
Dimas menyetir, membawa mereka ke tempat pemotretan.
Tak ada perbincangan diantara mereka. Vina pun juga tidak bertanya dimana tempat pemotretannya. Dia tidak terlalu peduli tentang hal itu.
Kuharap pemotretannya cepat selesai. Berapa banyak waktu yang kubuang sia-sia yang seharusnya kupakai untuk nonton anime.
Vina mengalihkan pandangannya keluar jendela dan menghela nafas panjang.
Mobil berhenti di sebuah taman. Di sana sudah terdapat banyak peralatan fotografi.
Vina terpukau melihat pemandangan di depannya. Semuanya tampak begitu hijau. Hanya satu dua bunga saja yang berwarna ungu, menambah kesan manis.
Barusan aku masih di tengah perkotaan yang panas. Dan sekarang aku berada di tengah taman yang sangat hijau dan sejuk, rasanya seperti di dunia lain saja.
"Bagaimana kamu bisa menemukan tempat seperti ini?" Lihat pohon itu, daunnya sangat rindang. Bahkan di tengah-tengah taman juga ada danaunya. Benar-benar seperti di dunia lain. Vina memandang sekeliling dengan mata berbinar. "Ini seperti di anime The Garden of Worsd. Semuanya yang ada di sini berwarna hijau."
"Rambut kita warna hitam tuh," Dimas nyeletuk asal.
"Ish kau ini!" Vina memukul lengan Dimas. "Kau tidak bisa membaca suasana ya."
Dimas hanya tersenyum bangga terhadap dirinya sendiri. Semalaman full dia mencoba nonton anime dengan grafik yang bagus.
Awalnya dia bingung mencari tempat pemotretan. Dia berpikir, kira-kira tempat seperti apa yang akan disukai oleh Vina.
Kemudian dia menemukan ide untuk mencari tempat yang mirip dengan pemandangan yang ada di anime. Di situlah dia mulai nonton anime dan mencocokkan dengan tempat-tempat yang mirip.
"Ayo kita ganti baju dulu di sana," Dimas menunjuk suatu tempat.
"Oh, harus ganti baju dulu ya?"
"Memangnya kau mau foto prewedding dengan hoodie dan celana trainingmu?"
"Ahaha..iya ya," Vina menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil memandangi celana trainingnya.
"Aku heran, biasanya para wanita itu selalu ribet dengan penampilan mereka. Bahkan sampai menggunakan high heels yang tentunya membuat kaki mereka sakit. Lalu, kemanakah jiwa wanitamu?" Dimas memandang Vina yang hanya memakai hoodie dan celana training, tak ketinggalan dengan rambut yang diikat asal-asalan keatas.
"Entahlah, aku cuma nyaman saja berpakaian seperti ini. Tapi jika Bunda tahu, dia pasti tak akan membiarkanku pergi keluar dengan modelan seperti ini. Tapi untungnya, tadi Bunda nggak ada di rumah."
"Oh iya, tadi waktu aku sampai rumahmu, Ayah dan Bunda sudah nggak ada. Kalau Ayah sudah pasti lagi kerja, lalu kalau Bunda?"
"Bunda mengelola sebuah perpustakaan di kota."
"Oh ya?"
"Iya. Makanya sejak kecil aku suka membaca. Lalu menjalar ke komik, lanjut ke Manga, dan sampai di anime. Dari situlah aku mulai menjadi otaku."
"Wah, aku nggak nyangka, dari dulu Bunda mengelola perpustakaan." Dimas membuka pintu.
__ADS_1
"Aku sudah memesan MUA, apakah orangnya belum datang?" tanya Dimas pada seorang laki-laki yang berada di dalam ruangan, tempat yang ditunjuk Dimas tadi.
"Apakah anda tidak melihat orang yang berdiri di depan anda, Tuan?" Dimas mengernyitkan alisnya mendengar laki-laki itu balik bertanya.
"Maksudmu, kau adalah make-up artistnya?" Dimas kembali bertanya.
"Tentu saja. Memangnya siapa lagi yang berdiri di depanmu?!"
"Jadi make-up artistnya laki-laki?" lagi-lagi Dimas bertanya.
"Panggil saya Rendi. Apakah anda keberatan dengan gender saya? Jangan salah ya, meskipun saya laki-laki, bisa dibilang kemampuan saya itu luar biasa." Laki-laki itu memuji dirinya sendiri.
"Aku tidak keberatan, mau laki-laki atau perempuan. Segera rias diriku jika itu memang diperlukan untuk pemotretan." Vina duduk di kursi yang didepannya ada sebuah kaca.
Aku yang keberatan! Batin Dimas.
"Aku suka dirimu Nona, kau tidak banyak bertanya. Tapi kau harus ganti baju dulu."
"Jangan menyukainya! Dia itu calon istriku!"
"Kau ini dari tadi cerewet sekali Tuan," Rendi mengejek Dimas.
"Aku sudah selesai. Bisa kita mulai make-upnya?" Vina keluar dari ruang ganti. Ia tampak menggunakan gaun pernikahan warna putih dengan renda yang menutupi lehernya. 'Cantik sekali!' Itu yang terlintas di benak Dimas.
"Tentu saja. Silahkan duduk di sini." Rendi mempersilahkan Vina duduk di kursi yang sempat ia duduki tadi.
"Astaga...Kau tampak cantik menggunakan gaun ini Nona."
"Kenapa kau terus menggodanya? Kau lupa kalau calon suaminya ada di sini?"
"Ya ampun..Apa memuji orang cantik itu termasuk menggoda?"
Dimas tak bisa berkata-kata untuk menjawabnya.
Ketika Rendi mulai menggambar alis, Dimas bangkit dari duduknya.
"Jauhkan wajahmu darinya, jangan terlalu dekat-dekat," Dimas mendorong kepala Rendi menjauh.
"Aish! Astaga!! Bagaimana bisa aku merias dari jarak jauh? Kau pikir aku ini Elastigirl, yang tangannya bisa molor?"
"Terserahlah. Itu urusanmu. Yang penting jangan terlalu dekat," ucap Dimas sambil kembali duduk di kursinya.
Apa yang dilakukan si Bodoh itu sih! Kalau seperti ini terus, kapan selesainya ini! Dipikir enak apa wajah kita digambar-gambar orang lain.
Vina masih berusaha bersabar dengan mata terpejam.
"Nona, apa dia memang secerewet ini dari dulu?" tanya Rendi kepada Vina.
__ADS_1
"Entahlah, mungkin iya."
"Apa maksudmu entahlah?"
"Aku tak terlalu mengenalnya. Kami baru bertemu beberapa hari yang lalu."
"Apa?!! Nona baru bertemu beberapa hari yang lalu dengannya dan langsung menikah?"
"Iya, kami dijodohkan."
"Ya ampuuun. Andai saja orang tua Nona menjodohkan Nona denganku, pasti Nona tak akan susah-susah mendengar cerewetannya.
"Berhenti mengoceh terus dan menghayal! Kau pikir meskipun orang tua Vina menjodohkanmu dengan Vina, memangnya Vina bakal mau sama kamu?"
"Lihat itu Nona. Dia bahkan tidak bisa diajak bercanda."
"Vina, kenapa kau diam saja? Memangnya kau mau jika dijodohkan sama dia?"
"Benar-benar laki-laki yang kaku, tidak bisa diajak bercanda." Rendi menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Vin--"
"Kalian berdua kenapa sih! Kalau kalian seperti ini terus, kapan selesainya?!!" akhirnya Vina kehilangan kesabarannya. "Dan kamu Dimas, cobalah untuk diam sebentar saja. Aku ingin semuanya segera selesai dan secepatnya pulang. Memangnya kamu mau di sini terus?"
Dimas hanya mendengus kesal, sementara Rendi tersenyum penuh kemenangan mendengar Vina mengomeli Dimas.
Proses makeup masih terus berlanjut. Saking lamanya, Vina sampai ketiduran.
"Nona, nona." Rendi mencolek-colekkan ujung Fan Brush-nya ke pipi Vina yang tertidur.
"Bagaimana mungkin dia tertidur saat wajahnya sedang dirias? Bahkan meski aku mencolek pipinya pun dia tetap tidak bangun-bangun juga. Sepertinya meski diculik pun, dia tidak akan bangun." Rendi bergumam-guman kecil, tapi masih terdengar oleh Dimas.
"Jangan berani-berani punya pikiran untuk menculik Vina. Karena aku akan selalu mengawasimu. Cepat lakukan saja tugasmu!"
"Kenapa telinganya tajam sekali." Rendi melirik Dimas sekilas, lalu kembali menatap Vina. "Bahkan sedang tidur pun, dia masih terlihat cantik."
"OOYY!! AKU MENDENGARNYA TAHU!!" teriak Dimas.
"Hah?!! Apa?? Kamu mendengar apa?!!" Vina yang kaget pun akhirnya terbangun.
.
.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG