CINTAKU TERHALANG ANIME

CINTAKU TERHALANG ANIME
Bantal yang Tak Sama


__ADS_3

"Dim, Vin, apa kalian sudah tid--" Bu Vely tiba-tiba membuka kamar.


Bu Vely terkejut melihat pemandangan yang ada di kamar.


"Ah. Maaf! Sepertinya Mama ganggu kalian!"


Blamm!


Bu Vely segera menutup pintu.


Tidak berapa lama kemudian, terdengar suaranya lagi.


"Dimas! Lakukan itu di tempat tidur! Nanti kalian masuk angin lho kalau di lantai!" diiringi dengan suaranya yang menahan tawa.


Vina mendelik ke Dimas dan segera mendorongnya menjauh.


"Apa itu tadi?!! Mama mengira kita akan-- Aish. Sudahlah! Lupakan!!" Vina tak sanggup melanjutkan kata-katanya.


Vina berdiri dan duduk di tepi ranjang. Matanya mencari sesuatu.


"Hpku mana?"


Melihat ke bantal, mengangkatnya. Hpnya tak ada di sana.


"Dim, kamu liat hpku nggak?" tanyanya ke Dimas.


"Nggak. Kenapa?"


"Hpku nggak ada." Vina masih mencari hpnya di tempat tidur.


"Emang tadi kamu taruh dimana?" Dimas ikutan mencari.


"Kalau aku ingat, aku nggak nanya ke kamu!"


"Tadi waktu kita beli kuota, hpmu masih ada nggak?"


"Aku lupa. Duuuh dimana sih hpku?!


Apa ketinggalan di ruanganmu ya?"


"Bisa jadi."


"Ayo dim, kita ke kantormu sekarang!" ajak Vina.


"Ini udah malem Vin, besok aja!"


"Nggak mau. Nanti kalau hpku ilang atau diambil orang gimana?!"


"Ya kita tinggal beli lagi!"


"Bukan masalah belinya Dim. Tapi di hpku itu banyak kenangannya! Foto-foto anime, fotoku pas ke acara cosplay anime, dan banyak lagi!"


"Tapi ini udah malam Vin. ini udah jam 10!"


Vina menatap jam.


Pukul 22.00


Vina terdiam menghela nafas.


"Hpmu nggak mungkin hilang, pasti ketinggalan di ruanganku. Udah, sekarang kamu tidur aja. Besok kamu bisa ikut ke kantorku buat nyari hp kamu."


"Iya," jawab Vina lesu.


Yahhh. Nggak bisa nonton anime deh!


Sia-sia tadi beli kuota. Bahkan tadi siang hampir diculik gara-gara mau beli kuota. Tapi sekarang hpnya malah nggak ada!


________


"Bang, beli voucher kuota ya. Yang unlimited!" ucap Hanan pada penjaga konter.


Saat sudah membayar dan hendak pergi, kakinya seperti menendang sesuatu.


Saat menunduk, Hanan menemukan Hp tergeletak di lantai, di depan etalase kaca.


Hanan memungutnya.

__ADS_1


Hp siapa ini?


Hanan menyalakan hpnya. Muncul wallpaper anime.


Dia mengusap layar hp.


Tidak dikunci!


Jaman sekarang masih ada ya orang yang tidak mengunci hpnya pakai sandi.


Tapi hp siapa ini?!


Dimas membuka galery, ingin melihat wajah pemilik hp tersebut.


"Semuanya penuh gambar anime. Siapa pemilik hp ini? Kenapa tidak ada foto dirinya sama sekali?!"


Hanan terus men-scroll galery ke bawah. Galery itu penuh dengan gambar-gambar anime.


Begitu melewati foto perempuan, Hanan langsung berhenti men-scroll.


"Vina!"


Di foto itu Vina sedang berpose dengan orang yang sedang meng-cosplay anime.


"Jadi ini hp Vina! Apa tadi dia kesini?


Bang, apa tadi ada cewek ini ke sini?" Hanan menunjukkan foto Vina ke penjaga konter.


Penjaga konter terdiam, berusaha mengingat. "Oh. Iya! Tadi ada cewek itu ke sini. Dia ke sini sama cowok kalau nggak salah."


"Oh yaudah, kalau gitu makasih ya Bang." Hanan berjalan meninggalkan konter dan masuk ke mobilnya.


"Mungkin tadi hp Vina jatuh waktu ke sini. Untung aku yang nemuin hpnya."


Hanan melajukan mobilnya, pulang ke rumahnya.


________


Sesampainya di rumah, Hanan terus mengubek-ngubek hp Vina.


Di mulutnya terus saja terukir senyum melihat berbagai pose Vina di foto.


"Dia juga gadis yang lucu, cantik lagi!


Tapi tadi katanya dia ke konter sama cowok. Siapa ya? Apa pacarnya Vina?"


Hanan melihat kontak di Hp Vina.


"Apa aku harus menelfon seseorang yang ada di kontak ini ya. Vina pasti sekarang lagi bingung nyariin hpnya."


Hanan mengecek riwayat panggilan di Hp Vina.


"Dimas. Riwayat panggilan darinya paling banyak. Dia siapanya Vina? Mungkin aku harus telfon dia. Dan mengatakan kalau hp Vina ada di aku." Hanan memencet nomor Dimas.


Sebelum terdengar nada tersambung, hp Vina malah mati.


"Yah, mati." Hanan bergegas mengambil charger dan mengecas hp Vina.


"Kalau gitu aku langsung balikin besok aja deh. Aku kan besok ada meeting lagi di kantor yang tadi siang. Semoga aja besok aku ketemu sama Vina di sana."


Hanan merebahkan dirinya di tempat tidur.


________


Jam menunjukkan pukul 23.07


Dimas masih belum tertidur.


"Vin, kamu udah tidur belum?"


Tak ada sahutan.


"Vina.." Dimas menoleh ke Vina karena tetap tak ada sahutan. Kemudian mengubah posisinya, menghadap Vina.


Vina sudah tertidur.


"Tumben dia udah tidur. Biasanya dia akan terus mengomel tidak bisa tidur."

__ADS_1


Dimas menatap wajah Vina yang sedang tertidur.


"Sebenarnya aku ingin ngungkapin perasaanku ke kamu Vin." Dimas menyentuh wajah Vina. "Tapi aku takut kamu akan menjauhiku."


Dimas menghela nafas.


Kemudian dia menggeser tubuhnya mendekat ke Vina. Mengangkat kepala Vina dan menaruhnya di lengannya sendiri.


Kini Vina tertidur di lengan Dimas.


Dimas terkekeh.


"Berkat kamu, sekarang aku bisa tidur tanpa memeluk guling." Dimas mengelus kepala Vina.


Dimas terus mengelus kepala Vina sampai akhirnya dia tertidur.


________


Emmmm. Perasaan kalau aku tidur nggak pernah meluk guling deh. Lalu apa yang sedang kupeluk ini?


Dengan mata yang masih terpejam, Vina meraba-raba sesuatu yang ada di pelukannya.


Baju. Kulit. Hah? Kulit?!


Vina terus meraba-raba kulit di balik baju.


Tiba-tiba ada sebuah tangan yang memegang tangannya, menghentikannya untuk terus meraba-raba.


"Geli Vin! Kenapa kamu masukin tanganmu dalam ke bajuku?"


Pats!


Vina membuka matanya lebar-lebar.


Vina terbelalak mendapati dirinya tidur di lengan Dimas. Terlebih lagi tangannya yang melingkar di perut Dimas.


APA?!! Kenapa aku tidur dengan memeluk Dimas?!!


Vina segera mendorong Dimas menjauh. Membuat Dimas terkejut.


"Kenapa sekarang kamu malah mendorongku? Padahal semalaman kamu terus memelukku!"


Vina mendelik ke Dimas. Mengubah posisinya menjadi duduk. Ia sangat kesal mendapati Dimas yang ternyata tidur di bantalnya.


"Jangan salahkan aku karena tidur di lenganmu! Itu gara-gara kau sendiri yang merebut bantalku. Lihat itu!" Vina menunjuk bagian tempat tidur yang kosong di belakang Dimas. "Kau bahkan meninggalkan bantalmu sendiri dan malah tidur di bantalku!"


Dimas menggulingkan badannya menuju bantalnya sendiri.


"Ah. Aku tahu apa masalahnya!" Dimas mengubah posisi menjadi duduk. "Lihat ini! Bantalku terlalu gepeng!" ucapnya menyerahkan bantal ke Vina.


Vina meraihnya. "Apaan sih! Orang sama aja kok bantalnya! Lihat nih, bantal kita tuh sama tebalnya!" Vina menyerahkan bantalnya sendiri ke Dimas.


"Jelas-jelas bantalnya nggak sama!" bantah Dimas.


"Apanya yang nggak sama. Liat yang bener!"


Dimas tersenyum. "Kamu sengaja mendebatkan bantal ini supaya lebih lama di kamar sama aku?!!"


"Apa?!! Jelas-jelas kamu kan tadi yang bilang kalau bantal kita nggak sama?!!"


"Udahlah Vin, nggak usah malu gitu. Nggak papa kok kalau kamu mau lama-lama sama aku."


"Ah. Udahlah! Aku mau mandi duluan!!"


Vina turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.


Dimas terkekeh geli.


Tentu saja Dimas tahu kalau bantal mereka sama. Dia hanya membuat alasan saja.


Di dalam kamar mandi, Vina terus ngedumel.


"Dia sendiri yang bilang kalau bantalnya nggak sama. Tapi dia malah menuduhku ingin berlama-lama dengannya!"


Vina membuka pakaiannya dan langsung melemparnya ke lantai yang basah dengan kesal.


Saat badannya sudah terlanjur basah, Vina baru menyadari sesuatu.

__ADS_1


"Gawat! Aku masuk ke kamar mandi tanpa membawa handuk atau pun baju ganti!"


BERSAMBUNG


__ADS_2