CINTAKU TERHALANG ANIME

CINTAKU TERHALANG ANIME
Selingkuh


__ADS_3

Dimas pulang lebih awal hari ini.


Saat membuka pintu kamar, dia menemukan Vina sedang rebahan di sofa samping ranjang sambil menonton anime. Baju yang dipakainya masih sama seperti tadi malam.


"Apa ini? Kenapa kau masih memakai baju yang sama seperti tadi malam?


Jangan bilang kalau kamu belum mandi."


Vina menguap panjang.


"Untuk apa aku mandi? Toh aku juga nggak akan kemana-mana."


"Terus kalau kamu nggak kemana-mana, kamu nggak akan mandi gitu?! Ish!! Jorok banget kamu sih Vin. Mandi sana!!" Dimas menarik tubuh Vina, mengubah posisinya menjadi duduk.


"Nggak mau ah, males!" Vina kembali merebahkan tubuhnya. "Lagi pula, nggak ada baju buat ganti. Kita kan belum ambil barang-barangku yang ada di rumah."


"Siapa bilang?!! Nih, tadi aku mampir rumah kamu buat ambil baju-baju kamu." Dimas menyerahkan sebuah koper berisi pakaian Vina.


"Terus laptopku gimana? Kamu bawa juga nggak?!" Vina kembali duduk.


"Ah, aku nggak bawa laptopmu."


"Yaahh.." Vina hendak merebahkan tubuhnya lagi tapi ditahan oleh Dimas.


"Eits! Jangan tidur lagi dong, cepet mandi sana! Atau, mau aku mandiin?" goda Dimas.


"Ish!! Iya-iya aku mandi." Vina hendak berdiri namun-- "Aduh!! Sssh!!!" Vina terduduk jongkok memegangi perutnya.


"Vin kamu kenapa?!!" Dimas ikutan jongkok.


"Perutku sakit.." Vina terus memegangi perutnya. Dimas memapahnya membantunya berbaring di kasur.


Saat di kasur, Vina kembali meringkuk memegangi perutnya.


"Apa kamu datang bulan?"


"Nggak. Sshh.."


"Kalau begitu, kenapa perutmu bisa sakit? Jangan bilang, kamu belum makan?" Vina tak menyahut.


"Jadi kamu beneran belum makan."


Vina tak menjawab. Hanya meringkuk memegangi perutnya terus.


"Bu Mina," Dimas keluar kamar.


"Iya Tuan?"


"Tadi Vina udah makan?"


"Belum, Tuan. Dari tadi pagi, saya sudah mengingatkannya makan. Tapi Nona terus saja bilang 'iya, nanti aku akan turun sendiri ke meja makan kalau sudah lapar' tapi sampai sekarang Nona belum juga turun."


"Kalau begitu tolong buatin bubur ya Bu Min."


"Iya Tuan."


Dimas kembali ke kamar. Vina masih tetap di posisi semula, meringkuk sambil memegangi perut.


Dimas mengambil obat gosok perut, dan menyuruh Vina menggosoknya di perut.


"Kata Bu Min kamu belum makan dari pagi. Kenapa kamu nggak makan?" Vina tak menjawab. "Aku tahu, kamu pasti seharian nonton anime kan?! Vina, meskipun kamu suka nonton anime, kamu juga harus makan dong."

__ADS_1


"Sssttt!" Vina menempelkan jari telunjuk di bibirnya. "Perutku sedang sakit, tolong diam sebentar. Aku juga minta tolong, caskan hpku, baterainya hampir habis."


"Perut lagi sakit, masih aja mikirin baterai hp." Dimas meraih hp Vina. Begitu dia menyalakan hp berniat mengecek sisa baterai, matanya terbelalak. "Apa-apaan ini?!! Baru sehari kita menikah, tapi kamu sudah selingkuh?!!"


"Kamu ngomong apa sih?!!" Vina mengubah posisinya menjadi duduk.


"Lihat notifikasi ini!!" Dimas menunjukkan notifikasi hp Vina. "Katanya kamu tidak menyukai 3d, lalu siapa dia?!! Dia sampai mengirimimu pesan, menyuruhmu untuk menemaninya bermain! Katakan siapa dia?!!"


Vina melihat notifikasi yang ditunjukkan Dimas. Vina terperangah dibuatnya.


"Perutku lagi sakit, tapi kamu malah memperdebatkan hal yang tidak penting?!!"


"Bagaimana mungkin ini tidak penting?!!


Ada seseorang yang mengirimi pesan, mengajak istriku bermain. Bagaimana bisa kau menyebutnya tidak penting?!!"


"Aish!! Dasar!! Setidaknya baca yang benar!! Itu bukan pesan dari seseorang!! Melainkan notifikasi dari permainan!! Itu notifikasi dari Hago (sejenis permainan)!!"


Dimas tampak ragu.


"Kalau tidak percaya, cek saja! Buka notifikasinya!"


Dimas membaca notifikasinya lagi.


Ada tulisan Hago di atas pesan itu. Ia membukanya. Dan benar saja, saat di klik, hp langsung otomatis masuk ke aplikasi game.


"Ehehehe..iya," Dimas menggaruk tengkuknya malu.


Vina mencebikkan bibirnya, "Ihihihihihi..


Cepat chargerkan hpku! Nanti baterai habis!"


"Aku akan mengambil bubur dulu untuk kamu makan." Dimas berjalan keluar kamar.


"Dasar!! Aku heran, bagaimana bisa dia menjadi pemimpin perusahaan? Dia bahkan tidak bisa membaca tulisan dengan benar!! Aku sedang kelaparan, tapi dia malah mendebatkan hal yang konyol!"


Dimas kembali ke kamar dengan membawa nampan berisi bubur dan air.


"Mau aku suapi?" tanya Dimas.


"Tidak. Aku bisa makan sendiri."


"Kalau gitu, aku mandi dulu ya." Dimas bergegas masuk ke kamar mandi.


Vina melahap buburnya hingga habis.


Beberapa menit kemudian, Dimas keluar dari kamar mandi. "Tidurlah! Kau sedang sakit. Harus banyak istirahat!"


Vina melirik jam.


Jam 08.00


"Ini baru jam 8. Aku tak terbiasa tidur lebih awal! Aku terbiasa tidur subuh atau jam dua dini hari. Lagi pula, aku tidak sakit. Aku hanya lapar."


"Makanya, jika lapar itu makan! Bukannya nonton anime! Nonton anime nggak bisa membuatmu kenyang!"


"Iya iya," sahut Vina malas.


"Kamu juga harus kurangi jam begadangmu! Lihat itu! Kantung matamu mulai terlihat! Masih mending kalau kantong Doraemon, bisa ngeluarin barang bermanfaat. Lah ini, kantung mata. Nggak ngeluarin apa-apa, item lagi."


Vina tak menghiraukan perkataan Dimas. Ia melihat Hpnya yang sedang dicharger, mengecek berapa persen baterainya terisi.

__ADS_1


Vina menyalakan hp. "Tujuh persen?!!" Matanya terbelalak melihat isi baterai. Vina membetulkan posisi chargernya. Hpnya berbunyi menandakan pengisian baterai masuk.


"Aaaarrgh! Dimas!" Vina menggaruk kepalanya kesal. "Dari tadi kamu nge-charger Hp, tapi ternyata nggak masuk!!"


Dimas menghampiri Vina. Ikutan melihat Hp Vina. "Ahaha..Iya. Ternyata tadi aku tidak memasangnya dengan benar. Maaf ya."


"Gimana sekarang? Aku nggak bisa nonton anime. Laptopku juga masih ada di rumah!"


"Itu tandanya, kamu disuruh tidur lebih awal."


"Tapi ini baru jam 8. Aku mungkin tidak akan bisa terlelap tidur, karena aku tak terbiasa tidur lebih awal."


"Kalau nggak pernah dicoba mana tahu!


Sudahlah, berbaringlah dan cobalah untuk tidur."


Vina menurut. Ia membaringkan tubuhnya. Kemudian disusul dengan Dimas, ia juga ikut membaringkan tubuhnya.


Vina memiringkan tubuhnya menghadap Dimas. Tak ada guling pembatas di antara mereka.


"Mana gulingnya?" tanya Vina.


"Aku masih trauma dengan mimpi tadi malam! Jadi kuputuskan untuk tidur tanpa guling selama beberapa hari."


"Lalu bagaimana dengan pembatasnya?!"


"Sudah kubilang! Untuk beberapa hari, tak akan ada guling yang akan menemani kita tidur."


"Kalau begitu, hadapkan wajahmu ke arah sana! Aku tak terbiasa tidur dengan menatap wajah seseorang." Vina menarik selimut sampai lehernya.


"Tutup saja matamu! Dengan begitu, kamu nggak akan melihat wajahku!"


"Aish! Dasar!" Vina mengubah posisi tidurnya, membelakangi Dimas.


Tik tik tik. Detik jam terus berdetak. Vina masih belum bisa tidur.


Sudah kuduga! Aku tidak akan bisa tidur!


Aku tidak terbiasa tidur lebih awal seperti ini!


"Heeeeeghh." Vina meregangkan otot-ototnya.


Pats!!


Mati lampu!


Keadaan kamar menjadi gelap gulita.


Membuat Vina mencengkeram ujung selimut, karena dia takut gelap.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2