kenapa dia harus merebut suami temannya sendiri?!! Apakah laki-laki cuma ada satu?!!"


Vina hanya meliriknya kesal, mulai terganggu.


Ketika mulai tenang sejenak, Dimas mulai berkomentar lagi. "Kenapa tokoh protagonisnya lemah sekali?! Seharusnya dia melawan dan menampar orang yang telah merebut suaminya!!"


"Yang nonton itu mata, bukan mulut!! Kenapa kamu jadi kayak Bunda sih kalau lagi nonton sinetron."


"Ya habisnya, geregetin banget tahu!" karena kesal Dimas mengganti channelnya lagi.


Kini, malah muncul adegan ciuman di layar, yang membuat Dimas buru-buru mematikan TV.


"Nggak ada acara yang bagus di TV. Kalau begitu aku tidur duluan aja ya. Oh ya, aku tidak bisa tidur tanpa guling, karena gulingnya cuma satu, gulingnya untukku saja ya." Dimas meraih guling yang awalnya dijadikan pembatas.


"Terserah kau saja! Aku tidak butuh guling. Menurutku, memeluk guling itu menyeramkan. Membayangkan guling itu berubah menjadi pocong saat kita tidur, hihhh!!"


"Aakhh!!!" Dimas berteriak menjauhkan gulingnya.


"Aish!!! Kenapa kau berteriak?!! Mengagetkan saja!!"


"Kau yang menakut-nakutiku! Sesaat, barusan aku membayangkan guling yang kupeluk berubah menjadi pocong!! Bagaimana ini?!! Setelah ini, aku tidak bisa lagi tidur tanpa memeluk guling. Lalu bagaimana aku akan tidur?!!"


"Aish!! Kenapa kau jadi takut?!! Itu kan cuma menurutku. Sudahlah, cepat tidur! Aku mau nonton anime."


"Setelah kau mengatakan guling berubah jadi pocong, bagaimana mungkin kau menyuruhku untuk tidak takut?!"


"Sudah kubilang itu cuma menurutku! Heegh! Sana cepat tidur!!" Vina mendorong Dimas, mengubah posisi Dimas menjadi membelakanginya.


Beberapa menit kemudian, suara nafas Dimas menjadi teratur, menandakan bahwa dia sudah tidur.


"Cih! Katanya tadi jadi takut meluk guling, tapi kenyataannya malah tidur meluk guling. Dasar!" Vina melirik Dimas yang terlelap sambil memeluk guling.


Malam terus bergulir, tapi Vina masih belum tidur.


"Eung..eng.." Dimas terlihat gelisah dalam tidurnya.


Vina yang dalam posisi duduk pun menoleh, "Ada apa lagi sama nih orang? Mungkin lagi mimpi buruk kali ya."


"AAARGH!!!" Dimas berteriak.


"AAAKHH!!!" Vina yang kaget pun ikut berteriak.

__ADS_1


"Kenapa kau berteriak?!!" teriak Dimas.


"Apanya yang kenapa! Aku berteriak karena kaget oleh teriakanmu!!" sahut Vina.


"Aku barusan mimpi, gulingku berubah jadi pocong!" Dimas menoleh ke samping melihat gulingnya. "Hiihhh!!!" ia melempar gulingnya jatuh ke bawah.


"Ini gara-gara perkataanmu sebelum aku tidur! Makanya aku mimpi buruk!


Ngomong-ngomong soal mimpi, kenapa kau belum tidur juga?" Dimas melihat jam di dinding.


JAM 3


"INI SUDAH JAM 3 PAGI, DAN KAU MASIH BELUM TIDUR?!!"


"Iya, ini juga aku mau tidur kok. Lagian baterai hpku juga udah habis." Vina mencharger hpnya, kemudian menjatuhkan dirinya ke ranjang.


Tik tik tik tik. Suasana yang hening membuat detik jam terdengar mencekam.


"Dim.."


"Mmm"


"Kok aku nggak bisa tidur ya. Aku kepikiran sama mimpi kamu. Aku jadi takut mimpi pocong juga!"


"Tuh kan, takut juga! Makanya, sebelum tidur itu jangan ngomong aneh-aneh."


Vina berusaha memejamkan matanya. Entah berapa menit dia berusaha untuk tidur. Lama-kelamaan, akhirnya dia terlelap tidur.


_______


Di pagi hari, Dimas sudah rapih dengan pakaian kantornya.


Sementara Vina, masih melekat di tempat tidur. Layaknya putri tidur yang tak akan bangun, sampai ada pangeran yang menciumnya.


"Vin.." panggil Dimas.


"Aku berangkat kerja ya."


"Mm."


"Nanti kalau mau makan, bilang aja ke Bu Min ya."


"Mm."


Udah kayak chatnya cewek ngambek aja.


Mata Vina bagai dilem Alteco. Tertutup rapat.


Setelah berpamitan dengan Vina, Dimas berangkat.


Sesampainya di kantor, Dimas langsung disambut oleh pertanyaan dari Roni.


"Ngapain lu di sini?!"


"Lah, ini kan kantor gue. Emangnya salah datang ke kantor sendiri?"


"Maksud gue, lu kan baru nikah kemarin, kok udah masuk kerja aja?"


"Ada yang salah dengan itu?"


"Harusnya kan-- Arghh!!! Sudahlah, lupakan! Ngomong-ngomong, gimana tadi malem?"


"Gimana apanya?" Dimas tak mengerti pertanyaan Roni.


"Lu nggak tahu atau pura-pura nggak tahu sih! Maksud gue, lu sama Vina tadi malem ada terjadi sesuatu nggak? Hm hm?!" Roni menggoda Dimas.

__ADS_1


"Buang pikiran kotormu itu!! Nggak ada hal seperti itu yang terjadi! Lagi pula, tadi malam Vina begadang non--"


"Apa?!!! Kalian melakukannya sampai begadang?!!" Roni memotong ucapan Dimas, yang ia dengar hanya di bagian begadang saja. Membuat beberapa karyawan menatap mereka.


"Tutup mulutmu!!" Dimas menjitak kepala Roni. "Sudah kubilang nggak ada hal seperti itu yang terjadi! Lagian, Vina memang begadang, tapi dia begadang nonton anime.


Bagaimana bisa kau menduga hal seperti itu!! Gue kan udah bilang sebelumnya, kalau Vina tuh nggak suka sama gue! Akan butuh waktu untuk buat dia suka sama gue!


Oh ya, waktu itu lu juga salah paham sama Vina. Waktu itu, Vina nggak nonton bok*p tapi nonton anime!"


"Iya kah?!! Yaahh sayang sekali.."


"Apanya yang sayang sekali?!" Dimas lagi-lagi menjitak Roni. "Apa kau maunya istriku nonton begituan?!! Masih pagi tapi otakmu sudah kotor!! Sana kerja dan buang pikiran kotormu!!" Dimas bergegas masuk ke ruangannya.


Detik jam terus bergerak. Jam menunjukkan pukul 9. Dimas tak henti-henti melirik hpnya.


"Vina lagi ngapain ya sekarang?


Ah ya! Aku video call saja dia!"


Dimas sedikit merapikan dasi dan rambutnya. Ketika nada tersambung, tampak gambar Vina di layar hp.


[ JANGAN TELEPON AKU!! AKU LAGI NONTON ANIME!! ] Tut tut tut..


Vina berteriak dan menutup teleponnya.


Dimas sedikit kaget, tapi..


"Senangnya.." ia tersenyum. "Aku masih bisa dengar suaranya lagi."


Dimas kembali melanjutkan pekerjaannya.


Sampai jam makan siang tiba, Dimas kembali melirik hpnya.


"Apa Vina sudah makan?


Sebaiknya kutelepon saja untuk memastikan."


Nada tersambung.


[ JANGAN TELEPON AKU!! UDAH DIBILANG JANGAN TELEPON AKU!! ]


Ketika Vina hendak menutup telepon, Dimas berteriak, "Eehh, tunggu-tunggu!! Jangan ditutup dulu!"


[ ADA APA!! Sebaiknya kamu mengatakan sesuatu yang penting!! ]


"Mm..Makan! Apa kamu sudah makan?"


[ Kau menelponku hanya untuk menanyakan aku sudah makan atau belum?!! Heeghh!! Urus saja pekerjaanmu itu!!! ] Tut tut tut..


Sambungan telepon terputus.


Dimas menatap teleponnya.


"Bisanya perempuan suka kalau pasangannya sering menelpon. Namun Vina sepertinya berbeda. Tapi...," Dimas tersenyum sambil mendekap hpnya. "aku suka dia."


Sepertinya cinta benar-benar membuat dia buta.


.


.


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2