CINTAKU TERHALANG ANIME

CINTAKU TERHALANG ANIME
Kesalahpahaman


__ADS_3

"Halo." Sang fotografer menyapa Dimas dan Vina. "Kalau sudah siap mari kita lakukan sesi pemotretan." Fotografer itu menginstruksi Dimas dan Vina berada di posisi yang pas.


Dimas dan Vina berpose saling berdekatan dan--


CEKREK


"Ada apa dengan kalian berdua? Memangnya ini foto KTP? Kenapa tidak ada yang tersenyum?! Tuan, pegang pinggul calon istrimu. Dan Nona, pegang dada calon suamimu."


Apa Dimas selalu gugup saat di depan kamera? Kenapa detak jantung kencang sekali?!


CEKREK


"Lebih mendekat sedikit lagi!" perintah sang fotografer.


Dimas sedikit menarik pinggul Vina mendekat ke tubuhnya. Semoga detak jantungku tidak terdengar oleh Vina.


CEKREK


"Lebih dekat lagi!"


CEKREK


"Lebih dekat lagi!"


Sampai kapan dia akan berteriak lebih dekat lagi terus?


Vina menghela nafas.


CEKREK


"Lebih dekat lagi!"


"Anu, maaf Pak.." Vina berteriak kepada fotografer.


"Kupikir saya masih terlalu muda untuk dipanggil bapak."


"Kalau begitu, om--"


"Saya bukan om-om."


"Kakak--


"Saya bukan kakakmu."


"Heeghh! Terserahlah, siapapun kau. Kupikir anda harus memakai kacamata. Di sini sudah tidak ada jarak lagi, jadi berhentilah berteriak 'lebih dekat lagi' terus."


"Nona, di sini fotografernya itu saya. Saya yang lebih tahu berapa jarak yang diperlukan. Jadi, ayo cepat berpose seperti yang kuinstruksikan."


"Heeghh!!"


"Sudahlah, ayo kita lakukan saja." Dimas menarik pinggul Vina sangat dekat ke tubuhnya.


Tidak bisa, Ini terlalu dekat! Aku tidak bisa fokus.


Vina menahan nafasnya.


CEKREK


"Ada apa denganmu Nona?! Apa kau baru saja menghadiri upacara pemakaman? Kenapa kau tidak tersenyum?!"


"Iya!! Aku baru saja menghadiri upacara pemakaman Ayahmu!" sahut Vina kesal.


"Nona, Ayah saya sudah meninggal satu tahun yang lalu."

__ADS_1


"Heeghh. Terserahlah!"


"Aku pikir kita akan mengganti posenya saja. Sepertinya kalian tidak cocok dengan pose ini."


"Kenapa tidak mengatakan itu dari tadi!"


Kali ini Dimas dan Vina berpose saling membelakangi dengan jarak dua meter, lalu mereka menoleh ke belakang, saling memandangi satu sama lain.


Akhirnya sesi pemotretan selesai setelah pose yang terakhir berhasil.


"Haaahhh," Vina menghela nafas. "Ternyata jadi model itu butuh tenaga dan juga kesabaran yang banyak. Lalu bagaimana dengan orang yang bekerja sebagai model ya.." dia mendudukkan dirinya di sebuah batu pinggir danau.


"Ah, sepertinya kita harus bergegas. Aku masih ada meeting yang harus kuhadiri sebentar lagi." Dimas melihat jam tangannya.


"Kalau begitu kau duluan saja. Aku bisa pulang naik taksi."


"Tidak bisa begitu! Tadi kamu berangkat bersamaku, jadi kamu juga harus pulang bersamaku."


"Tidak apa-apa. Aku bukan anak kecil yang bisa hilang jika tak diantar."


"Bukan begitu, aku tidak enak jika Bunda tahu kamu pulang sendiri." Lagi pula, aku ingin lebih lama bersamamu.


"Lha terus aku harus gimana? Katanya kamu harus bergegas meeting?"


"Kamu akan ikut ke kantorku."


"Hah? Nggak ah! Ngapain aku ikut ke kantormu? Mending aku pulang nonton anime."


"Kamu bisa nonton anime di ruanganku. Ayolah, nggak akan lama kok meetingnya. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang."


"Tapi kuotaku hampir habis jika nonton dari hp."


"Tenang saja, di kantorku ada Wifi-nya."


"Hmhh.. Yaudah deh. Tapi beneran nggak lama ya meetingnya."


"Eh, tapi aku ganti baju dulu ya." Vina bergegas ke ruang ganti.


Setelah Vina selesai ganti baju, mereka langsung meluncur ke kantor Dimas.


Sesampainya di kantor, Vina hanya mengekor sembunyi di belakang Dimas.


"Kenapa kamu berjalan di belakangku? Memangnya aku pemandu wisata?" Dimas menoleh ke belakang.


"Diamlah! Kau tidak lihat para karyawanmu sedang menatap kita? Aku tak terbiasa dengan para tatapan itu." Vina sedikit menekan suaranya.


"Kalau begitu kau tidak bisa menjadi artis, jika tidak tahan dengan tatapan banyak orang."


"Memangnya kapan aku bilang ingin menjadi artis?!"


"Sudahlah, hiraukan saja mereka dan berjalanlah di sampingku." Dimas menarik lengan Vina dan menggandeng lengannya.


"Kenapa kamu malah menggandeng lenganku?"


"Oh iya, kebalik! Harusnya kan perempuan yang menggandeng lengan laki-laki ya. Ahaha." Dimas menukar posisi lengannya menjadi Vina yang sedang menggandeng lengannya.


"Lepaskan lenganku! Aku takkan melakukan hal seperti itu! Ayo cepat kita masuk ruanganmu." Vina masuk ke ruangan Dimas terlebih dahulu.


Vina duduk di sebuah sofa yang ada di ruangan itu.


"Aku lupa nggak bawa headset. Apa aku boleh pinjam punyamu?"


"Nggak boleh! Nanti kotoran telingamu nyangkut di headsetku lagi."

__ADS_1


"Apa kamu bilang?! Enak aja! Telingaku bersih tahu!"


"Ahaha. Aku cuma bercanda. Aku juga nggak bawa headset."


"Lah, terus gimana dong?"


"Ya nonton aja tanpa headset." Melihat wajah Vina tampak ragu, Dimas kembali meyakinkan, "Tenang aja, nggak bakalan ada orang yang denger kok. Asal jangan keras-keras volumenya."


Dimas mengambil berkas di mejanya. "Kalau gitu aku meeting dulu ya," ia pergi keluar, meninggalkan Vina.


Nggak ada pilihan lain, Vina pun mulai menonton tanpa headset.


Sudah hampir satu jam, tapi Dimas masih belum kembali.


"Yamete kudasai.." teriak seorang tokoh wanita di anime yang sedang Vina tonton karena digelitiki oleh adiknya.


Bertepatan dengan itu, seseorang tiba-tiba masuk ke ruangan. Saat Vina menoleh, ternyata itu Roni, bukan Dimas.


"Yamete kudasai.." wanita di anime yang Vina tonton masih saja berteriak dan membuat Roni sedikit kikuk.


"Ah, maaf sudah mengganggumu. Silahkan lanjutkan nontonnya." Roni segera menutup pintu.


Vina hanya menatap heran. "Ada apa dengannya?"


Sementara di luar ruangan, Roni masih tampak dengan wajah sedikit terkejut.


"Woyy! Ngapain lu berdiri di depan ruangan gue?" Dimas menghampiri Roni yang berdiri mematung.


"Dim, gue tau kalo kalian itu mau menikah. Dan gue juga tahu kalo Vina itu nggak bisa melakukan hal-hal yang romantis, dan lu berusaha buat ngajarin dia ngelakuin hal-hal romantis, tapi nggak seharusnya lu nyuruh dia belajar hal romantis dari dari film porn*."


"Hah?! Maksud lu apaan sih Ron?!"


"Gue barusan masuk ruangan lu. Dan nggak sengaja denger suara cewek dari hp Vina. Dan suaranya itu aneh Dim, kayak ada nada-nada mendesah gitu. Vina lagi nonton bok*p Dim, pasti lu yang nyuruh kan?!"


"Apaan sih! Gue nggak ada nyuruh-nyuruh Vina buat nonton begituan! Kalau lu punya banyak waktu buat ngurus beginian, mending cepet selesain pekerjaan lu. Udah sana pergi!!" usir Dimas kepada Roni dan masuk ke ruangannya.


Mendengar suara pintu terbuka lagi, Vina mendongak. "Udah selesai meetingnya?"


"Iya, udah." Dimas menghampiri Vina dan duduk di sampingnya. "Oh iya, tadi Roni katanya masuk sini ya?" Dimas melirik hp Vina, terlihat dari layar hp, ada video anime yang sedang dipause.


"Iya, tapi dia nggak bilang apa-apa dan langsung pergi. Dia cuma bilang minta maaf karena sudah mengganggu dan nyuruh aku lanjut nonton, itu aja."


"Ahahaha. Sepertinya dia salah paham sama kamu."


"Tentang apa?"


"Tentang anime yang kamu tonton."


"Hah?" Vina masih tidak mengerti apa yang dimaksud Dimas.


"Waktu masuk tadi, katanya dia nggak sengaja denger suara wanita ngomong dengan nada mendesah dari hp kamu. Dia kira, kamu lagi nonton bok*p."


"APAA!!! Terus kamu bilang apa sama dia?!! Aaargh!!! Tamat sudah!! Aku pasti sudah dicap sebagai cewek mesum olehnya!! Itulah kenapa, aku nggak mau nonton anime tanpa headset. Karena rata-rata cewek Jepang itu suaranya kayak mendesah kalo lagi ngomong.


Aaargh!! Dimas! Sebelum aku dicap sebagai cewek mesum, cepet jelasin ke temenmu kalo aku itu nggak nonton bok*p!!! CEPETAN JELASIINN!!!!"


.


.


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2