
Dimas menunggu di luar ruangan operasi.
Dengan baju yang masih penuh darah akibat memeluk Vina tadi, dia terus mondar-mandir. Pikirannya tak tenang.
Sementara Bu Vera terus menangis. Suaminya hanya bisa mengelus pundak istirnya. Pun begitu juga dengan Bu Vely, Mama Dimas. Ikut mengelus pundak besannya.
Suster keluar dari ruangan operasi.
"Bagaimana keadaan istri saya sus?" Dimas langsung memberondong suster pertanyaan.
"Pasien kehilangan banyak darah," ucap suster. "Kami kehabisan stok darah O. Apa di sini ada yang darahnya O?"
"Kenapa di saat genting seperti ini harus kehabisan stok darah?! Bagaimana bisa rumah sakit sebesar ini kehabisan stok darah?!!" ucap Dimas seperti orang kesetanan.
"Tenangkan dirimu Dimas." Pak Hendra memegang pundak Dimas. "Darah saya O, sus."
"Kalau begitu, mari ikut saya."
Pak Hendra pergi mengikuti suster.
________
Operasi berhasil. Tapi Vina masih dalam keadaan kritis.
Sudah tiga hari terlewati, Vina masih belum sadarkan diri.
Dimas terus menggenggam tangan Vina. Ia terus sesenggukan menangis.
"Bangun Vin. Buka matamu. Kamu belum menjawab pernyataan perasaanku. Kamu harus bangun dan menjawabnya," ucap Dimas di sela-sela tangisnya.
"Bangunlah! Aku akan membelikanmu Manga sebanyak apapun jika kau bangun. Aku juga akan membelikanmu miniatur anime yang banyak. Asalkan kamu bangun. Bangunlah Vin!"
"Dimas." Bu Vely mengelus pundak Dimas. "Kamu sudah di sini selama tiga hari. Pulang dan mandilah. Mama yang akan menjaga Vina," ucap wanita paruh baya itu kepada putranya.
"Nggak Ma, aku mau tetap di sini. Dimas mau menjaga Vina." Dimas bersikukuh.
"Mamamu benar Dim, kamu harus pulang dan beristirahat. Kalau kamu sakit, Vina pasti juga sedih," ucap Bu Vera yang baru masuk.
"Ada kami di sini yang akan menjaga Vina."
Dimas pun akhirnya menurut. Dia bangkit dari duduknya. Mengelap air matanya dan berjalan meninggalkan rumah sakit.
Di rumahnya, Dimas merebahkan tubuhnya di sofa.
Dia menatap miniatur anime milik Vina yang ada di atas laci.
Kemudian dia meraih miniatur Naruto.
Kenapa semua ini harus terjadi?
Andai aku menyatakan perasaanku lebih awal, mungkin ini takkan terjadi!
Dimas menghela nafas panjang. Tangannya memijit keningnya.
Kemudian dia bangkit, dan masuk ke kamar mandi.
Setelah mandi, Dimas merebahkan dirinya di tempat tidur.
Tanpa sadar, dirinya sudah terlelap.
________
"Di-dim.."
Tangan yang digenggam Dimas bergerak. Dimas tersentak.
"Vina! Kamu sudah bangun Vin!" Dimas tak henti-hentinya mengucap syukur dan mengecup dahi Vina.
"Aku akan panggil dokter." Dimas bangkit hendak keluar ruangan.
Tapi Vina menggenggam tangan Dimas. Mencegahnya untuk pergi.
__ADS_1
Dimas menoleh.
"Ada apa Vin?"
"A-aku.." Vina membuka mulutnya terbata.
Bip bip bip bip bip!
Alat pendeteksi jantung di samping ranjang terus berbunyi tak stabil. Membuat Dimas semakin panik.
"Vin, aku akan panggil dokter sekarang!"
"T-tunggu! K-kamu jangan kemana-mana!"
Lagi-lagi Vina menahan Dimas pergi.
Meskipun terbata-bata, Vina mulai bicara.
"Ma-af, selama ini a-aku sudah bersikap tidak baik padamu.." Vina mengambil nafas sebentar. Sepertinya dia mulai kesulitan bernafas.
Dimas yang melihat Vina seperti kesulitan bernafas ingin segera memanggil dokter.
"Vin, aku memaafkanmu. Tapi yang paling penting sekarang, adalah kondisimu. Aku akan panggil dokter untuk memeriksamu."
"Tidak!" Vina menggenggam erat tangan Dimas. "Jangan pergi.Temani aku sebentar."
Alat pendeteksi jantung itu bunyinya semakin tidak stabil.
"A-aku..kurasa aku sudah tidak akan lama lagi," imbuh Vina.
"Nggak Vin, kamu nggak boleh ngomong kayak gitu! Kamu pasti sembuh!" Dimas mengusap wajah Vina. Air matanya mulai menetes.
"A-aku minta maaf. Kamu orang yang baik Dim. Kuharap setelah kepergianku, kamu bisa mendapat perempuan yang lebih baik dariku.."
Dimas mengusap air matanya. "Nggak Vin, kamu jangan ngomong kayak gitu. Nggak ada perempuan yang bisa gantiin kamu! Kamu pasti akan sembuh!"
Vina memegang tangan Dimas yang berada di pipinya. "Dimas.., selamat tinggal.." tangan Vina terlepas dari tangan Dimas, terkulai lemas.
Dimas berubah menjadi panik.
Mata Vina sudah tertutup rapat. Vina menghembuskan nafas terakhirnya.
"Nggak Vin, kamu nggak boleh ninggalin aku!" dipeluknya tubuh yang sudah tak bernyawa itu.
"VINAAAAA!!!!"
Dimas terbangun di kamarnya. Wajahnya dipenuhi keringat. Ternyata dia cuma bermimpi. Mimpi yang terasa begitu nyata.
"Hah hah hah." Dimas masih ngos-ngosan. Dimas langsung meraih hpnya untuk menelfon mamanya, menanyakan keadaan Vina di rumah sakit.
Ada nada tersambung, tapi tidak diangkat.
Dimas berdecak kesal, langsung menyambar kunci mobilnya. Dan meluncur ke rumah sakit.
Di tengah perjalanan, dia terus terjebak macet.
"Sial! Kenapa harus macet sih!" Dimas terus saja membunyikan klakson mobil.
Sudah setengah jam Dimas terjebak macet.
Tadi itu cuma mimpi! Vina pasti baik-baik saja!
Tangannya meraih hp di sakunya, memencet nomor Mamanya.
Tapi tetap tak ada jawaban. Begitu pun dengan nomor Ibu mertuanya. Membuat Dimas semakin cemas.
Setelah terbebas macet, Dimas langsung menancap gas ke rumah sakit.
Begitu sampai di rumah sakit, Dimas langsung berlari ke ruangan Vina dirawat.
Saat sampai di ruangan Vina, suster sudah menutup tubuh Vina dengan kain putih.
__ADS_1
Dimas membulatkan matanya melihat itu.
"Suster, kenapa ditutup kain?!" nafas Dimas naik turun. Badannya juga panas dingin menduga sesuatu yang sangat buruk.
"Pasien akan dipindahkan ke kamar mayat," jawab suster.
Badan Dimas seakan tertimpa berton-ton batu. Lututnya melemas.
"Nggak mungkin, sus. Istri saya nggak mungkin meninggal!" Dimas mulai menangis memeluk tubuh yang ditutup kain putih itu.
"Vinaaaa!!! Nggak mungkin..., ini nggak mungkin! Vinaaa kenapa kamu ninggalin aku?!!" Dimas terisak sesenggukan.
"Dimas!"
Dimas mengerutkan dahinya mendengar suara Vina memanggilnya. Tidak mungkin kan, orang yang tidak bernyawa bisa memanggil namanya.
Dimas mengusap ingusnya. Dia terus memeluk tubuh yang tertutup kain putih itu. Dia mulai tertawa seperti orang gila.
"Lihat Vin, belum satu jam kamu meninggalkanku, aku sudah mulai gila! Aku mulai berhalusinasi mendengar suaramu memanggil namaku!" Dimas terus memeluk tubuh itu.
"Dimas!!"
Lagi-lagi Dimas mendengar suara Vina.
"Kenapa aku terus-terusan mendengar suaramu Vin?! Sepertinya aku benar-benar sudah gila!" Dimas kembali tertawa layaknya orang gila.
"Dimas! Apa yang sebenarnya kamu lakuin di sini sih?! Dipanggil dari tadi kok nggak nyaut-nyaut!!"
Dimas mengangkat kepalanya.
Kenapa suara Vina terdengar dari arah pintu?!
Dimas menoleh. Matanya terbelalak. Betapa terkejutnya dia melihat Vina yang berada di ambang pintu dengan duduk di kursi roda.
Dimas langsung berlari memeluk Vina.
"Vina! Kamu masih hidup Vin?! Kamu baik-baik saja kan?!" Dilihatnya wajah Vina berkali-kali. "Aku nggak sedang mimpi kan?!!" Dimas menepuk mukanya berkali-kali.
"Aww!" Dimas meringis sakit ketika perutnya dicubit Vina.
"Kamu berharap aku mati ya?!" seru Vina.
"Vina! Kamu beneran sudah bangun Vin!" Dimas kembali memeluk Vina.
"Aww!!" giliran Vina yang meringis karena Dimas terlalu erat memeluknya.
"Ah, maaf. Aku sangat bahagia karena kamu sudah bangun!" ucap Dimas melepaskan pelukannya.
"Apa yang kamu lakukan di kamar ini?" tanya Vina.
"Ah, aku kira ini tadi ruangan kamu dirawat."
Ternyata Dimas salah masuk kamar.
"Aku salah kamar dan mengira kamu sudah meninggal!"
Dimas mengusap pipi Vina. "Tapi itu tidak penting sekarang. Yang penting, kamu sekarang sudah bangun!" Dimas memeluk tubuh Vina. "Aku mencintaimu Vin!"
Vina membalas pelukan Dimas.
"Aku juga mencintaimu Dim!" dipeluknya erat tubuh Dimas.
Dimas tersenyum mendengar perkataan Vina. Dia sangat bahagia perasaannya terbalaskan.
Dimas melepas pelukannya. Ditatapnya wajah Vina lekat-lekat.
Sangat lama sampai akhirnya wajah mereka berdua saling mendekat. Menyentuhkan bibir masing-masing.
✿✿✿
TAMAT
__ADS_1
Terimakasih untuk para pembaca yang sudah setia membaca sampai akhir ❤️
Aku sayang kalian semua ❤️❤️