
"KENAPA KAMU BEGITU MEMBELANYA?!!!"
Vina tersentak kaget karena Dimas membentaknya, membuat air matanya keluar dari sudut mata, mengalir ke pipi.
Dimas terhenyak melihat air mata mengalir di pipi Vina.
"A-aku tidak bermaksud membentakmu." Dimas hendak menghapus air mata Vina. Tapi dengan cepat Vina menepis tangan Dimas.
Segera Vina menghapus air matanya. Dan berlari meninggalkan Dimas.
Dimas berlari mengejar Vina. Tapi Vina dengan cepat menghentikan taksi. Dan taksi pun melaju meninggalkan Dimas.
Dimas segera kembali ke mobilnya. Dan mengejar taksi yang membawa Vina pergi.
Vina menoleh ke belakang, melihat mobil Dimas mengikutinya.
"Tolong cepetan ya Pak."
"Iya neng." Supir taksi pun segera menancap gas.
Apa yang aku lakukan? Kenapa aku lari dari Dimas? Toh meskipun sekarang aku lari darinya, nanti aku juga ketemu dia di rumah! Haaaahh.
Begitu taksi sampai di depan rumahnya, Vina langsung berlari masuk rumah.
Dimas yang juga sampai, segera menyusul Vina.
Aku nggak boleh bersikap seperti ini pada Dimas. Dimas nggak salah! Yang salah itu aku, karena aku menyukainya!
"Vina!" Dimas menahan lengannya yang masuk ke kamar.
Vina menoleh, air matanya jatuh lagi. Segera ia mengusapnya.
Iya, yang salah itu aku. Karena aku menyukainya! Padahal aku yang mengatakan kita tidak saling mencintai, tapi malah aku yang jatuh cinta padanya!
"Maafin aku Vin, aku nggak bermaksud membentakmu."
Kamu nggak perlu minta maaf Dim, yang salah itu aku. Aku yang bersikap egois. Aku harus minta maaf padanya.
"A-aku--"
Tririring!
Vina urung bicara karena deringan hp Dimas.
Dimas melihat hpnya.
Sekar!
Vina ikut membaca nama yang menelfon hp Dimas.
"Angkat saja. Nggak papa."
"Sebentar ya." Dimas keluar kamar.
Vina mengusap air matanya lagi.
Iya, aku yang salah karena telah mencintai laki-laki yang sudah mencintai perempuan lain. Aku tidak boleh menjadi penghalang mereka.
__ADS_1
Sementara di luar kamar, Dimas mengangkat telfon.
[ Halo, Pak Dimas ada dimana? Katanya mau ambil berkas di mobil, kok nggak balik-balik? Klien kita sudah datang Pak! ]
Dimas baru sadar, dia keluar kafe untuk mengambil berkas di mobil. Tapi malah melihat Vina dan Hanan.
"Maaf Sekar. Aku akan segera ke sana." Ah, lalu bagaimana dengan Vina?
Dimas masuk ke kamar, menatap Vina.
Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa aku benar-benar menjadi penghalang antara kau dan Sekar?
Melihat Dimas yang ingin mengatakan sesuatu, Vina langsung menjawab,
"Iya, pergilah." Pergilah ke Sekar. Aku tidak akan menghalangimu.
"Maaf ya Vin. Aku tinggal sebentar. Setelah selesai meeting, aku akan langsung pulang." Dimas keluar kamar, meninggalkan Vina.
Selepas ditinggal Dimas, Vina membaringkan tubuhnya. Dia kembali menangis.
Padahal aku tahu mencintai manusia itu sama saja dengan menggali lubang untuk diri sendiri. Tapi kenapa aku malah mencintai Dimas? Aku menggali lubang untuk diriku sendiri! Dan sekarang aku terjatuh di lubang yang kubuat!
________
Sepulang dari meeting, Dimas memutuskan tak membahas tentang Hanan lagi. Ia tak ingin bertengkar dengan Vina.
Dimas masuk ke kamar mandi, melewati Vina yang memandang kosong ke hp di tangannya.
Vina bilang dia sudah memaafkanku. Tanpa sebab, dia juga minta maaf padaku.
Saat Vina memainkan hpnya, dia teringat dengan Hanan.
Vina memencet nomor Hanan.
"Halo Hanan, bagaimana keadaanmu? Maaf, gara-gara aku Dimas salah paham dan memukulimu."
[ Aku sudah nggak papa kok Vin. Kamu nggak perlu minta ma-- ]
Dimas merampas hp dari tangan Vina dan menutup sambungan telefon.
"Dimas! Kenapa ka--"
"Kenapa kamu menelfon Hanan?! Dan kenapa kamu minta maaf padanya?!"
"Dia nggak salah! Jadi aku minta maaf! Tadi itu mataku beneran kemasukan debu Dim. Aku nggak bohong. Hanan nggak salah!!"
Meskipun Dimas percaya yang Vina katakan, tapi dia tetap merasa kesal karena Vina menghawatirkan keadaan Hanan.
"Kenapa kamu begitu membelanya Vin?! Kenapa?! Kamu bahkan juga khawatir padanya! Apa kamu menyukai Hanan?!"
Vina terbelalak. "Kenapa kamu berpikir seperti itu?!" Vina tidak percaya Dimas menuduhnya menyukai Hanan.
"Ya karena sudah jelas kan. Kamu khawatir dengannya, kalian juga mempunyai hobi yang sama! Kamu pasti menyukainya!!" teriak Dimas. "Padahal kita sudah menikah, tapi kamu malah dekat-dekat dengan laki-laki lain!"
"Kami hanya berteman!" bantah Vina. "Kenapa kau marah padaku hanya karena aku mempunyai teman laki-laki?!! Padahal meskipun kau menjalin hubungan dengan Sekar aku tidak marah padamu!!"
"Apa?!! Menjalin hubungan dengan Sekar?! Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?! Aku dan Sekar tidak ada hubungan apa-apa!"
__ADS_1
"Kenapa kau masih menyangkalnya?!
Sudahlah, lupakan! Kembalikan hpku! Aku masih belum selesai bicara dengan Hanan." Vina berusaha meraih hpnya.
"Sampai segitunya kah kau khawatir pada Hanan?!"
"Kau tidak ingat, kau memukulinya sampai hidungnya mengeluarkan darah! Aku bahkan tidak bisa menolongnya waktu itu!"
Mendengar perkataan Vina, Dimas merasa semakin kesal.
"Jika kau memang sangat mengkhawatirkannya, kenapa kau tidak pergi saja ke rumahnya?!!"
Vina terhenyak, perkataan Dimas terdengar seolah menyuruhnya keluar dari rumah itu.
Segera Vina meninggalkan kamar. Dia berlari keluar rumah. Menyuruh Pak Joko untuk membuka pagar depan.
Vina berlari menyusuri jalanan yang sepi dan gelap.
Kakinya tersandung membuatnya terjatuh.
"Aww!" Vina memegangi lututnya. Dipandanginya tali sandalnya yang putus. "Heeeghh! Sandalku pun tidak mendukungku!!" ia melempar sandalnya entah kemana.
Kemudian dia bangkit berdiri, melanjutkan jalannya tanpa alas kaki. Dia terus berjalan entah kemana.
Sesekali dia meringis sakit karena kerikil mengganjal kakinya.
Bledaarrr!!
Vina reflek menutup telinganya akibat suara petir. Hujan pun mulai turun.
Aku mau kemana?
Air mata Vina mengalir, bercampur dengan air hujan yang mengguyurnya.
Ia sesenggukan di bawah guyuran hujan. Tidak ada niatan untuk berteduh dipikirannya.
Sesakit inikah patah hati? Rasanya sesak sekali!
Guyuran air hujan yang deras menghantam kepalanya. Padahal seharian tadi dia menangis membuat kepalanya pusing, sekarang ditambah dengan guyuran hujan.
Hawa dingin di malam hari, ditambah hujan dan angin membuat Vina menggigil kedinginan. Apalagi dia hanya memakai kaos oblong lengan pendek.
Merasa kakinya sakit karena tak memakai alas kaki, Vina mendudukkan dirinya di sebuah pangkalan ojek di pinggir jalan yang sudah sepi.
Vina menatap kosong jalanan yang diguyur hujan.
Kemudian dia berbaring karena merasa pusing.
Apa semua orang yang patah hati merasakan sesak ini? Kenapa mereka menamakan 'jatuh cinta'? Bukankah 'jatuh' itu sakit? Kenapa mereka tidak menamakan 'bangun cinta' saja?
Vina melihat mobil Dimas berhenti di depannya.
"Vina!" Dimas berlari menghampiri Vina.
"Kamu kenapa?!"
Vina hanya menggigil, tak menjawab Dimas.
__ADS_1
Sesaat sebelum pingsan, Vina merasakan dirinya dipeluk Dimas. "Maafkan aku.." suara Dimas terdengar lirih di telinganya. Kemudian semua menjadi gelap.
BERSAMBUNG