
Vina terbangun saat merasakan ada benda basah menempel di dahinya.
Ia merabanya. Sepertinya seseorang mengompresnya.
Saat pintu kamar terbuka, Vina kembali menutup matanya. Pura-pura masih tidur.
Dimas duduk di samping Vina tidur. Tangannya meraih handuk kecil di dahi Vina. Mencelupkannya ke air hangat. Setelah diperas, Dimas menaruhnya di dahi Vina lagi.
Kenapa kamu merawatku seperti ini Dim? Kalau kamu perhatian seperti ini, aku semakin tidak rela melepasmu dengan perempuan lain.
Dimas menyentuh pipi Vina yang masih panas.
Ini sudah siang, dari tadi malam Vina masih belum sadar. Apa aku bawa ke rumah sakit aja ya?
Dimas menghela nafas. Tangannya memijit keningnya.
Kemudian dia bangkit dari duduknya dan masuk ke kamar mandi.
Saat mendengar gemericik air di kamar mandi, Vina membuka matanya.
Apa yang harus aku lakukan? Ternyata melepas orang yang kita cintai itu tidaklah mudah.
Kruyuuuuk
Vina memegang perutnya yang berbunyi sekaligus perih karena lapar.
Saat melihat jam dinding, jam menunjukkan pukul 9.31.
Ini sudah siang. Pantas perutku perih!
Vina berdiri dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar. Ia ingin turun ke meja makan untuk mengisi perutnya.
Baru di anak tangga ke lima, Vina merasa pusing. Tangannya meraih teralis tangga. Karena tak kuat berjalan, Vina memilih untuk duduk sebentar.
Kelopak matanya terasa panas. Vina memejamkan matanya sebentar.
Tiba-tiba seseorang menggendongnya.
"Kenapa kamu berjalan jika tidak kuat?!" Dimas menggendong Vina dan membaringkannya di tempat tidur lagi.
"Aku lapar. Perutku perih," ucap Vina.
"Kamu bisa minta tolong padaku. Aku akan mengambilkannya." Dimas berjalan keluar kamar.
Tak berapa lama, Dimas kembali dengan membawa nampan berisi bubur dan air.
Vina bangkit duduk.
Dimas mengangkat sendok berisi bubur ke mulut Vina.
"Aku bisa makan sendiri." Vina meraih sendok di tangan Dimas.
Dalam sekejap, bubur itu sudah habis.
"Kenapa kamu nggak berangkat kerja?" Vina mendongak ke Dimas.
"Bagaimana mungkin aku meninggalkan istriku yang sedang sakit?"
Kenapa kamu masih berpura-pura peduli padaku Dim? Ini membuatku tambah sesak.
__ADS_1
"Tidurlah, badanmu masih panas." Dimas keluar kamar membawa mangkuk yang sudah kosong.
Vina memandang punggung Dimas.
Aku memang mencintainya, tapi aku tidak boleh egois. Aku akan melepasmu untuk Sekar jika itu yang terbaik!
Setelah minum obat, Vina kembali tertidur.
________
Jam menunjukkan pukul 14.01 ketika Vina terbangun.
Vina mendudukkan dirinya. Celingak-celinguk, mencari keberadaan Dimas.
Nihil. Yang dicari tak ada di kamar.
Aku tak ingin Dimas tetap menahanku untuk berada di sisinya hanya karena statusku sebagai istrinya. Bukan sebagai perempuan yang dicintainya. Tapi aku tak bisa membicarakan ini dengannya. Dimas saja tak mengakui hubungannya dengan Sekar. Mungkin aku harus bicara dengan Sekar.
Vina beranjak dari tempat tidur. Sedikit pusing tidak ia hiraukan. Ia masuk ke kamar mandi.
Selesai mandi Vina bersiap-siap pergi ke kantor Dimas.
Aku harus bicara dengan Sekar. Mumpung Dimas sekarang nggak masuk kerja, aku bisa mengajak Sekar ngobrol berdua.
Vina naik taksi, berangkat ke kantor Dimas.
Belum sampai di depan kantor Dimas, matanya menangkap sosok Dimas dan Sekar berada di sebuah toko.
"Stop, Pak! Berhenti di sini Pak!" Vina berhenti tak jauh dari toko itu.
Vina mengendap-ngendap, masuk ke toko itu juga.
Terdengar oleh Vina, Dimas juga sesekali meminta saran ke Sekar tentang kalung yang dipilihnya.
Ternyata Dimas sedang memilihkan kalung untuk Sekar! Dimas sangat menyayangi Sekar, sampai-sampai dia membelikannya hadiah.
Merasa tak sanggup melihat kedekatan Dimas dan Sekar, Vina akhirnya berniat keluar dari toko itu.
________
Dimas menghampiri meja Sekar.
"Sekar kamu sibuk nggak?"
"Nggak Pak. Ada apa Pak?"
"Istri saya akan ulang tahun. Saya ingin membelikan hadiah untuknya. Kamu kan perempuan, tolong bantu saya untuk memilih hadiah untuknya. Nggak papa kan saya minta tolong ke kamu?"
"Nggak papa Pak. Saya malah seneng bisa bantu Pak Dimas milih hadiah untuk istri bapak. Pak Dimas itu so sweet ya. Suamiku saja nggak pernah ngasih hadiah pas saya ulang tahun Pak," ucap Sekar yang malah curhat.
"Menurutmu aku harus kasih dia apa?" tanya Dimas.
"Pak Dimas tahu nggak hobi atau kesukaan istri bapak?"
"Vina sukanya anime. Sebenarnya aku sempat berpikir untuk membelikannya buku Manga atau miniatur anime. Dia pasti akan menyukainya. Tapi untuk kali ini, aku ingin memberikannya hadiah yang berbeda."
"Gimana kalau kalung emas Pak?" usul Sekar.
"Boleh juga. Apalagi toko emas nggak jauh dari sini."
__ADS_1
Dimas pun mengajak Sekar ke toko emas yang tak jauh dari kantornya.
"Sekar, menurutmu mana yang bagus?" Dimas membandingkan kalung di tangan kanan dan kirinya.
"Mm.." Sekar tampak berpikir. "Istrinya Bapak kan suka anime, sedangkan anime dari Jepang. Gimana kalau kalung dengan liontin bunga sakura Pak? Bunga sakura kan identik dengan Jepang!"
Dimas tersenyum mendengar ide Sekar. "Ide bagus! Vina pasti akan suka. Tapi di sini nggak ada yang liontin sakura. Kalau begitu aku akan pesan!"
Dimas yang sangat antusias dengan hadiah untuk istrinya tak menyadari ada perempuan yang sedang mengintipnya. Dia tidak tahu bahwa perempuan yang mengintipnya itu telah salah paham padanya.
________
Brukk!
Saat berbalik ingin keluar dari toko, Vina menabrak seseorang, membuatnya terjatuh.
"Maaf Mbak." Orang itu membantu Vina berdiri.
"Iya nggak papa kok."
"Vina!" Dimas menoleh ke arah kegaduhan, yang ternyata itu adalah Vina.
Gawat! Dimas melihatku.
Vina segera berlari keluar toko.
"Vin. Tunggu Vin!" Dimas berlari mengejar Vina.
Di luar toko, Dimas berhasil mencekal tangan Vina.
"Apalagi sih Dim!" Vina menghempaskan tangan Dimas.
"Aku ke toko ini untuk.." Dimas mengira Vina sudah mengetahui kejutan darinya yang ingin membelikannya hadiah ulang tahun. Jadi dia ingin menjelaskan kepada Vina.
"Aku sudah tahu! Kamu kesini untuk membelikan Sekar kalung kan?!"
"Apa? Sekar?" Dimas bingung. "Tunggu Vin, kamu salah--"
"Sudahlah Dim! Aku sudah tahu semuanya! Aku tahu! Kenapa kamu masih menyangkalnya?!"
Sekar ikut keluar dari toko.
"Aku tahu hubungan kalian berdua!" pekik Vina lagi. "Dan kamu Dim, kalau kamu mencintai Sekar, kenapa kamu masih pura-pura peduli padaku!!"
"Tidak Vin, kamu salah paham. Dengerin penjelasanku dulu!"
Sekar merasa tidak enak karena dirinya menjadi alasan pertengkaran suami istri itu. Vina jadi salah paham gara-gara dirinya.
"Nggak ada lagi yang perlu kamu jelasin Dim!" Vina berlari meninggalkan Dimas.
"Vin, tunggu Vin!" Dimas hendak mengejar Vina tapi ditahan oleh Sekar.
"Biar saya saja yang jelasin Pak. Saya juga merasa tidak enak, gara-gara saya--"
"Tidak, ini bukan salah kamu!"
"Pak Dimas tunggu di sini saja. Saya akan mengejar istri Bapak dan menjelaskan semuanya."
BERSAMBUNG
__ADS_1