CINTAKU TERHALANG ANIME

CINTAKU TERHALANG ANIME
Kencan


__ADS_3

"Kita mau kemana?" Vina menoleh ke Dimas yang sedang sibuk menyetir. "Eh? Kok berhenti?"


Dimas menghentikan mobilnya. Menoleh ke Vina. Menatapnya dengan lembut.


Begitu lama mereka saling bertatapan.


Ini adalah kencan. Aku ingin menumbuhkan rasa cinta di hatinya kepadaku lewat hal-hal romantis yang kulakukan. Dan akan kumulai dari sekarang!


Dimas hendak menggerakkan tangannya, ingin menyentuhku wajah Vina.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?! Apa ada upil di hidungku?" pertanyaan Vina mengurungkan niat Dimas yang tadinya ingin menyentuh wajah Vina.


Ugh! Padahal aku menatap matanya dengan romantis. Tapi dia malah berpikir seperti itu.


Vina dengan semangat mengurek lubang hidungnya. "Mana? Nggak ada upilnya kok," ujar Vina sambil terus mengupil.


Dimas mengusap wajahnya kasar.


"Hentikan itu! Kau mau membuat lubang hidungmu besar sebelah?!"


Vina berhenti mengupil.


"Kau tadi menatapku aneh. Jadi kupikir ada upil di hidungku."


Dimas mendengus. "Kita sudah sampai!"


"Eh. Udah sampai nih?"


Dimas membuka pintu mobil dan keluar.


"Tunggu sebentar, aku akan bukakan pintu untukmu." Hari ini aku akan memperlakukanmu dengan romantis.


Vina keluar dari mobil tanpa menunggu Dimas membukakan pintu untuknya.


"Kenapa kau keluar duluan? Kan sudah kubilang aku akan membukakan pintu untukmu."


"Aku bisa membuka pintu sendiri. Aku punya tangan."


Ugh! Benar-benar nggak bisa diajak romantis.


"Kita ke bioskop?" Vina menatap bangunan di depannya


"Ya. Kita akan mulai jalan-jalan dengan nonton bioskop."


"Apa? Kamu bilang mulai?! Berarti setelah ini kita masih ke tempat-tempat yang lainnya?"


"Tentu saja. Kuota yang kamu beli kemarin kan unlimited. Jadi jalan-jalannya juga harus unlimited dong!"


"Ugh! Dasar."


Vina dan Dimas masuk ke bioskop dan mulai menonton film.


Suana di bioskop gelap. Tak ada lampu yang menyinari ruangan. Hanya ada cahaya dari layar yang sedang menampilkan film.


Hening.


Para penonton sedang hanyut dalam adegan film.


"Ahaahahaha!" tawa Vina meledak tiba-tiba. Membuat penonton lainnya menatap jengkel ke arahnya.


"Vina! Kenapa kamu ketawa? Ini kan lagi adegan sedih, bukannya adegan lucu."


"Ahahaha! Kamu nggak liat itu, alat pernapasan di hidungnya itu terbalik! Dokternya salah memasang! Ahahaha!" Vina menunjuk dokter yang ada di layar yang sedang berusaha menyelamatkan pasiennya.


Sepertinya tak ada penonton yang menyadari kesalahan film tersebut selain Vina.


"Siapa yang peduli dengan itu? Kesalahan dokter itu tertutupi oleh rasa sedih yang ditunjukan oleh si suami yang tak berhasil menyatakan cinta pada istrinya. Istrinya keburu tertabrak mobil! Jadi tidak ada yang peduli sama kesalahan filmnya!" ucap Dimas.


"Ahahaha. Terserahlah! Bagiku itu lucu."


_________


"Sekarang kita mau kemana lagi?"


Mereka baru saja keluar dari bioskop.

__ADS_1


"Tunggu di sini sebentar." Dimas berjalan menjauh dari Vina.


Kemudian dia kembali dengan membawa seikat besar bunga. Dan memberikannya pada Vina.


"Untukmu."


Vina mengerutkan alisnya.


"Untuk apa bunga sebanyak ini?


Kau pikir aku Susana yang suka makan bunga?! Aku nggak mau bunga. Aku mau cilok!" Vina menunjuk penjual cilok yang ada di pinggir jalan.


"Eeee?!" Dimas terbelalak. Bagaimana bisa ada perempuan yang nolak dikasih bunga? Dia bahkan lebih memilih cilok!


Dimas mengusap wajahnya.


"Nih, uangnya kalau mau beli cilok." Dimas menyerahkan uang ke Vina.


Vina mengambil uang dari Dimas dan bergegas ke penjual cilok.


Baru lima langkah Vina berbalik.


"Dimas!"


"Apa?" Apa Vina berubah pikiran dan ingin menerima bunganya?


"Cilokmu pedes atau nggak??" tanya Vina.


Dimas terhenyak. Heeghh! Ternyata dia malah nanyain tentang cilok.


"Kau beli saja buatmu sendiri! Aku nggak usah!"


"Oke!" Vina kembali berjalan ke penjual cilok.


________


"Habis ini kita kemana?" tanya Vina sambil mengunyah ciloknya.


"Ke kafe."


"Kau kan baru makan cilok."


"Cilok nggak buat kenyang tahu!"


Dimas mengangkat alisnya sebelah.


"Udah makan cilok se-plastik gede gitu masih belum kenyang?"


"Perutnya orang Indonesia mah nggak akan kenyang sebelum makan nasi!"


"Huh. Dasar. Badan aja yang kecil. Tapi makan banyak."


Dimas melajukan mobilnya ke sebuah kafe.


Sepertinya Dimas sudah memesan tempat di kafe itu.


Karena begitu duduk, para pramusaji langsung membawa makanan ke meja mereka.


Hanan melihat Vina dari jauh dan bergegas menghampirinya.


Vina lagi sama siapa itu?


Apa dia pacarnya?


Hanan tak bisa melihat wajah laki-laki yang bersama Vina. Karena dia dari arah belakangnya.


"Vina!" panggilan dari Hanan mengejutkan Vina.


"Hanan."


Saat melihat wajah laki-laki yang bersama Vina, Hanan terkejut. "Pak Dimas?!"


Dimas mendongak. "Pak Hanan?!


Pak Hanan kenal sama Vina?"

__ADS_1


"Iya. Aku pernah menyelamatkannya watu dia hampir diculik."


"Diculik?!" Dimas menatap terkejut ke Vina.


"Ahaha. Ceritanya panjang. Nanti aku ceritain," ucap Vina.


"Kalian ngapain di sini?" tanya Hanan, yang membuat Dimas mengerutkan alisnya.


"Ngapain lagi. Kencanlah!"


Hanan terkejut mendengar jawaban Dimas. "Jadi Pak Dimas pacaran sama Vina?"


"Pacaran?" Dimas menatap Hanan. "Kami sudah menikah!"


Hanan tercengang.


Jadi Vina sudah menikahi?!!


Dimas menangkap raut kecewa dari wajah Hanan.


Kenapa dia terlihat kecewa mendengar aku dan Vina sudah menikah?


Menyadari Dimas yang terus menatapnya, Hanan segera mengubah ekspresi wajahnya.


"K-kupikir Pak Dimas belum menikah."


"Kami baru saja menikah."


"Ah. Begitu ya. Kalau begitu, aku permisi dulu." Hanan pergi duduk tak jauh dari meja Vina dan Dimas.


"Kamu kenal Hanan?" tanya Vina pada Dimas.


"Iya. Kantor kami bekerja sama dengan kantornya."


"Ooh."


Dan di tempat duduknya, Hanan terus melihat ke arah Vina. Rasa kecewa mengganjal di hatinya.


Aku nggak nyangka ternyata Vina sudah menikah. Aku baru saja ingin mendekatinya. Ternyata dia sudah menikah. Hmmm.


Dimas menoleh. Menangkap basah Hanan yang sedang menatap Vina. Membuat Hanan langsung membuang muka, melihat ke arah lain.


Aku nggak salah lihat kan barusan?


Hanan barusan seperti sedang menatap Vina.


Dimas menoleh ke Vina.


Tapi Vina malah sibuk dengan makanan di depannya. Dia tak menyadari ada seseorang yang sedang melihatnya.


Aku yakin dia barusan melihat ke Vina.


Entah kenapa, menurutku Hanan tertarik dengan Vina.


"Vina. Hanan tadi mengatakan kamu hampir diculik. Kapan itu dan kenapa kamu tidak cerita kepadaku?!"


"Itu terjadi ketika aku ingin pergi ke kantormu."


"Berarti kemarin?!"


"Iya. Supir taksinya yang ingin menculikku. Aku berhasil kabur dan dia mengejarku. Untungnya Hanan datang. Dia menyelamatkanku dan mengantarku ke kantor. Dia juga yang menemukan hpku."


Aku bersyukur Vina selamat, tapi aku sedikit merasa tidak senang karena Hanan lah yang menyelamatkan Vina.


"Mulai sekarang kalau kamu mau kemana-mana, kamu harus mengabariku dulu. Dan juga, jangan terlalu dekat dengan Hanan."


"Kenapa? Kamu nggak suka sama Hanan? Bukannya kantor kamu kerja sama dengan Hanan ya?"


"Ya, pokoknya aku nggak suka aja kamu dekat-dekat sama Hanan!"


"Aku nggak pernah dekat-dekat sama Hanan kok. Dia cuma menolongku, itu saja." Kelihatannya Dimas sensi banget sama Hanan. Kenapa ya?


"Kalau sudah selesai makannya, kita pergi dari sini!" Aku nggak mau Vina terus-terusan dilihatin sama Hanan.


Vina mengerutkan alisnya menatap Dimas. Dimas kenapa sih? Kok ngomongnya jadi datar gitu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2