
Setelah beberapa hari terlewati, akhirnya sampai juga di hari pernikahan.
Acara resepsi dilakukan di hotel setelah akad nikahnya dilaksanakan tadi pagi.
Sampai kapan aku harus menjadi boneka yang terus mengalami banyak orang seperti ini?!
Vina dengan topeng senyumnya itu terus menyalami orang-orang yang berdatangan.
"Bro, Selamat ya. Setelah sekian lama lu menjomblo dari jaman purba, akhirnya lu nikah juga." Roni menyalami Dimas.
"Lu kata gue Dinosaurus. Lagian lu nggak ngaca apa, lu kan dari dulu juga jomblo!" timpal Dimas.
"Yaelah Dim, jangan diingetin napa kalo gue jomblo." Roni berganti menyalami Vina. "Oh iya Vin, gimana kabarnya setelah belajar dari video yang waktu itu? Ada hasilnya nggak?" Roni tersenyum jahil dan berlalu meninggalkan mereka.
"Ha? Apa maksud--" mata Vina terbelalak. "Heeegh! Dim, jangan bilang kamu belum ngasih tau Roni soal salah paham tentang aku yang nonton anime waktu itu!"
"Eh? Oh iya aku lupa. Karena ada satu urusan dan hal lainnya, aku jadi lupa."
"Aarrghh Dimas! Habis sudah. Pasti aku sudah dicap sebagai cewek mesum."
"Ahahaha.. Tenang aja, nanti aku bakal jelasin kok."
"Itu harus! Pokoknya aku nggak mau tahu! Nanti kamu har--"
"Vin, selamat ya," ucapan Vina terpotong oleh kedatangan seseorang yang ingin menyalaminya.
Vina mendongak, "Kak Aldo?" dia adalah senior yang nembak Vina waktu MOS dulu.
"Aku pikir kamu nggak bakalan nikah, karena dulu kamu pernah nolak aku dengan alasan yang aneh. Eh, nggak taunya kamu malah nikah secepat ini."
"Ahaha.." Vina tersenyum canggung. "Aku juga nggak nyangka kok kak, bakalan nikah secepat ini. Ini kemauan orang tuaku."
"Sayang sekali ya. Andai saja aku yang dijodohkan denganmu." Aldo menatap Vina dengan mata sayunya.
"Ehem!" deheman Dimas sedikit menyadarkan Aldo.
"Ah, lupakan saja apa yang kukatakan barusan! Selamat ya atas pernikahannya." Aldo menyalami Vina lalu berganti menyalami Dimas.
"Bagaimana mungkin aku melupakannya, setelah apa yang dia katakan barusan!" sungut Dimas setelah Aldo turun dari pelaminan. "Dan apa tadi? Kamu manggil dia dengan sebutan kak?!"
"Memangnya kenapa kalau aku manggil dia kakak? Dia kan memang kakak kelas kita. Apa aku harus manggil dia dengan sebutan 'Oppa' seperti di Korea? Atau manggil 'Senpai' aja seperti di Jepang?"
"Terserahlah! Kamu pasti seneng kan, orang yang pernah 'nem-bak' kamu datang ke sini untuk mengucapkan selamat?!"
"Kamu kenapa sih?!" Vina menoleh heran ke Dimas. "Itu kan dulu! Lagi pula, aku kan sekarang nikahnya sama kamu. Kenapa kamu harus sensi gitu!"
"Oh iya ya! Meskipun dulu kak Aldo pernah nembak kamu.."
"Sendirinya nggak sadar kalau juga manggil kak!" Vina melirik Dimas kesal.
__ADS_1
"Tapi kan sekarang kamu nikahnya sama aku!" Dimas mengabaikan ucapan Vina.
"Lihat itu! Dia bahkan tidak mendengarkan ucapanku!"
Para tamu terus berdatangan berbondong-bondong menyalami sepasang pengantin. Sampai pada akhirnya, sedikit demi sedikit tamu mulai berkurang.
"Aduh! Punggungku gatel nih. Tolong garukin dong!" Vina meminta tolong kepada Dimas.
Dimas tersenyum jahil. "Nggak mau ah! Nanti bolotmu ikut di kukuku lagi!"
"Bolot gundulmu! Kulitku nggak ada bolotnya ya! Ngawur! Lagian kan garuknya di luar baju, bukan langsung di kulit!"
Dimas hanya terkekeh menanggapi Vina.
"Kalo aku bisa garuk sendiri, udah kugaruk dari tadi! Ini semua gara-gara kuku jadi-jadian ini!!" Vina menunjukkan kuku palsu yang terpasang di jarinya. "Jangankan buat ngupil, buat garuk aja susah! Aku heran sama orang yang suka pakek ginian, gimana cara mereka buat ngupil ya?"
"Tanya aja sama rumput yang bergoyang," Dimas nyeletuk asal sembari menggaruk punggung Vina.
"Di sini nggak ada rumput Bambang."
"Kalo gitu, tanya aja sama Bang Toyib."
"Bang Toyib aja nggak pulang-pulang, gimana mau nanya!"
"Kalo gitu, tanya aja sama--"
"Aahh, udah-udah! Kita sudahi percakapan yang tidak berguna ini!" ucap Vina memotong perkataan Dimas. "Aku mau nanya sama Bunda, apakah aku sudah boleh makan. Aku udah lapar banget soalnya. Kan nggak lucu kalau pengantin wanitanya mati karena kelaparan. Bisa jadi berita viral nanti."
"Makan itu kebutuhan woy! Kalau nggak makan, matilah kita," timpal Vina sambil tolah toleh mencari keberadaan Bundanya.
Yang ada di pikirannya makan terus, tapi badannya tetep aja kurus.
________
Hari yang melelahkan telah usai. Dimas mengendarai mobilnya membawa Vina ke rumahnya.
Ketika sampai di sebuah rumah, ada security yang membukakan pagar.
"Biar saya yang memarkirkan mobilnya Tuan," ucapnya kepada Dimas. Dimas dan Vina pun turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
Ketika masuk rumah, ada dua pelayan yang menyambut mereka.
"Ini Bu Mina, pelayanan di sini. Kamu bisa memanggilnya Bu Min saja." ucap Dimas memperkenalkan seorang wanita paruh baya kepada Vina, kemudian beralih ke wanita yang lebih muda. Sepertinya seumuran dengan Vina. "Ini anaknya Bu Mina, namanya Ira. Dia juga pelayan di sini."
Vina hanya tersenyum sebagai ganti kata sapa kepada mereka.
"Kalau yang memarkir mobil tadi itu Pak Joko, dia security di sini. Karena sudah malam, kita sebaiknya masuk kamar saja."
Di dalam kamar, Vina baru ingat akan sesuatu.
__ADS_1
"Aku mau mandi dan ganti baju. Tapi aku baru ingat, aku lupa nggak bawa baju ke sini."
"Oh, kalau cuma baju tidur, Mama katanya udah beliin buat kamu. Coba liat aja di ruang ganti, lemari sebelah kanan."
Vina membuka sebuah lemari, matanya terbelalak. "Kamu bercanda ya! Aku harus pakek yang mana?! Baju tidur di sini semuanya seksi-seksi!"
Dimas menghampiri Vina, dan melihat isi lemari. Sama seperti Vina, matanya juga terbelalak. "Ah! Maaf, aku nggak tau soal baju ini. Soalnya Mama yang beli."
"Terus sekarang aku gimana? Aku nggak mungkin pakek baju itu!"
"Kamu pakek aja bajuku," usul Dimas.
"Terus celananya gimana? Melorot dong kalau aku pakek celana kamu."
"Iya ya." Dimas tampak berpikir. "Oh! Aku punya jaket sweater yang besar. Sepertinya akan sampai selutut kalau kamu yang pakek!" Dimas mencari-cari di lemari satunya. "Ini dia. Untuk sementara kamu pakek ini dulu!" Dimas menyerahkan jaket sweater warna cokelat susu ke Vina.
Vina menerima Sweater itu. Untung aku pakek dalaman celana pendek tadi. "Yaudah, aku mandi dulu ya." Vina berlalu masuk kamar mandi.
Ketika keluar kamar mandi, Vina heran melihat rambut Dimas yang basah.
"Kamu sudah mandi?"
"Iya. Aku mandi di kamar mandi yang ada di kamar tamu. Kamu lama sih mandinya."
"Aku tidur dimana?" tanya Vina.
"Di balkon juga boleh," sahut Dimas asal, membuat Vina mendelik kesal.
"Kalau gitu aku tidur di kolong kasur aja deh!" timpal Vina kesal sembari membuka pintu hendak keluar.
"Kamu mau kemana?" pertanyaan Dimas menghentikan langkah Vina.
"Aku mau tidur di kamar tamu."
"Kamu udah gila ya! Kalau Bu Min nanti tahu kita tidur di kamar terpisah dan ngasih tahu orang tua kita gimana?!"
Vina tersentak dan sadar mendengar perkataan Dimas. Iya ya. Ayah dan Bunda nggak boleh tahu soal ini.
"Nih! Aku kasih guling di tengah, biar kamu lega!" Dimas menaruh guling di tengah sebagai pembatas antara dirinya dan Vina.
Vina menghela nafas dan mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Sepertinya dia masih memikirkan sesuatu.
.
.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG