
Sekar berlari mengejar Vina.
"Tunggu Nona! Dengarkan penjelasanku!"
Mendengar suara Sekar, Vina berhenti. Ia menoleh.
"Dengarkan penjelasanku dulu. Ayo kita bicara sebentar," pinta Sekar.
"Jangan panggil aku Nona. Vina saja."
"Kalau begitu Mbak Vina saja. Ayo kita bicara di kafe itu. Aku akan menjelaskan kesalahpahaman ini." Sekar mengajak Vina masuk ke sebuah kafe.
"Minum dulu Mbak, biar lebih tenang."
Vina meminum air putih yang dipesannya.
Setelah menghela nafas panjang, Vina mulai bicara.
"Aku minta maaf. Karena aku, kamu dan Dimas nggak bisa bersama," ucap Vina.
"Mbak Vina salah paham. Aku dan Pak Dimas nggak ada hubungan apa-apa."
Vina tersenyum ketir.
"Kamu dan Dimas sama saja! Kenapa kalian terus menyangkalnya?! Apa karena kalian mengasihaniku?! Aku tidak perlu kalian kasihani! Aku tidak mau jadi penghalang diantara kalian!"
"Bukan begitu! Mbak Vina benar-benar salah paham. Aku dan Pak Dimas benar-benar tidak ada hubungan apa-apa!"
"Lalu bisakah kau jelaskan, kenapa kalian ada di toko emas tadi? Bukankah Dimas ingin membelikanmu kalung? Aku melihat dengan jelas tadi Dimas memilih kalung untukmu!"
"Kalung itu bukan untukku, tapi untuk Mbak Vina. Sebagai hadiah ulang tahun! Pak Dimas memintaku untuk membantunya memilih hadiah untuk Mbak Vina!"
Vina tercengang. Hadiah ulang tahun? Dimas ingat tanggal lahirku?!
Besok, adalah hari ulang tahun Vina.
"Lalu bagaimana denganmu yang menelfon Dimas malam-malam?" tanya Vina lagi.
"Oh, jadi waktu aku nelfon pak Dimas, tapi setelah diangkat nggak ada suara itu, ternyata Mbak Vina toh yang angkat." Sekar teringat kejadian waktu itu.
"Maaf, kalau gara-gara itu membuat Mbak Vina jadi salah paham sama Pak Dimas. Waktu itu aku ingin meminta izin pada Pak Dimas kalau besoknya aku akan datang lebih siang. Soalnya, anakku sedang sakit."
Vina mengerutkan alisnya. "Anak? Kamu sudah menikah?!"
Sekar tertawa. "Tentu saja! Kalau aku punya anak, berarti aku sudah menikah!"
Vina menggaruk pipinya yang tak gatal.
Jadi selama ini aku sudah salah paham?!
"Mbak Vina tuh salah paham! Pak Dimas itu sangat sayang sama Mbak Vina. Buktinya, Pak Dimas ingat sama ulang tahun Mbak Vina, dan ingin membelikan hadiah. Suamiku saja nggak pernah ingat sama ulang tahunku Mbak!"
Ya ampun.. berarti tadi aku sudah marah-marah nggak jelas! Selama ini aku sudah menuduh Dimas yang bukan-bukan. Betapa memalukannya diriku!
Vina mengusap wajahnya malu.
__ADS_1
Dia mengangkat kepalanya menatap Sekar.
"Emm, anu.. Aku minta maaf ya, Sekar. Aku sudah menuduhmu yang aneh-aneh."
"Nggak papa kok Mbak. Yang penting, sekarang sudah jelas semuanya. Aku juga minta maaf. Aku merasa tidak enak, gara-gara aku kalian jadi bertengkar."
"Nggak kok, ini bukan salahmu. Ini salahku sendiri karena seenaknya menuduh." Aku juga harus minta maaf ke Dimas.
Vina memandang keluar kaca kafe. Dilihatnya Dimas ada di sebrang jalan di depan kafe.
Aku akan minta maaf padanya dan setelah itu, aku akan menyatakan perasaanku padanya!
Vina beralih menatap Sekar. "Terimakasih ya Sekar, karena sudah berusaha menjelaskan padaku. Aku akan ke Dimas dan minta maaf padanya juga."
Vina keluar dari kafe. Ia berjalan ke arah zebra cross. Menunggu lampu lalulintas berubah merah.
"Dimas!!" panggilnya dengan wajah penuh senyuman. Tangannya melambai ke Dimas.
Dimas membalas lambaian tangan Vina. Dia bergegas ingin menyebrang jalan.
"Tunggu aku di situ!! Biar aku yang menyebrang!!" cegah Vina.
Kenapa rasanya aku tidak tahu malu ya. Aku sudah menuduhnya yang aneh-aneh. Tadi aku juga sudah marah-marah padanya. Dan sekarang aku memanggil namanya dengan wajah penuh senyuman. Benar-benar nggak tahu malu. Ah, sudahlah! Yang penting sekarang, aku ingin menyatakan perasaanku padanya.
Lampu lalulintas berubah menjadi merah, menandakan mobil harus berhenti.
Seorang anak kecil menyenggol Vina dan mendahuluinya menyebrang jalan.
"Ayo Ma!!" anak itu berteriak ke ibunya yang masih berada di pinggir jalan.
"Cepetan Ma, aku sudah nggak sabar ketemu Papa!" teriak anak itu lagi dengan senyum lebar yang memperlihatkan gigi ompongnya.
Vina tersenyum melihat wajah berseri anak kecil itu.
Saat Vina ingin menyebrang, ada keributan dari arah jalan raya.
"AWASS!!! REM BLONGG!!! MINGGIR SEMUANYA!!!" seorang supir bus berteriak. Busnya melaju ke arah anak kecil tadi.
"Tinaaa awaaasss!!!" Ibunya berteriak.
Bus itu sudah tak bisa menghindari anak kecil tadi.
Vina segera berlari ke tengah jalan. Dengan cepat mendorong anak itu.
BRAKKKK
"VINA!!!" teriak Dimas.
Vina berhasil mendorong dan menyelamatkan anak itu.
Tapi naas, karena menyelamatkan anak itu, dirinya lah yang tertabrak bus.
Dimas berlari ke arah Vina yang terkapar di jalan.
"Vina, bangun Vin!" Dimas meraih tubuh Vina dan memeluknya.
__ADS_1
Darah merembes dari kepala Vina dan dahinya. Dimas mengusap darah itu agar tidak mengenai mata Vina.
"Ambulance! Siapapun, tolong telfon ambulance!!" teriak Dimas.
"Bangun Vin, bangun!" sebanyak apapun Dimas mengusap darah di dahi Vina, darah itu tetap mengalir.
Vina membuka matanya.
"Vina, bertahanlah! Sebentar lagi ambulance akan datang! Bertahanlah Vin!"
"Uhuk uhuk!" darah segar keluar dari mulut Vina. Matanya terasa sangat berat, ia ingin menutup matanya lagi.
"Tidak Vin, tidak! Jangan menutup matamu! Bertahanlah! Jangan tinggalkan aku! Aku mencintaimu Vin. Aku mencintaimu!" Dimas memeluk tubuh Vina lagi.
Aku juga mencintaimu Dim!
"A-aku.." Dengan susah payah Vina membuka mulutnya, tapi tak ada suara yang keluar.
Suaraku tidak keluar!
Setelah aku menyadari perasaanku, kenapa semua ini terjadi?!
Kenapa aku begitu terlambat mengetahuinya!
"Di-im.." Aku juga mencintaimu!
Vina ingin mengatakan perasaannya pada Dimas. Tapi sekeras apapun dia mencoba, suaranya tidak keluar. Vina hanya bisa menitikkan air matanya.
Apa aku akan mati? Sebelum aku mengatakan cintaku pada Dimas?!
Tuhan, tolong berikan aku kesempatan. Aku ingin mengatakan perasaanku pada Dimas.
Dimas ikut menangis melihat Vina menitikkan air matanya.
"Jangan menangis, sebentar lagi ambulance-nya akan datang. Kau pasti akan selamat!"
Maaf, selama ini aku telah bersikap kasar padamu. Aku juga bodoh, karena terlambat menyadari perasaanku.
Vina kembali menitikkan air matanya.
"Kumohon, jangan menangis!" Dimas kembali memeluk Vina. "Kenapa ambulance-nya belum datang juga?!!"
"Uhuk uhuk!" lagi-lagi Vina terbatuk, darah keluar dari mulutnya lagi. Kali ini kepalanya terasa sangat berat. Pandangannya pun mulai kabur.
"Vina, buka matamu Vin. Buka!" suara Dimas semakin samar terdengar. "Kamu tidak boleh meninggalkanku! Vinaa..." suara Dimas perlahan tidak terdengar lagi.
Pandangan Vina semakin kabur. Kemudian semuanya berubah menjadi gelap.
Vina menutup matanya.
"Vinaaa!!!!" Dimas menangis memeluk Vina.
Ambulance datang setelah Vina kehilangan kesadarannya.
BERSAMBUNG
__ADS_1