
Vina terbangun ketika mendengar hpnya terus berdering.
Sebuah nama tertera di layar hpnya. Hanan. Vina mengangkatnya.
"Halo?"
[ Halo Vin. Siang ini jadi kan? ]
Vina langsung mengubah posisinya menjadi duduk.
Aku lupa kalau hari ini ada janji sama Hanan. Mana belum mandi lagi. Kepalaku masih sedikit pusing.
[ Halo Vin? ]
"Eh! Iya! Jadi kok, jadi."
[ Huufh.. Syukurlah, kirain kamu lupa. Soalnya ini aku udah mau nyampe kafenya. ]
"I-iya ini aku juga lagi otw." Otw apaan?! Mandi aja belum!
Kebiasaan orang Indonesia. Bilangnya otw, tapi masih di rumah.
"Udah dulu ya, aku matiin telfonnya."
Setelah sambungan telefon terputus, Vina langsung bergegas ke kamar mandi.
Mungkin setelah keramas pusingnya hilang.
Tak butuh waktu lama untuk mandi dan bersiap-siap.
Vina langsung keluar dari kamar.
"Nona mau kemana?" tanya Bu Mina yang melihat Vina hendak pergi.
"Aku mau keluar sebentar Bu Min."
"Nggak makan dulu? Nona kan belum makan sama sekali."
"Nggak deh Bu Min, soalnya lagi buru-buru."
_________
"Maaf, udah nunggu lama ya?" Vina menghampiri Hanan yang duduk di sudut kafe.
"Nggak kok." Tapi boong! Iya. Aku udah di sini dari setengah jam yang lalu!
"Sorry. Soalnya tadi macet."
Eaaa. Tapi macetnya aku itu di rumah.
Vina mengeluarkan buku dari tasnya.
"Ini Manga-nya. Aku bawain lima."
"Wah, lembur nih nanti malam." Hanan mengambil Manga yang diberikan Vina.
"Maaf, aku nggak bisa ngobrol lama-lama. Aku pulang dulu ya."
"Eh? Nggak pesan minum dulu?"
"Nggak deh, makasih," tolak Vina.
"Kalau gitu, aku antar ya?"
"Nggak usah, nanti ngerepotin kamu."
"Aku nggak repot kok. Lagi pula aku juga mau ke suatu tempat yang searah dengan rumahmu."
"Oh, yaudah deh kalau gitu."
__ADS_1
________
Hanan sesekali mengalihkan pandangannya dari jalan raya, melihat ke Vina yang duduk di sebelahnya.
Sementara yang dilihat, malah tidur.
Hanan menepikan mobilnya. Ia menatap Vina dengan lembut.
Tangannya terulur menyentuh pipi Vina. Mendekatkan wajahnya ke Vina. Sedikit lagi maka bibir mereka saling bersentuhan.
Tririring!
Bunyi hp Vina membuat Hanan terkejut. Segera dia menjauhkan wajahnya dari Vina.
Hp Vina terus berbunyi. Tapi Vina tak kunjung bangun untuk mengangkatnya.
Hanan pun mencari hp Vina dari tasnya. Tertera nama Dimas di layar hp. Hanan mengangkatnya.
[ Halo Vin, kamu udah bangun? ]
"Halo."
[ Siapa ini?! Kenapa kamu yang ngangkat hp Vina?!! ]
"Ini Hanan. Vina-nya sedang tidur, jadi aku yang ngangkat."
[ Apa maksudmu, Vina tidur denganmu?!! Dimana kau sekarang?! Jangan berani-beraninya kau menyentuh Vina!! ]
Hanan tersenyum kecil. "Tenang Pak Dimas, aku hanya mengantarnya pulang. Dan dia tertidur di mobilku. Kau tidak perlu khawatir, ini sudah hampir sampai di rumahmu kok."
Klik
Hanan menutup sambungan telfonnya.
________
"Heeghh!!" Dimas menatap layar hpnya dengan kesal. Sambungan telefon baru saja diputus oleh Hanan.
Dia mengendarai mobilnya dengan sangat cepat. Dia sangat khawatir mendengar Vina bersama dengan Hanan.
________
Hanan menghentikan mobilnya di depan pagar rumah Dimas.
Alisnya mengernyit menatap kaca spion diatasnya, memperlihatkan sebuah mobil berhenti tepat di belakang mobilnya. Terlihat Dimas keluar dari mobil itu dan menghampiri mobil Hanan.
Dimas membuka pintu mobil Hanan.
Vina masih tertidur di kursinya.
"Jangan cemburu. Dia hanya meminjamkan Manga-nya padaku," ucap Hanan kepada Dimas.
"Terimakasih sudah mengantarnya. Lain kali kau tidak perlu repot-repot mengantarnya. Biar aku sendiri yang mengurus istriku!"
Dimas menggendong tubuh Vina masuk ke dalam rumah.
Aku pasti sangat lelah sampai-sampai bermimpi digendong. Siapa yang menggendongku ini? Entahlah. Yang jelas tangannya terasa sangat hangat. Terasa sangat nyaman.
Dimas dengan perlahan menaruh tubuh Vina di tempat tidur. Kemudian dia melepas jas dan dasinya.
Perlahan, dia naik ke tempat tidur. Berbaring di samping Vina.
Kau tidak tahu aku sangat mencintaimu.
Apa dia tadi menyentuhmu? Dimas mengelus pipi Vina. Dibagian mana dia menyentuhmu? Haahh, memikirkannya saja hampir membuatku gila.
Dimas melingkarkan tangannya di perut Vina. Dia pun ikut terlelap sambil memeluk Vina.
________
__ADS_1
Vina meregangkan otot-ototnya.
"Kau sudah bangun?"
Vina menoleh mendengar pertanyaan itu. Mendapati Dimas duduk di sampingnya.
"Eh? Kok aku bisa tidur di sini?" tanya Vina heran mendapati dirinya berbaring di tempat tidur.
"Terus kamu mau tidur di mana lagi? Di lantai?" Dimas menekan remote control, mengganti channel TV yang sedang ditontonnya.
Vina melirik Dimas kesal. "Ck! Bukan itu maksudku! Yang aku ingat tadi, aku ada di dalam mobil Hanan. Dan sekarang, secara ajaib, aku ada di sini."
"Yang aku tahu, ada seorang perempuan yang kalau lagi tidur seperti orang mati. Mungkin kalau ada seseorang yang menggagahi tubuhmu waktu tidur, kau tidak akan menyadarinya. Karena tidurmu itu seperti orang mati!"
"Apa maksudmu?!! Jadi kau menggagahi tubuhku waktu tidur begitu?!!" Vina memukulkan bantal ke wajah Dimas.
Dimas menangkap bantal yang dipukulkan ke wajahnya. "Maksudku adalah, tadi kau tidur di mobil Hanan. Untungnya aku sampai rumah lebih cepat! Kalau tidak, dia yang akan menggendongmu masuk rumah!"
"Jadi kau menggendongku masuk rumah?" Dimas mengangguk. Membuat Vina terperangah. Jadi yang tadi itu bukan mimpi. Saat aku merasa ada yang menggendongku.
"Untuk apa kau menggendongku?! Kau bisa membangunkan aku saja kan?!"
"Sudah kubilang tidurmu itu seperti orang mati! Kau tidak bangun meskipun dibangunkan!"
Vina menatap Dimas kesal. Masak iya sih?! "Aagh. Sudahlah. Kemarikan remotenya!" Vina merebut remote dari tangan Dimas dan mengganti channel TV.
"Apa yang kau lakukan?!" Dimas hendak merebut remote dari tangan Vina.
"Apalagi?! Sudah jelas aku lagi nonton TV!" Vina menjauhkan remote dari Dimas.
"Maksudku, kenapa kau ganti chanelnya?! Aku ingin nonton acara yang tadi!"
"Mengalah lah sedikit! Aku tidak pernah nonton TV. Dari kemarin selalu kau yang menonton TV!"
"Sejak kapan kau tertarik dengan TV?! Biasanya kau selalu nonton anime."
"Aku lagi nggak mood nonton anime!"
"Apa karena pets-nya Naruto mati?"
"Sudah kubilang bukan pets!"
"Terserahlah. Tapi kenapa kamu malah nonton film India?"
"Aku nggak suka nonton sinetron! Isinya cuma itu-itu aja. Kalau nggak diselingkuhin pasti rebutan satu laki-laki."
"Hei, hargain made in Indonesia dong!"
"Sstt!" Vina menempelkan jari telunjuknya ke mulut Dimas dengan sedikit tekanan. Membuat kepala Dimas sedikit terdorong ke belakang. "Filmnya sudah mulai. Diam dan tontolah!"
Dimas bersiul melihat perempuan yang ada di film India. "Apa kau tidak mau mencoba pakaian seperti itu?"
Terlihat di layar TV, perempuan dengan pakaian khas India. Yang memperlihatkan sebagian perutnya.
Vina melempar bantal ke Dimas. "Dasar sinting! Apa yang kau bicarakan?!"
"Ayolah, aku akan membelikanmu Manga jika kamu mau mencoba pakaian seperti itu," ucap Dimas terkekeh.
"Bodo amaatt! Aku nggak akan pakek begituan!" Apa sih yang ada di pikirannya itu. "Kenapa nggak kamu sendiri aja yang pakek?!"
"Aku kan laki-laki."
"Memangnya ada larangan laki-laki nggak boleh pakek sari?"
"Ya memang nggak ada sih. Tapi kan kalau kamu yang pakek.." Dima lagi-lagi bersiul. "Beeh.." Pandangannya seperti membayangkan sesuatu.
"Dasar! Buang pikiran kotormu itu! Kamu mau aku pakek sari agar perutku terlihat begitu?!! Heeeeeghh!!" Vina memukulkan bantalnya ke wajah Dimas.
"Akan terus kupukul sampai pikiran seperti itu hilang dari kepalamu!!!"
__ADS_1
BERSAMBUNG