
Jam 3.15 dini hari.
"Hiks hiks hiks. Snif snif."
Dimas terbangun mendengar seseorang yang menangis. Tubuhnya menegang, tak berani menoleh.
Siapa yang nangis di jam segini?!
Astaga!! Masa ada kuntilanak di dalam rumah sih?!!
Dimas memberanikan diri untuk menoleh. Rasa penasaran lebih besar dari rasa takutnya.
Dia memejamkan mata dan menoleh dengan perlahan. Perlahan dia membuka matanya.
"Vina! Kamu kenapa nangis?!"
Ternyata Vina yang menangis.
"Ada apa, kamu kenapa nangis?!" Dimas bangkit dari tidurnya, mengubah posisi menjadi duduk.
"Mati.., hiks hiks.." Vina sesenggukan.
"Mati? Siapa yang mati?!!" Apa ada kerabat Vina yang meninggal?!
"I-itu.., hiks hiks.." Vina mengusap air matanya. "Kurama mati...Huaa hiks hiks.." Vina kembali menangis.
Astaga!! Aku kira siapa yang mati!!
Apa semua Wibu jadi kayak gini kalau ada karakter yang mereka sukai meninggal?!!
Dimas mengusap kasar wajahnya. Dia berusaha sabar menghadapi Vina yang menangis hanya karena anime yang ditontonnya.
"Jadi Pets-nya Naruto meninggal?" Meskipun aku nggak nonton anime, tapi aku sedikit tahu tentang Naruto.
Vina terperangah. "Pets?! Kamu kira ini game ep ep yang ada pets-nya!"
Dimas menggaruk kepalanya."Y-ya, aku nggak tahu gimana nyebutnya. Soalnya kalau di game kan nyebutnya pets."
"Bukan pets, Kurama itu biju yang ada di tubuh Naruto!!"
"I-ya. Pokoknya itulah. Kenapa kamu sampai nangis kayak gini cuma gara-gara dia mati?"
"Cuma?! Kamu bilang cuma?!! Kamu bayangin aja. Naruto ditinggal mati orang tuanya sejak kecil. Dia nggak punya siapa-siapa. Kurama udah nemenin dia sejak kecil."
Siapa juga yang akan nangis cuma gara-gara hal kayak gitu?!!
Mata Dimas yang menatap Vina seolah mengatakan itu.
"Ah, udahlah! Salahku juga karena berusaha menjelaskan padamu. Kamu juga nggak akan ngerti. Kamu pasti berpikir aku kekanak-kanakan kan? Maaf karena sudah membuatmu terbangun." Vina mengusap ingus di hidungnya.
Mata Vina terbelalak melihat ingus di hidungnya.
Merah.
Itu bukan ingus, tapi mimisan. Vina mimisan.
__ADS_1
"Vina! Kamu mimisan!" Dimas meraih tisu di laci, mengelap tangan dan hidung Vina.
Tes tes
Bukannya berhenti, darahnya malah menetes lebih cepat dari hidung Vina.
"Lihat ini! Ini karena kamu sering begadang! Jadinya kamu mimisan! Gimana nih! Darahnya nggak mau berhenti!" ucap Dimas panik. Dia memang selalu merasa sangat panik saat melihat banyak darah.
Tisu yang disumpelkan ke hidung Vina tidak ada gunanya sama sekali. Tisu yang awalnya putih dengan cepat berubah menjadi merah.
"Gimana nih Vin..Darahnya nggak mau berhenti!" Dimas tambah panik melihat darah yang terus menetes dari hidung Vina.
Sementara Vina, dia tidak tahu harus bereaksi apa, karena Dimas yang terus saja berteriak panik kepadanya.
Padahal yang mimisan aku. Tapi kenapa malah dia yang panik? Apa dia phobia darah?
Dimas kembali menyumpelkan banyak lembar tisu ke hidung Vina.
"Aku nggak bisa nafas kalau gini! Bukannya darahnya yang berhenti, malah nafasku yang berhenti!" Vina mencopot sumpelan tisu di hidungnya. Dan menadahkan tangannya menggantikan posisi tisu tadi.
"Gimana nih Vin. Apa kamu tahu cara menghentikan mimisannya?!"
"Aku nggak tahu." Vina menunduk. Kini darah menetes dari sela-sela jarinya. "Aku harus turun dari tempat tidur. Darahnya menetes ke selimut!"
Vina beralih duduk di sofa. Dia menundukkan kepalanya. Membiarkan darahnya menetes ke lantai.
"Apa tisunya sudah habis?" tanyanya.
"Sudah habis! Gimana nih! Darahnya masih belum berhenti juga!" Kepanikan Dimas semakin bertambah melihat tetesan darah di lantai.
"Gimana kalau nanti darah kamu habis?!!"
"Ya nggak mungkin lah Dim, ini kan cuma mimisan. Jangan lebay deh! Tolong carikan aku kain atau apa gitu, untuk ngelap darah yang ada di lantai."
"Aku akan tanya Bu Min. Dia pasti tahu cara menghentikan mimisan." Dimas keluar kamar.
"Nggak usah Dim, bentar lagi udah berhenti kok! Lagian Bu Min pasti masih tidur."
Dimas tak menghiraukan ucapan Vina dan berlalu keluar kamar.
Tak lama kemudian, Dimas kembali ke kamar bersama Bu Mina.
"Ya ampun Non, banyak banget darahnya!" Bu Mina bergegas menghampiri Vina.
"Nona Vina jangan nunduk, biar darahnya nggak keluar terus." Bu Mina menegakkan tubuh Vina. "Condongkan badan sedikit ke depan, biar darahnya nggak masuk ke tenggorokan."
Vina membuka tangannya. Kini wajah Vina tampak penuh dengan bercak darah.
"Tutup hidung Nona. Untuk sementara bernafaslah lewat mulut."
Vina menuruti perkataan Bu Mina. Dia menutup hidungnya dan bernafas lewat mulut.
Kemudian Ira masuk membawa baskom berisi air es dan juga handuk kecil.
Setelah membersihkan darah dari tangan dan hidung Vina. Bu Mina mengompres pangkal hidung Vina menggunakan air es yang dibawa Ira tadi.
__ADS_1
Ira membersihkan darah di lantai dan mengganti selimut yang terkena darah.
Tak berapa lama, darah dari hidung Vina sudah berhenti menetes.
"Makasih ya Bu Min. Maaf sudah ngerepotin, dan ganggu Bu Min tidur," ujar Vina.
"Nona nggak perlu ngomong gitu. Ini sudah tugas saya," sahut Bu Mina. "Karena darahnya sudah berhenti, saya permisi dulu ya," pamit Bu Mina keluar kamar.
Dimas menutup pintu kamar. Dan menghampiri Vina.
"Selanjutnya nggak ada begadang-begadang lagi!" Dimas menyentuh lengan Vina, ingin membantunya kembali ke tempat tidur.
"Badan kamu kok hangat Vin?!"
"Namanya juga orang hidup! Kalau kulitku dingin, mati dong berarti," cetus Vina asal.
Dimas menghela nafas kesal. "Ck! Maksudku itu, badan kamu lebih hangat dari biasanya!"
"Mungkin karena aku galau, karena Kurama mati," sahut Vina.
"Hadeehh. Wibu sama gila itu beda tipis ya-- Adu-duh! Sakit tahu!" Dimas menggosok perutnya yang dicubit Vina.
"Rasain! Sekali lagi ngomong gitu, aku tambahin cubitannya! Kepalaku pusing, aku mau tidur." Vina membaringkan tubuhnya.
________
"Vin, ayo bangun."
Vina membuka matanya mendengar Dimas membangunkannya.
"Kepalaku pusing, kayaknya gara-gara aku baru tidur subuh tadi deh. Aku tidur lagi aja ya," ujar Vina lalu menutup matanya lagi.
"Enak kan kalau kepala pusing. Besok-besok lanjutin lagi begadangnya!" omel Dimas.
"Dim, ngomelnya nanti dulu ya. Aku mau tidur, kepalaku pusing."
"Iya iya. Kamu tidur lagi aja. Dua jam lagi aku bangunin kamu makan ya."
"Nggak usah, kamu berangkat kerja aja."
"Nggak, hari ini aku cuti kerja aja."
Dimas meraih hpnya, menelfon seseorang.
"Halo. Ron, hari ini gue cuti kerja."
[ Nggak bisa Dim, hari ini ada klien dari Singapura. Kamu lupa kalau hari ini meeting sama dia? ]
"Oh iya, aku lupa. Apa nggak bisa lu aja yang ngewakilin gue?"
[ Nggak bisa Dim, ini klien penting. Harus lu. Jangan aneh-aneh deh, pokoknya lu harus masuk kerja. ] Tut tut.
Sambungan telefon terputus.
Dimas memandang telfonnya "Yang bos siapa, yang ngatur siapa." Dimas beralih menatap Vina. "Vin, maaf ya. Aku nggak bisa nemenin kamu. Aku ada meeting penting."
__ADS_1
"Iya, kamu pergi aja. Setelah tidur sebentar, aku pasti baikan kok."
BERSAMBUNG