CINTAKU TERHALANG ANIME

CINTAKU TERHALANG ANIME
Pengganti Guling


__ADS_3

Suasana kamar yang sunyi, ditambah gelap karena mati lampu, membuat keadaan terasa mencekam.


"Dim.." panggil Vina.


Hanya suara hembusan nafas yang menyahut. Dimas sudah tertidur.


"Dimas.."


Tak ada sahutan.


Vina mengubah posisi tubuhnya menghadap Dimas.


Tangan Vina meraba-raba, ia menyentuh lengan Dimas. "Dim.." Vina menggoyangkan lengan Dimas. Tak ada sahutan dari Dimas.


"Dimas.., listriknya mati..Aku takut gelap.." Vina kembali menggoyangkan lengan Dimas. Masih tak ada reaksi.


"Dimas!" Vina mulai menggoyang lengan Dimas cukup kuat.


"Dim--" ketika Vina ingin menggoyangkan lengannya lagi, Dimas meraih lengan Vina dan menenggelamkan kepala Vina ke dalam pelukannya.


"Hmph!" Aku tak bisa bernafas!


Vina berusaha membebaskan dirinya dari tangan besar Dimas.


Susah payah Vina bisa keluar dari pelukan Dimas.


"Haaaahh.." Vina menghela nafas lega dan segera menggeser tubuhnya menjauh dari Dimas.


Tidak. Ini masih kurang!


Vina menepikan tubuhnya sampai ke pinggiran ranjang.


Vina membalikkan tubuhnya membelakangi Dimas.


Aku tidak akan menyentuhnya lagi!


Bisa-bisanya aku mengumpankan diriku sendiri ke mulut harimau! Lebih baik tidur dalam kegelapan, ketimbang tidur dalam pelukannya!


Vina berusaha memejamkan matanya.


Baru saja Vina hendak terlelap tidur, tangan besar Dimas meraih perut Vina dan menariknya ke dalam pelukannya. Kaki Dimas pun ikut menindih kaki Vina.


Eh! Apa ini?! Apa dia sengaja melakukannya?!!


Vina berusaha melepaskan tangan Dimas yang melingkar erat di perutnya.


Vina bisa merasakan hembusan nafas Dimas yang teratur di atas kepalanya.


Tidak. Dimas tidak sengaja melakukannya! Dia sedang tidur.


Apa ini?!! Dia mengatakan trauma terhadap guling. Dan sekarang dia malah memelukku seperti guling.


"Uughh!" Vina meraih pinggiran ranjang. Berpegangan pada pinggiran itu dan menarik tubuhnya sendiri.


Bukannya terbebas, Dimas malah merengkuh tangan Vina dan memasukkannya ke dalam pelukannya.


Sehingga Vina tak bisa memberontak lagi.


Vina menghela nafas berat.


Selesai sudah! Aku tak bisa melepas pelukannya. Malam ini aku akan tidur dalam pelukan yang menyesakkan ini.


Vina tak bisa memberontak.


Satu-satunya usahanya sekarang adalah, berusaha mencoba untuk tidur dalam pelukan Dimas.


Ada sudut yang melengkung di bibir Dimas setelah Vina tak bisa memberontak pelukannya.


________


Ya Tuhan.., kenapa badanku tidak bisa digerakkan?!! Apa aku ketindihan?!!


Kumohon..siapapun, tolong aku!!


Vina membuka matanya dengan nafas tersengal-sengal.


Kemudian matanya terbelalak.


Ini bukan ketindihan!! Tapi Dimas yang menindih tubuhku!!


Dimas memeluk tubuh Vina dan menindihnya.


"Uuughh!" Vina berusaha mendorong tubuh Dimas.


"Uuughh.., aghh!" Vina berhasil mendorong Dimas. Seketika, Vina langsung berdiri dari tempat tidur.


Bagaimana bisa dia memelukku seperti guling?!! Apa dia nggak tahu kalau badannya itu berat?!


Vina menatap kesal wajah Dimas. Tapi yang ditatap malah membuka mata.


"Kau sudah bangun?" tanya Dimas dengan suara parau.


Vina meliriknya kesal. "Aku nggak mau tahu. Pokoknya nanti malam kamu harus tidur dengan guling!"


"Nggak mau! Aku masih trauma dengan guling. Lagi pula tadi malam aku berhasil tidur tanpa memeluk guling," bantah Dimas.


Vina mendengus kesal.


Aku tidak mungkin mengatakan padanya, bahwa tadi malam dia tidur sambil memelukku!


Tapi kalau aku tidak mengatakannya, nanti malam dia akan memelukku lagi.

__ADS_1


"Ck! Terserahlah! Tapi kamu harus tidur di bagian paling ujung, dan aku juga di ujung!" Vina pergi meninggalkan Dimas, masuk ke kamar mandi.


Dimas hanya tersenyum tipis melihat Vina berlalu.


________


Di meja makan, Dimas dan Vina makan bersama.


Dimas melirik Vina. "Jika kau terus nonton anime, apa nasi itu akan melompat dengan sendirinya ke mulutmu?! Taruh dulu hpmu dan cepatlah makan!"


"Iya iya. Aku makan." Sambil nonton, Vina menyuapkan nasi ke mulutnya.


Dia bahkan makan sambil nonton anime!


"Aku sudah selesai makan. Aku berangkat kerja dulu ya," pamit Dimas.


"Mm." Vina tak mengalihkan pandangannya dari hp.


Dia bahkan tidak melihatku saat aku berpamitan!


Aku harus apa agar dia melihatku?!!


Dimas menyodorkan tangannya ke Vina. Menghalangi pandangan Vina dari hp.


"Apa?!!" Vina menatap Dimas.


Bagus! Akhirnya dia melihat ke arahku!


Dimas tersenyum.


"Apa lagi?! Kau harus mencium tanganku! Semua istri melakukannya pada suami mereka."


Vina mengerutkan alisnya. Menatap tangan Dimas kemudian beralih menatap layar hpnya. Anime yang ditontonnya masih terus berlanjut. Cepat-cepat Vina menerima tangan Dimas dan menciumnya.


Dimas tersenyum. "Aku berangkat dulu ya."


"Iya."


Vina kembali menyantap nasinya.


Butuh waktu yang lama untuk menghabiskan nasi jika dimakan dengan nonton anime.


"Eh? Kenapa jaringannya lemot?!!


Loh loh! Kok sekarang malah nggak ada koneksi internet?!!" Anime yang ditonton Vina terhenti.


"Apa jangan-jangan kuotaku habis?


Duh, semoga jangan." Vina mengecek kuotanya.


"Aduh beneran habis! Gimana nih?!!" Vina masuk ke kamarnya. Mencari dompet miliknya.


"Semoga aku punya uang buat beli kuota."


"Kini aku menyesal! Kenapa aku dulu tak pernah menabung?!!" teriak Vina.


Vina tak mempunyai ATM atau pun kartu kredit. Dia sempat punya kartu kredit, tapi setelah menikah, Ayahnya mengambilnya darinya. Karena Ayahnya tahu, jika Vina terus memegang kartu kredit, maka ia akan keluyuran ke tempat yang di sebut 'Event Cosplay Anime'.


"Ah, aku tahu! Aku pinjam uang ke Bu Min aja dulu ." Vina berlari keluar kamar.


"Bu Min.." panggilnya.


Tak ada sahutan.


"Bu Mina."


Vina berjalan ke dapur. Kosong. Tak ada seseorang.


"Bu Mina..Ira..." Vina mulai berteriak. Tapi tetap tak ada sahutan.


"Kemana Bu Min dan Ira? Apa mereka ke pasar ya?" Vina menggaruk lehernya.


"Apa aku pinjam ke Pak Joko aja ya?" Vina berjalan keluar rumah.


Vina berjalan ke gerbang.


Tak ada seseorang.


Di posnya pun juga nggak ada.


"Pak Joko!!" teriak Vina.


Tak ada yang menyahuti Vina.


"Aish! Kemana sih semua orang?" Vina tolah toleh melihat sekeliling.


"SIAPAPUN!! JAWABAN AKU!!"


Sunyi. Tak ada jawaban.


"Ya ampun.., kenapa semua orang hilang seperti ditelan bumi!!


"Mau nelfon Dimas buat minta beliin kuota, tapi nggak ada pulsa!" Vina kembali berjalan masuk rumah.


"Oh iya! Kan ada telfon rumah. Kok aku pikun ya!"


Vina bergegas ke meja telepon. Mengangkat gagang telepon dan memencet beberapa nomor.


Ada nada tersambung, tapi tidak diangkat.


"Ck! Kok nggak diangkat sih!"

__ADS_1


Vina kembali menelpon, tapi tetap tidak ada jawaban.


Terus berulang sampai lebih dari sepuluh kali. Tapi tetap tidak ada jawaban.


"Ck! Dimas kemana sih kok nggak diangkat?!! Apa aku ke kantornya aja ya?


Tapi aku nggak ada uang buat naik taksi!" Vina mengerutkan keningnya berpikir.


"Ah! Aku naik taksi aja dulu. Baru pas nyampek kantor, aku minta uang ke Dimas, buat bayar ongkos taksinya!" Vina kembali berjalan keluar rumah.


Di gerbang, masih tidak ada seorang pun.


Vina menyelinap keluar gerbang.


"Apa aku harus berjalan ke depan sedikit ya, biar dapat taksi." Vina berjalan sedikit menjauh dari depan gerbang.


Beberapa menit dia menunggu. Tetap tak ada taksi.


"Mungkin aku harus berjalan ke sana sedikit." Vina kembali berjalan. Berjalan, berjalan, dan seterusnya. Sampai gerbang depan rumahnya tidak terlihat olehnya.


________


Hp Dimas terus berdering. Tapi dia tak bisa mengangkatnya karena sedang rapat.


Begitu rapat selesai, hpnya kembali berdering lagi. Terlihat di layar, telepon dari rumahnya. Ia mengangkatnya.


[ Halo Tuan. ] Itu suara Bu Min. Suaranya terdengar panik.


"Iya Bu Min, ada apa?"


[ Nona, Tuan. Nona hilang!! ] nadanya terdengar tambah panik.


Dimas terkejut. "Hah?!! Maksudnya?!!"


[ Nona Vina hilang, Tuan. Saya sudah mencarinya di seluruh rumah, tapi tidak ada! Saya juga sudah tanya sama Pak Joko, tapi katanya dia juga nggak lihat! ]


"Bagaimana mungkin Vina bisa hilang?


Dia nggak bilang sama Bu Mi mau pergi kemana gitu?"


[ Nggak, Tuan. Saya tadi ke pasar bersama Ira, jadi nggak tahu. ]


"Kalau pak Joko?"


[ Pak Joko tadi katanya juga sempet ke kamar mandi, Tuan. Jadi dia juga nggak tahu. ]


"Hmm... Yaudah, biar saya yang cari Vina." Dimas menutup sambungan teleponnya.


"Vina kemana ya?" Dimas mengetik nomor Vina, kemudian meneleponnya.


'Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.'


Hp Vina tidak aktif. Dimas kembali menelponnya. Tapi tetap yang menjawab hanya operator.


"Ck! Kenapa nggak bisa dihubungin sih!


Bikin khawatir aja! Apa Vina pulang ke rumahnya ya? Aku coba telepon rumahnya aja deh!" Dimas menelepon rumah Vina


Nada tersambung. Seseorang mengangkatnya di seberang.


[ Halo? ]


Ini suara Bunda!


Kalau aku tanya Vina ada di sana atau tidak, dan ternyata Vina nggak ada di sana. Nanti Bunda jadi khawatir lagi.


"Ini Dimas Bunda. Tadi katanya Vina mau ke sana. Apa dia sudah sampai?" tanya Dimas berbohong untuk mengetahui Vina ada di sana atau tidak.


[ Oh, Dimas. Belum nih, Vina belum sampai. ]


Dimas kaget.


"Oh, yaudah Bunda. Dimas cuma mau nanya itu aja kok. Terimakasih ya Bunda.."


Klik.


Dimas menutup telepon.


"Kalau Vina nggak pulang, terus dia kemana?"


Dimas kembali menelpon Vina.


'Nomo yang anda tuj--' klik.


Lagi-lagi hanya operator yang menjawab.


"Sebenarnya Vina kemana sih?!! Di rumahnya nggak ada. Hpnya juga nggak aktif!" Dimas bergegas keluar dari ruangannya.


Dia keluar dari kantor dan menuju parkiran.


"Kamu kemana sih Vin?! Seenggaknya, kalau kamu mau kemana-mana, harusnya kamu hubungin aku dong!


Kalau gini kan aku jadi khawatir!" Dimas mengendarai mobilnya pulang ke rumah.


.


.


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2