
Vina terus berjalan sampai gerbang depan rumahnya tidak terlihat olehnya.
Tidak berapa lama kemudian, ada taksi melaju ke arahnya. Dengan cepat, Vina menghentikan taksi itu dan masuk ke dalamnya.
Taksi pun berjalan setelah Vina menyebutkan alamat.
"Nona masih sekolah atau sudah lulus?" supir taksi membuka obrolan.
"Sudah lulus Pak," jawab Vina singkat.
"Nggak kelihatan ya, kalau sudah lulus sekolah. Soalnya Nona imut. Hehehe."
"Ahaha. Terimakasih Pak." Vina memaksakan senyumnya.
"Kalau saya masih muda dan kita seumuran, Nona sudah saya bungkus bawa pulang ke rumah. Soalnya Nona imut banget, cantik lagi!" supir taksi paruh baya itu terkekeh kecil dan memandang Vina dari kaca spion diatasnya.
"Ahaha.. Bercandanya bapak nggak lucu deh!" Vina mengerutkan alisnya. Kok candaan bapak ini sedikit menakutkan ya..
Vina menatap jalanan sekitar. Ada yang aneh. Jalan yang dilewati taksi itu, bukan jalan menuju kantor Dimas.
Kok jalannya beda ya. Ini bukan jalan menuju kantor Dimas!
"Pak! Sepertinya kita salah jalan!" ucap Vina memberitahu supir taksi.
"Nggak kok, Nona. Ini sudah benar jalannya. Saya mengambil jalan yang paling cepat," bantah supir taksi.
Vina menelan ludahnya.
Kok perasaanku nggak enak ya.
Setelah beberapa lama Vina terdiam, dia kembali merasa tidak tenang.
Kini taksi mulai melaju di jalan yang agak sepi.
"Pak, sepertinya kita benar-benar salah jalan. Seharusnya, saya sekarang sudah sampai ke alamat yang saya tuju." Vina merasa curiga setelah beberapa lama tak kunjung sampai.
"Nggak, Nona! Ini sudah benar jalannya. Sebentar lagi sampai kok!" bantah supir taksi lagi.
"Nggak, Pak. Sebaiknya kita putar balik saja dan lewati jalan yang biasanya!!"
"Sudah saya bilang, sebentar lagi sampai!!" bentak supir taksi. "Saya sudah lama jadi supir taksi di sini! Jadi saya lebih tahu seluk beluk jalan di sini!!"
Vina kaget saat dirinya dibentak.
Kenapa dia malah membentakku!
Ini sudah nggak beres. Aku harus turun dari taksi ini!
"Pak, saya turun di sini aja deh!"
Supir taksi memandang Vina dari kaca spion. "Tidak boleh!! Sebentar lagi akan sampai!!" bentaknya lagi.
"Kenapa Bapak malah membentak saya?!! Cepat turunkan saya di sini!!" Vina mulai berteriak. Orang ini mau membawaku ke mana?!
Mobil masih terus melaju.
"Kalau tidak, saya akan lompat dari mobil!!" teriak Vina seraya tangannya meraih pintu mobil. Semoga tidak dikunci!
Ceklek!
Syukurlah! Tidak dikunci!
Kini pintu taksi bagian penumpang terbuka.
"Cepat hentikan mobilnya! Kalau tidak, saya akan lompat!!"
Supir taksi terpaksa menginjak rem. Taksi pun berhenti.
Vina segera berlari keluar dari taksi.
Tapi supir taksi mengejarnya dan mencekal tangan Vina.
Mata Vina terbelalak. "Lepaskan tangan saya!!" teriaknya histeris.
__ADS_1
"Nona mau kemana?!" Supir taksi itu tersenyum menyeringai. "Sebentar lagi kita akan sampai. Sampai ke rumah saya!"
"Lepaskan!! Saya nggak mau ke rumah Bapak! Tolooonggg!!!"
"Jangan buang-buang tenagamu untuk berteriak. Di sini sepi, nggak ada orang. Nggak akan ada yang mendengarmu!" Supir taksi itu mulai menarik Vina kembali ke taksi.
Vina meronta-ronta berusaha melepaskan tangannya yang ditarik oleh supir taksi.
Kemudian dia menggigit tangan supir taksi. Berhasil. Tangannya terlepas. Vina kembali berlari.
"Tolooonggg!!!!"
Vina menoleh kebelakang, supir taksi itu juga berlari mengejarnya.
Keadaan jalan yang sepi membuat Vina semakin takut.
"Toloonggg!!! Siapapun, TOLONG AKU!!!"
Vina kembali menoleh ke belakang, supir taksi itu semakin dekat dengannya.
Saat kembali melihat ke depan, ada mobil yang melaju sangat dekat ke arahnya.
Vina sudah tak sempat untuk menghindar.
"AAAKKHH!!"
Ckiiitt!!
Mobil itu berhenti tepat waktu sebelum menabrak Vina.
Ada seorang laki-laki keluar dari mobil itu.
"Hei Dik, kenapa kau berlarian di tengah jalan?! Jika ingin berlari, berlarilah di lapangan sekolahmu!"
Lutut Vina gemetar, dia sempat mengira akan mati tertabrak mobil barusan. Nafasnya ngos-ngosan.
"Kena kau!!" supir taksi menangkap tangan Vina. Membuat Vina kembali tersadar.
"Tolong aku!! Orang ini mau menculikku!!" Vina meminta tolong pada laki-laki yang keluar dari mobil tadi.
"Kumohon, tolong aku!!"
Supir taksi itu terus menarik tangan Vina.
"Berhenti!" teriak laki-laki itu dan menahan lengan supir taksi yang menarik tangan Vina.
Supir taksi menatap laki-laki itu. "Ini bukan urusanmu. Jangan ikut campur!!"
"Akan menjadi urusan saya, jika yang dikatakan gadis ini tadi benar!"
Supir taksi menghempaskan tangan Vina. "Cih! Mau jadi sok pahlawan rupanya!"
Supir taksi itu melayangkan tinju ke laki-laki tadi. Dengan cepat laki-laki itu menangkis tinjunya, dan balik meninju perut supir taksi. Meraih bahunya, dan menghantamkan lutut miliknya ke perut supir taksi beberapa kali.
Supir taksi itu pun tumbang, ia memegangi perutnya.
"Saya akan melaporkan Bapak ke polisi!" ucap laki-laki itu kepada supir taksi sambil merogoh hp dari sakunya.
Supir taksi itu terkaget.
"Tidak Tuan! Jangan laporkan saya!! Saya punya istri dan anak di rumah!! Tolong jangan laporkan saya ke polisi. Saya menyesal. Saya minta maaf." Supir taksi itu memohon-mohon kepada laki-laki itu.
"Jika Bapak memang punya anak dan istri, seharusnya Bapak berpikir panjang sebelum melakukan ini semua!!"
"Iya, saya salah. Saya minta maaf."
"Jangan minta maaf ke saya. Tapi minta maaflah ke gadis itu! Jika gadis itu memaafkan Bapak, maka saya tidak akan melaporkan Bapak ke polisi."
Supir taksi itu beralih menghadap Vina.
"Maafkan saya, Nona. Saya khilaf. Saya salah. Tolong maafkan saya."
"Saya tidak akan memaafkan bapak!" Supir taksi itu mendongak kaget mendengar jawaban Vina.
__ADS_1
"Kecuali, setelah saya melakukan sesuatu kepada bapak, maka saya akan memaafkan bapak!"
Vina mencopot sandalnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Kemudian mulai memukulkannya pada supir taksi.
"Bapak harus menerima pukulan ini!! Baru saya akan memaafkan Bapak!!"
Buk!
"Gara-gara Bapak, jantung saya hampir copot karena takut!"
Buk!
"Gara-gara Bapak juga, saya hampir mati tertabrak mobil!!"
Buk!
Vina terus mengayunkan sandalnya ke supir taksi.
"Dan asal Bapak tahu, gara-gara Bapak juga, saya masih belum sampai ke tempat yang saya tuju! Saya jadi tidak bisa cepat-cepat membeli kuota!! Dan jadinya saya tidak bisa menonton anime!!"
Buk! Buk!
"Aaaarrgh!!!" Vina berteriak kesal. Tadi dia benar-benar takut.
Buk! Buk! Buk!
Laki-laki itu tertawa melihat tingkah Vina.
Setelah puas memukuli, Vina pun mengijinkan supir taksi itu pergi.
________
Di sisi lain, Dimas sudah sampai ke rumahnya. Wajahnya tampak begitu cemas.
Dia bergegas masuk dalam rumah.
"Apa Vina sudah kembali?" tanyanya pada Bu Mina.
"Belum, Tuan."
"Ck! Kemana sih, gadis itu?!!" Dimas mengeluarkan hpnya mencoba menelpon Vina lagi.
Lagi-lagi hanya operator yang menjawab.
"Ck!!" Dimas mengusap kasar wajahnya.
"Aku nggak tahu tempat nongkrong kesukaan Vina! Aku juga nggak tahu dia berteman dengan siapa saja!" Dimas menundukkan dirinya di sofa.
"Kamu kemana sih Vin..
Hp kamu juga nggak aktif. Aku harus cari kamu kemana?!!" Dimas memijit keningnya.
"Apa Vina ke kantor ya?
Tapi kan seharusnya kita berpapasan kalau dia ke kantorku! Tapi mungkin aku tidak melihatnya. Karena dia kan naik taksi!" Dimas berdiri.
"Aku harus kembali ke kantor! Mungkin dia ada di sana!!"
Dimas bergegas keluar rumah lagi dan masuk ke mobilnya.
"Pak, tolong buka pagarnya lagi!" teriaknya kepada Pak Joko.
Setelah pagar dibuka, Dimas melajukan mobilnya kembali kantor.
.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG