CINTAKU TERHALANG ANIME

CINTAKU TERHALANG ANIME
Nafkah Lahir dan Batin


__ADS_3

Vina menyalakan hpnya yang mati setelah di charger.


Baru saja ia menyalakan, hpnya langsung berdering. Panggilan dari Dimas.


Vina mengangkatnya.


"Hal--"


[ VINA!! ]


Dimas berteriak dari seberang telepon. Membuat Vina menjauhkan hp dari telinganya.


Hanan terkekeh kecil melihat itu.


[ Kamu ada di mana?!! ]


"Aku mau ke kantor kamu."


[ Harusnya kamu menelfonku kalau mau datang ke kantor. Atau nggak, setidaknya kamu pamitan ke Bu Mina kalau mau pergi! ]


"Aku mau menelfonmu, tapi aku nggak punya pulsa. Kuotaku juga habis. Waktu mau berangkat, Bu Mina sama Pak Joko juga nggak ada. Ya udah aku berangkat aja."


[ Kamu kan bisa menelfonku lewat telepon rumah! ]


"Aku sudah menelfonmu lewat telepon rumah. Berkali-kali! Tapi kamu tidak mengangkatnya!"


[ Aku tadi lagi meeting. Lalu kenapa hpmu juga nggak bisa dihubungi?!! ]


"Tadi hpku mati. Untungnya supir taksinya baik. Dia menawariku untuk mengecas hpku di mobilnya."


"Ohoho..Jadi Nona menganggap saya supir taksi?" Hanan terkekeh.


Vina menoleh ke Hanan. Menaruh jari telunjuk di bibirnya sendiri. "Ssstt!" Menyuruh Hanan untuk diam.


"Tapi kenapa suaramu cemas sekali? Apa terjadi sesuatu?" tanya Vina kepada Dimas.


[ Tadi Bu Mina menelfonku. Dia mengatakan kalau kamu hilang. Dia sudah mencarimu ke seluruh rumah, tapi kamu nggak ada. Jelas saja aku jadi khawatir! ]


"Terus?"


[ Aku mencoba menelfonmu, tapi hpmu nggak aktif! Aku terus-terusan menelfonmu, tapi tapi tetap saja hpmu nggak aktif. Lalu aku mencoba menelfon rumahmu, siapa tahu kamu ada di sana. ]


Vina masih terus menempelkan hp ke telinganya. Mendengarkan Dimas yang terus bicara.


[ Tapi Bunda mengatakan kamu nggak ada di sana. Aku jadi tambah khawatir mendengarnya. Lalu aku putuskan untuk pulang ke rumah. Siapa tahu kamu ternyata sudah pulang. ]


Dimas berhenti bicara. Menarik nafas sebentar.


[ Waktu sampai di rumah, ternyata kamu masih belum pulang. Aku jadi tambah khawatir. Aku bingung harus mencarimu kemana. Lalu aku kepikiran, siapa tahu kamu sedang ke kantorku. Lalu aku pun memutuskan untuk kembali kantor. Dan di perjalanan, aku mencoba menelfonmu lagi. Dan ternyata hpmu aktif. ]


" Jadi begitu ya. Maaf ya, sudah membuat khawatir."


[ Iya, nggak papa kok. Syukur kalau kamu nggak kenapa-napa. Apa kamu sekarang sudah sampai di kantorku? ]


Mobil Hanan sekarang berada di depan kantor Dimas. Lalu Hanan memarkirkan mobilnya di parkiran kantor.


"Iya, aku baru sampai."


[ Ya sudah, kamu masuk saja ke ruanganku. Tunggu aku di sana. Aku masih di perjalanan. ]


"Iya. Aku matikan telfonnya ya."


Klik!


Vina memutus sambungan telefon.

__ADS_1


"Ada apa? Kok lama banget telfonnya?" tanya Hanan kepada Vina.


"Orang-orang di rumah mengira diriku hilang."


"Ahaha! Mungkin kamu akan beneran hilang jika aku tak datang menolongmu."


"Iya. Sekali lagi terimakasih!


Oh ya, aku masuk duluan ya. Kalau nggak, nanti orang yang ada di telfon barusan akan mengomeliku lagi!" pamit Vina.


"Iya, nggak papa. Kamu duluan aja!"


"Terimakasih juga tumpangannya."


"Iya. Sampai jumpa!"


Hanan menatap Vina yang berjalan menjauh dari mobilnya.


Dia gadis yang lucu. Semoga aku bisa bertemu lagi dengannya!


________


"Vina!"


Seseorang memanggil Vina ketika ia hendak masuk ke ruangan Dimas.


Baru saja Vina menoleh, seseorang tiba-tiba menghambur memeluknya.


"Aku khawatir banget sama kamu tahu!"


Vina kaget ketika Dimas tiba-tiba memeluknya.


"Iya, aku minta maaf," ucap Vina.


"Aku pikir kamu benar-benar hilang!


Hpmu nggak bisa dihubungi! Aku juga nggak tahu tempat yang biasanya kamu datangi! Aku benar-benar khawatir!!" Dimas mengeratkan pelukannya.


"Dim, lepasin aku! Aku akan mati sesak jika kau terus memelukku seperti ini!"


Spontan Dimas langsung melepas pelukannya. Dia baru tersadar. Tadi tubuhnya reflek memeluk Vina.


"Ahaha! Maaf." Dimas membetulkan dasinya salah tingkah. "Ayo kita masuk!" Dimas mengalihkan perhatian Vina dengan mengajaknya masuk ruangan.


"Ngomong-ngomong, ngapain kamu ke kantorku?"


Vina jadi bingung mengatakannya.


Aku harus bilang apa ya? Kok aku jadi malu! Memang sih, sebelumnya aku nggak pernah minta uang ke Dimas. Tapi kan aku istrinya. Sudah seharusnya aku meminta nafkah darinya.


"Ehem ehem!" Vina berdehem berusaha menghilangkan rasa malu.


"Aku mau minta nafkah!" ucap Vina lirih


"Apa?!! Nafkah?!!" Dimas terbelalak mendengar permintaan Vina. Dia mengira Vina meminta nafkah batin darinya.


"Kamu bilang, kamu tidak menyukaiku! Tapi sekarang kamu malah minta nafkah batin kepadaku?!!"


Mata Vina melebar mendengarnya dan langsung memukul Dimas.


"Apa maksudmu!! Bukan nafkah batin! Tapi nafkah lahir! Maksudku, aku ingin minta uang!!" pekik Vina.


Telinga Dimas memerah karena malu.


Apa yang aku pikirkan?! Mana mungkin Vina akan minta nafkah batin?!! Betapa memalukannya ini...

__ADS_1


Dimas mengusap wajah, menghilangkan rasa malu. Kemudian dia baru tersadar sesuatu.


Oh iya! Aku belum pernah memberinya uang setelah kita menikah! Padahal aku sudah menjadi suaminya. Tapi aku malah tidak memberinya nafkah!


Sejenak Dimas berpikir.


Tapi dia mau beli apa ya? Dia bukan tipe perempuan yang suka memakai baju bagus. Dia juga tidak memakai perhiasan atau pun riasan wajah. Lalu di mau beli apa dengan minta uang padaku?


"Woy! Kenapa malah ngelamun!" teriak Vina mengagetkan Dimas.


"Memangnya kamu mau beli apa?" tanya Dimas.


Apa?! Memangnya dia harus tahu aku mau beli apa. Harusnya kan dia langsung memberiku uang. Kan sudah tugasnya memberiku nafkah.


"Kamu nggak perlu tahu aku mau beli apa!" jawab Vina.


"Loh, aku harus tahu dong kamu mau beli apa. Nanti kalau kamu malah beli barang haram, kan aku yang dosa karena telah memberimu uang untuk membelinya."


"Aish! Aku cuma mau beli kuota aja kok!" ucap Vina kesal. "Kuotaku habis, aku nggak bisa nonton anime."


Dimas tertawa mendengar apa yang mau dibeli Vina.


Saat istri orang lain minta uang untuk beli baju atau perhiasan, istriku malah minta uang untuk beli kuota!


"Aku akan memberimu uang, tapi ada syaratnya!"


Vina terbelalak. "Bukankah sudah tugasmu memberiku nafkah? Tapi kenapa memberi uang saja harus pakek syarat?!"


"Terserah! Kalau kamu nggak mau, aku nggak akan memberimu uang. Gampang kan."


"Aish! Iya iya. Katakan! Apa syaratnya?!"


Kencan! Aku mau kita kencan!


"Temani aku jalan-jalan besok!"


"Nggak mau! Aku beli kuota karena mau nonton anime. Kalau besok aku menemanimu jalan-jalan, jadinya aku nggak bisa nonton anime! Lalu apa gunanya aku beli kuota?!"


"Kamu bisa nonton anime setelah kita jalan-jalan!"


"Nggak mau!"


"Yaudah, kalau gitu aku nggak akan ngasih kamu uang!"


"Aish!! Iya-iya. Besok aku akan temani kamu jalan-jalan!"


"Nah! Gitu dong!" Dimas tersenyum.


Yes! Rencanaku berhasil!


"Tapi aku nggak bisa ngasih kamu uang sekarang. Aku nggak ada uang cash. Harus ke ATM dulu. Tapi nggak bisa, karena aku akan segera menghadiri meeting lagi."


"Terus gimana?!" Vina terperangah tidak percaya.


"Kamu tunggu dulu aja di sini. Nanti setelah selesai meeting kita ke ATM!"


"Tapi aku pingin segera nonton anime!" sergah Vina ketika Dimas hendak keluar dari ruangan.


"Kamu lupa ya. Di sini kan ada WiFi. Pakek WiFi aja dulu!" ucap Dimas sambil berjalan keluar ruangan.


"Tapi Dim--"


"Udah, aku mau meeting dulu! Kamu nonton aja di situ. Daahh.." Dimas keluar ruangan dan menutup pintu.


"Kok aku merasa tertipu ya." Vina menatap pintu yang tertutup.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2