CINTAKU TERHALANG ANIME

CINTAKU TERHALANG ANIME
Saat Istri Menjadi Orang Ketiga


__ADS_3

Sudah hampir satu jam, tapi Dimas belum keluar juga dari kamar mandi.


Dia mandi atau ngapain sih?!


Tak lama kemudian Dimas keluar dari kamar mandi hanya menggunakan celana. Badan bagian atas dibiarkannya terlihat.


Vina langsung memalingkan mukanya dari Dimas.


"Mana bajumu, kenapa kamu nggak pakek baju?"


Dimas dengan santai duduk di sofa dan menggosok rambutnya yang basah.


"Hei, apa kau tidak mendengarku?! Cepat pakai bajumu!" Vina masih berpaling dari Dimas.


"Kalau kau iri, kau juga boleh membuka bajumu!" sahut Dimas.


"Apa?! Semakin hari sikapmu semakin aneh. Sudahlah, lupakan! Aku tidak peduli kau mau pakek baju atau tidak! Terserah!" Vina menurunkan kakinya dari tempat tidur.


"Tunggu! Kamu mau kemana?!" Dimas mencegah Vina turun.


"Aku mau ke kamar mandi. Aku kan juga mau mandi."


"Biar aku gendong ke kamar mandi!"


"Nggak usah! Aku sudah cukup merinding mendengar suaramu yang tadi!"


"Kalau begitu, biar aku menuntunmu ke kamar mandi!" Dimas meraih tangan Vina dan menuntunnya ke kamar mandi. Membuat badan mereka berdekatan.


Wangi! Tubuh Dimas sangat wangi.


Sampai di pintu kamar mandi.


"Apa aku perlu memandikanmu?" tanya Dimas.


Mata Vina membulat. "Apa?!! Tidak perlu! Yang sakit itu kakiku bukan tanganku!" Vina segera menutup pintu kamar mandi.


Vina menatap sabun dan shampo di kamar mandi.


Kami memakai sabun dan shampo yang sama. Tapi kenapa dia lebih wangi dariku?!


Setelah keluar dari kamar mandi, Vina mendapati Dimas berdiri di samping pintu kamar mandi.


Dia menungguku?


"Sudah selesai? Ayo biar aku tuntun!" Dimas menuntun Vina ke tempat tidur.


"Aku sudah membawa makanan untukmu. Makanlah."


Dia mengurusku!


"K-kenapa kamu membawa makanan ke sini?"


"Kau tidak mungkin turun dengan kaki seperti itu kan? Jadi aku membawakan makanan ke sini. Makanlah."


"Terimakasih."


Vina pun mulai makan.


"Kenapa bukan tanganmu saja yang terkilir biar aku bisa menyuapimu," gumam Dimas.


"Ha? Kau bicara apa? Aku tidak dengar."


"Ah, tidak. Bukan apa-apa."


________


Sejak kaki Vina terkilir, Dimas selalu menuntun dan menggandeng tangannya jika ia ingin kemana-mana.


Membuat mereka sering berdekatan.


Tangan Dimas, terasa.. hangat.


Vina memandang Dimas yang sedang menuntunnya ke tempat tidur.


Sudah dua hari sejak kaki terkilir Vina. Dia sudah bisa berjalan sendiri tapi masih terpincang-pincang.

__ADS_1


Vina segera memalingkan wajahnya ketika Dimas menatapnya.


"Ada apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Dimas.


"Tidak ada apa-apa."


"Kalau begitu, aku mandi dulu ya."


"Hm."


Vina memegang dadanya.


Ada apa ini?! Kenapa aku jadi seperti ini?! Aku tidak mungkin menyukainya!


Tririring!


Hp Dimas berbunyi.


Awalnya Vina mengabaikannya. Tapi hp Dimas terus berbunyi. Membuat Vina meraih hp Dimas.


"Siapa sih? Apa ada orang kantor yang menelfonnya ya?"


Vina membaca nama yang tertera di layar hp.


"Sekar" Vina mengeja nama itu.


Siapa Sekar?


Vina mengangkatnya.


[ Halo Pak Dimas. ] Suara perempuan terdengar dari seberang.


Vina menelan ludahnya.


Siapa sebenarnya Sekar? Ini sudah jam tujuh malam. Kenapa dia menelfon Dimas malam-malam?


[ Halo Pak? ]


Vina tak berani menyahut.


[ Halo? ]


Vina segera mematikan sambungan telefon. Dan menaruh hp Dimas di tempat semula.


Siapa Sekar? Apa dia pacar Dimas? Tapi Dimas pernah mengatakan kalau dia tidak punya pacar. Apa dia selingkuh dariku?!


Tidak-tidak. Apa yang aku pikirkan?! Aku sendiri yang mengatakan kalau aku tidak mencintainya. Kami juga tidak saling mencintai. Mungkin dia telah menemukan perempuan yang dia cintai. Dan akhirnya mereka berpacaran.


Dimas keluar dari kamar mandi.


"Mm, barusan ada telefon masuk. Maaf sudah lancang mengangkatnya. Karena kupikir telefon penting. Tapi baru kuangkat langsung mati," ucap Vina memberitahu Dimas.


Dimas malah tersenyum. "Apa maksudmu lancang? Kau kan istriku tentu saja kau boleh mengangkat telfonku."


Dimas mengecek hpnya. "Oh, dari Sekar."


Vina tersentak.


Kenapa Dimas terang-terangan menyebut nama Sekar? Dan juga, kenapa dia tidak memberitahuku kalau dia menjalin hubungan dengan perempuan lain? Apa karena aku istrinya? Tapi bukankah berarti aku yang menghalangi cintanya?!


Vina memberanikan diri bertanya, "siapa Sekar?"


"Dia sekretarisku di kantor."


Apa?!! Sekretarisnya di kantor?!! Kalau biasanya di novel atau film-film, sekretaris yang jadi orang ketiga. Tapi ini malah istri yang jadi orang ketiga! Aku jadi orang ketiga antara Dimas dan sekretarisnya!!


"Seperti apa dia?" tanya Vina.


"Siapa? Sekar?" Vina mengangguk. "Pertanyaanmu ini aneh. Tentu saja dia seperti perempuan biasanya."


Vina terhenyak. "Tentu saja aku juga tahu itu! Maksudku adalah.." Ah, tidak-tidak. Aku nggak bisa bertanya pada Dimas. Aku harus cari tahu sendiri Sekar itu orangnya gimana.


"Besok aku ingin ikut denganmu ke kantor!"


"Ha? Tumben mau ikut?"

__ADS_1


"Iya. Aku bosen di rumah." Aku ingin melihat Sekar dengan mata kepalaku sendiri!


_________


Vina duduk di sofa ruangan Dimas dengan bosan.


Mana yang namanya Sekar? Kenapa dari tadi tidak datang ke ruangan Dimas? Apa dia tahu kalau istri pacarnya ikut ke kantor? Makanya dia tidak berani kesini.


Tok tok tok


"Masuk," ucap Dimas mempersilahkan.


"Permisi Pak, ini ada beberapa dokumen yang perlu ditandatangani." Seorang perempuan berjalan ke meja Dimas.


"Oh, terimakasih Sekar sudah membawakannya."


Vina mendongak tersentak.


Sekar?


Dia memandang perempuan berkulit kuning langsat di depannya.


Jadi dia yang namanya Sekar? Dia terlihat sangat anggun, berbeda denganku. Ah, apa yang aku pikirkan?! Aku kesini untuk melihat seperti apa dia. Bukan malah membandingkannya denganku!


Perempuan bernama Sekar berlalu meninggalkan ruangan Dimas.


"Sekar itu, cantik ya?" ucap Vina ke Dimas.


"Iya kah? Aku tidak terlalu memperhatikannya." Tangan Dimas sibuk menandatangani dokumen.


Cih! Kenapa dia pura-pura tidak peduli? Padahal pasti di dalam hatinya, dia jengkel karena aku ikut ke kantor. Dia jadi tidak bisa berduaan dengan sekretarisnya.


Jam makan siang telah tiba. Dimas mengajak Vina makan di kafe.


Saat berjalan ingin ke kafe, mereka berpapasan dengan Sekar. Vina segera melepaskan tangan Dimas yang menuntunnya.


"Kenapa dilepas? Kakimu masih sakit. Nanti kalau jatuh gimana?"


"Aku bisa jalan sendiri!" tolak Vina saat Dimas ingin memegang tangannya lagi.


Kenapa dia malah menggenggam tanganku di depan pacarnya?! Kalau pacarnya cemburu nanti gimana?


"Sekar!" panggil Vina.


"Ya, Nona."


"Kamu mau makan siang kan? Ayo makan bersama kami," ajak Vina.


"Tapi Nona--"


"Kenapa? Kau tidak mau makan bersamaku?"


"Bukan begitu Nona.."


"Kalau begitu ayo makan bersama!" Saat melangkah, kakinya yang belum sembuh membuatnya hampir jatuh.


"Nona, hati-hati!" Sekar meraih lengan Vina, sementara Dimas menahan perut Vina.


Kenapa Dimas malah memeluk perutku agar tidak terjatuh sih?! Kalau Sekar cemburu nanti gimana?!


"Lepasin perutku! Ada Sekar, nanti dia salah paham!" bisik Vina ke Dimas.


Dimas mengerutkan alisnya.


"Terimakasih ya Sekar, hampir aja aku terjatuh." Vina tersenyum ke Sekar.


Yang menahan tubuhnya kan aku. Kenapa dia malah terimakasih ke Sekar? Dimas memandang Vina heran.


"Sama-sama, Nona." Sekar menggandeng tangan Vina, membantunya berjalan. "Sepertinya kaki Nona sakit."


"Iya, kakiku terkilir." Vina memandang perempuan yang menggandengnya.


Dia perempuan yang perhatian dan juga baik. Pantas Dimas menyukainya. Aku tidak boleh menjadi penghalang bagi mereka.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2