CINTAKU TERHALANG ANIME

CINTAKU TERHALANG ANIME
Gejala Penyakit Jantung


__ADS_3

"Gimana, bagus nggak?"


Vina keluar dari ruang ganti menunjukkan dress yang sedang dipakainya kepada Dimas dengan wajah penuh senyuman.


'Akan ada bonus Manga kesukaanmu jika kamu shopping dengan wajah penuh senyuman. Ditambah, gandeng lenganku saat kamu berjalan!'


Itulah alasan Vina sekarang ini tersenyum dengan manis.


Sudah tujuh dress yang Vina coba. Dan Dimas selalu mengangguk setiap melihat dress yang dicoba Vina.


"Kita beli semuanya!" ucap Dimas.


"Ha?!" Vina terkejut. "Yaudah, kalau gitu aku ganti baju dulu." Vina hendak kembali ke ruang ganti.


"Nggak usah ganti baju!" Cegah Dimas.


"Kamu pakek dress itu aja untuk jalan-jalan."


"Tapi--"


"Bonus Manga kesukaanmu akan hilang jika kamu tak memakai dress itu!"


Vina mendengus kesal. Heeghh! Demi hadiah-hadiah itu! Aku harus memakai ini!


"Oke." Vina menghampiri Dimas. "Tapi bajuku dan baju-baju yang kita beli tadi tidak kita bawa?"


"Tidak perlu. Mereka akan langsung mengirimnya ke rumah. Lagian siapa juga yang mau menenteng semua barang-barang itu saat jalan-jalan?"


Vina melirik Dimas.


Itu kan salahmu sendiri karena membeli semua baju yang kucoba!


"Ehem!" Dimas berdehem melirik lengannya. Mengisyaratkan sesuatu pada Vina.


"Ah. Maaf aku lupa." Vina segera menggandeng lengan Dimas. Vina merasa aneh. Kenapa harus ada syarat seperti ini. Bukannya agak berlebihan ya sampai mengandeng lengan segala.


"Sekarang kita mau kemana lagi?"


"Aku mau ke kamar mandi dulu. Kamu tunggu aku di sini ya."


"Oke. Jangan lama-lama."


Vina memandangi hp yang ada di genggamannya.


Inilah kenapa aku tidak suka memakai dress. Aku bukan perempuan yang suka menenteng tas kesana-kemari. Makanya aku lebih suka memakai hoodie saat keluar agar aku bisa menaruh hpku di kantongnya.


"Vina!"


Vina menoleh ke sumber suara. "Hanan!"


"Lagi shopping ya?"


"Iya."


"Kamu terlihat sangat manis dengan dress itu."


"Ahaha. Terimakasih."


"Apa kamu sedang menggoda istriku?"


Dimas tiba-tiba muncul dari belakang Vina.


Hanan tidak terkejut akan kedatangan Dimas. Sudah kuduga Vina ada di sini bersama dengan Dimas.


"Ahaha. Pak Dimas ini suka bercanda ya. Aku hanya memuji Vina." Hanan memaksakan senyumnya.


"Ahaha. Tentu saja harus ada candaan biar tidak kaku. Ya kan, Vina?" Dimas merangkul bahu Vina.

__ADS_1


Vina mengernyit heran.


Apa-apaan dengan senyuman mereka itu? Dilihat dari manapun aku bisa tahu kalau mereka itu pura-pura tersenyum.


Lihat itu. Mata Dimas melotot tapi bibirnya tersenyum. Nyeremin.


"Kalau begitu aku dan istriku permisi dulu ya," pamit Dimas pada Hanan.


Kenapa sih Dimas ini. Kenapa dia begitu menekankan kata 'istri'.


"Kamu ngobrolin apa sama Hanan tadi?"


"Nggak ngobrolin apa-apa."


Lengan Dimas terasa sangat hangat. Entah kenapa aku jadi merasa nyaman menggandengnya.


Ah! Tidak-tidak. Apa yang aku pikirkan?!


Ini pasti karena seharian ini aku memeluk lengannya.


"Vina."


"Ya?"


"Kau sangat cantik jika tersenyum."


Wajah Vina merona mendengar pujian dari Dimas. "K-kau kenapa sih? Kenapa akhir-akhir ini kamu jadi aneh?"


Dimas tersenyum menatap Vina.


Deg Deg


Vina memegang dadanya.


Apa ini?! Kenapa jantungku berdetak kencang? Apakah ini gejala penyakit jantung?!


________


Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Apa aku terkena penyakit jantung? Tapi bukankah aku masih terlalu muda untuk terkena penyakit itu?


Dimas berbaring di tempat tidur sambil nonton TV. Melihat Vina yang selalu memegang dadanya, ia jadi khawatir.


"Kamu kenapa Vin?! Aku perhatikan dari tadi kamu terus memegang dadamu." Dimas mendekat ke Vina dan memegang pundak Vina.


Vina mendongak. Membuat matanya bertemu dengan mata Dimas.


Deg Deg


"Ukh!" Jantungku berdetak kencang lagi! Sepertinya aku benar-benar terkena penyakit jantung.


"Vina! Kamu kenapa? Apa kamu sesak nafas?!!"


"Tidak! Tapi jantungku berdetak kencang!"


"Apa kamu punya penyakit jantung?!" Dimas terlihat sangat khawatir.


"Aku nggak tahu," jawab Vina sambil terus memegang dadanya.


"Kalau begitu kita harus ke rumah sakit sekarang untuk memeriksanya!" Dimas langsung menggendong tubuh Vina. Membuat jantung Vina kembali berdetak kencang.


Vina kembali memegang dadanya.


"Kenapa?! Apa Jantungmu berdetak kencang lagi?!!"


"Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri." Vina menggerak-gerakkan kakinya.


"Tidak! Aku akan menggendongmu sampai mobil!" Dimas menggendong Vina keluar kamar.

__ADS_1


"Apa yang terjadi, Tuan? Ada apa dengan Nona Vina?!" Bu Mina terlihat cemas melihat Vina yang digendong Dimas.


"Kami mau ke rumah sakit Bu Min! Tolong bilang ke Pak Joko untuk cepat menyiapkan mobilnya!"


"B-baik Tuan."


Dalam sekejap Pak Joko sudah siap dengan mobil Dimas.


"Hei! Tidakkah kau terlalu lebay? Turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri."


"Diamlah. Kita akan segera ke rumah sakit!" Dimas memasukkan Vina ke mobil. Dia juga masuk ke kursi penumpang. "Pak Joko, tolong antarkan ke rumah sakit."


"Baik Tuan."


________


"Bagaimana keadaan istri saya Dok? Apa dia terkena penyakit jantung?" tanya Dimas setelah Dokter selesai memeriksa Vina.


"Kondisinya baik-baik saja. Dan dia juga tidak terkena penyakit jantung. Oh iya, apa istri Tuan sering begadang?"


Dimas menoleh ke Vina. "Sering Dok."


"Kalau begitu kurangi begadang. Tidak baik juga untuk kesehatan."


Setelah selesai diceramahi dokter, Vina dan Dimas keluar dari ruangan dokter.


"Kamu dengar kan tadi? Dokter bilang jangan sering begadang!"


"Iya, aku dengar."


"Tapi aneh ya. Dokter bilang kalau kamu tidak terkena penyakit jantung. Tapi kenapa tadi jantungmu berdetak kencang?"


"Entahlah. Aku juga nggak tahu. Tapi sekarang jantungku sudah berdetak normal lagi."


"Syukurlah kalau begitu."


________


Gara-gara perkataan Dokter tadi, Dimas memaksaku untuk tidur lebih awal. Ugh!


Tapi meskipun berbaring, aku tetap tidak bisa tidur.


Dimas membalikkan tubuhnya menghadap Vina.


"Kamu masih belum tidur Vin?."


"Belum."


Dimas tampak berpikir sejenak. Kemudian kembali bersuara. "Aku boleh tanya sesuatu Vin?"


"Boleh."


"Sebelum kita menikah, kau pernah bilang kalau kau tidak bisa menyukaiku. Kenapa?"


"Aku itu otaku. Aku sudah pernah bilang kan?"


"Banyak otaku di luaran sana. Tapi mereka masih berpacaran tuh. Kenapa kamu tidak? Kamu bisa tetap menyukai anime dan menyukai seseorang."


"Kenapa kamu menanyakan hal itu?"


"Y-ya aku ingin tahu saja."


"Ya, mungkin karena aku terlalu menyukai anime. Lagi pula, kita tidak akan patah hati jika menyukai anime. Berbeda dengan menyukai manusia. Menyukai seseorang itu ibaratkan kita menggali lubang untuk diri kita sendiri di kemudian hari."


"Kenapa bisa seperti itu?"


"Saat kau terlalu menyukai seseorang dan menyerahkan semua perasaanmu padanya, ketika orang itu mengkhianatimu dan pergi meninggalkanmu, hatimu akan sangat hancur. Dan itu salahmu sendiri karena terlalu menyukainya, dan menyerahkan semua kepercayaan dan perasaanmu padanya."

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2