
"Gimana nih?! Mana baju aku yang tadi udah aku lempar ke lantai yang basah lagi."
Vina menatap bajunya di lantai.
"Kenapa aku tadi pakek ngelempar baju ke lantai segala sih?! Kalau udah gini kan jadi repot sendiri. Ah. Udah deh. Selesain mandi aja dulu!"
Selesai mandi, Vina membuka pintu kamar mandi dengan pelan. Ia melongokkan kepalanya dari pintu, berusaha mencari seseorang.
"Oke. Aman! Nggak ada Dimas!
Untung kamar gantinya sebelahan sama kamar mandi." Vina berjinjit-jinjit sambil menutupi area tubuhnya dengan tangan.
Aaargh!! Kenapa dia ada di sini?!!
Vina membulatkan matanya menemukan Dimas ada di ruang ganti juga.
Dimas yang merasakan ada seseorang yang mengendap-ngendap di belakangnya jadi ingin menoleh.
"JANGAN NOLEH!!" teriak Vina.
Seketika Dimas menjadi kaku.
"Eh? Kenapa?" karena penasaran, Dimas ingin menoleh lagi.
"KUBILANG JANGAN NOLEH!!! teriak Vina panik. "Aku sekarang lagi tidak memakai apapun!"
"Hah?!! Apa maksudmu?!!" Dimas terbelalak tanpa menoleh. Dia masih membelakangi Vina.
"Aku tadi lupa nggak bawa handuk ataupun baju ganti waktu mandi! Jadi aku mengendap-ngendap ke ruang ganti. Tapi ternyata kamu juga ada di sini!!"
"Ka-kalau gitu berarti sekarang kamu tidak memakai apapun di tubuhmu?!" telinga Dimas terlihat memerah.
"Iya!! Makanya menyingkir dari lemari! Karena aku mau ganti baju!"
Saat Dimas ingin bergerak, Vina kembali berteriak.
"Jangan bergerak!!"
"Kalau aku tidak bergerak, lalu bagaimana kamu akan mengambil bajunya?! Lemarinya kan ada di sampingku?!!"
"Diam saja. Dan turuti perkataanku!
Bergeserlah ke kiri tanpa membalikkan badan!"
Dimas melangkah menyamping.
"Hadapkan tubuhmu ke kiri!" Dimas pun menurut, ia menghadap ke kiri. "Diam di situ!!" Vina melangkah ke lemari. Bergegas mengambil baju dan memakainya tanpa mengelap badannya dengan handuk.
"Sudah. Kau boleh bergerak sekarang!"
"A-anu Vin. Itu..Aku bisa lihat bayanganmu dari kaca di depanku." Dimas menatap Vina dari kaca besar di depannya.
"A-apa?!!!" Vina melotot. Ia tidak menyadari ada kaca di depan Dimas. Bayangannya benar-benar terpantul jelas dari sana.
"Aakhhh!! Kenapa kamu nggak bilang dari tadi?!! Dasar mesum! Mesum!!" Vina memukul Dimas.
"E-eh. Vin. Vin." Dimas berusaha menghindari pukulan Vina. "Tapi aku nggak liat apa-apa kok. Beneran! Aku tadi cuma liat sampai batas paha! Beneran. Suwer!"
Vina berhenti memukul.
"Mulus!" bisik Dimas.
Vina melotot. "Haaaghh!! Apa kamu bilang?!!!" Vina kembali memukul Dimas. "Heeeeeghh!! Apanya yang mulus! Dasar mesum!!"
"Adu-duh! Paha Vin. Paha."
"Heeeeeghh dasar!!" Vina terus memukul Dimas.
Dimas berlari menghindari pukulan Vina.
__ADS_1
"Daah..Aku mandi dulu."
Blamm.
Dimas masuk ke kamar mandi meninggalkan Vina yang masih kesal.
________
Di dalam mobil Vina terus terdiam.
"Ayolah Vin..Masa masih ngambek sih.
Aku beneran nggak liat kok. Sumpah.
Aku tadi juga kaget waktu liat bayanganmu dari kaca. Tapi aku langsung tutup mata pas liat pahamu."
"Heeeeeghh! Kenapa masih bahas itu lagi sih!!"
"H-habisnya kamu diem terus dari tadi. Jadi kupikir kamu masih marah."
"Heeghh! Sudah kubilang untuk lupain yang tadi pagi!"
Mobil Dimas memasuki area parkiran kantornya.
Vina keluar terlebih dahulu dari mobil.
Saat Dimas hendak keluar dari mobil, dia teringat sesuatu. Terlihat dia mengubek-ngubek isi tasnya.
"Kenapa kamu masih belum keluar?" tanya Vina.
"Anu Vin, kayaknya aku lupa bawa berkas untuk meeting pagi ini. Aku balik ke rumah lagi sebentar ya. Kamu masuk duluan aja."
"Haahh..Berkas sepenting itu malah kelupaan."
Dimas menyalakan mobilnya lagi dan memutar mobilnya kembali ke rumah.
"Vina!"
Vina menoleh,
"Hanan! Kok kamu ada di sini?"
"Iya. Aku ada meeting lagi di kantor ini. Dan juga.." Hanan mengeluarkan Hp dari sakunya.
"Itu hpku!" pekik Vina.
"Iya. Aku juga mau mengembalikan ini!" Hanan menyodorkan hp Vina. "Kemarin aku menemukannya waktu beli kuota."
"Haahh? Jadi hpku nggak ketinggalan di kantor?!!" Vina menerima hpnya. "Terimakasih ya, sudah menemukannya."
"Sama-sama. Ngomong-ngomong, kamu kok pagi banget datang ke kantor? Kantornya belum buka tuh."
"Ah." Aku nggak sadar kalau sekarang ternyata masih terlalu pagi. Aku tadi cepat-cepat mengajak Dimas berangkat karena buru-buru ingin mencari hpku di kantor. "Aku mengira hpku ketinggalan di kantor. Jadi aku ingin cepat-cepat ke kantor untuk mencari hpku."
"Mm, karena sekarang masih terlalu pagi, dan kantornya juga belum buka. Gimana kalau kita ke kafe depan kantor. Kita ngopi sambil nunggu kantornya buka."
"Aku nggak ngopi!" jawab Vina singkat. "Hidupku sudah pahit. Kenapa aku harus minum yang pahit-pahit juga."
"Ya makanya kopinya dikasih gula dong Buk biar manis! Begitu juga sama hidup, meskipun kamu sedang menjalani kepahitan hidup, kamu pasti bisa menemukan sesuatu yang membuat kepahitan itu sedikit berkurang."
Vina tersenyum mendengar filosofi Hanan. "Tapi aku beneran nggak suka kopi tahu!"
"Kamu bisa pesan yang lainnya kok, selain kopi." Lagi pula aku bukannya mau ngopi, aku cuma mau ngobrol sama kamu.
"Yaudah deh. Kalau gitu ayo." Lagi pula Dimas juga masih pulang ke rumah. Aku akan minum di kafe itu sambil menunggu Dimas.
Hanan dan Vina beriringan masuk ke kafe. Dan saling memesan minuman.
Vina membuka hpnya. Baterainya 100%!
__ADS_1
"Kamu ngecasin hpku juga ya. Makasih ya."
"Iya. Mm, Vin. Aku boleh minta nomor hp kamu nggak?"
"Boleh. Nih!" Vina menyerahkan hpnya. Memperlihatkan nomor hpnya sendiri dari hp miliknya.
Hanan meraih hp Vina dan mengernyit. "Kamu nggak hafal nomor hp kamu sendiri?"
"Nggak." Vina menyeruput susu jahe miliknya.
Hanan pura-pura menyalin nomor Vina.
Padahal mah aku udah nyalin nomornya tadi malam!
Dari dalam kafe, Vina melihat mobil Dimas memasuki area kantor.
Dimas udah datang.
"Hanan, maaf ya nggak bisa ngobrol lama. Aku mau balik ke kantor."
"Oh. Kantornya udah buka ya." Hanan melihat jam tangannya. "Yah, meetingku masih setengah jam lagi. Aku mau nunggu di sini aja deh sampai waktunya meeting tiba."
"Yaudah, kalau gitu aku duluan ya."
"Oke."
Hanan menatap punggung Vina yang berjalan menjauh dari kafe.
Padahal aku masih ingin ngobrol lama sama dia. Hmmmh..
Vina berjalan menghampiri Dimas yang baru keluar dari mobil.
"Dim."
Dimas menoleh, ia melihat tangan Vina yang menggenggam hp..
"Kamu udah ambil hpmu dari ruanganku ya?"
"Orang hpku nggak ketinggalan di ruanganmu kok!"
"Lah terus?!"
"Tadi ada orang yang nganterin hpku ke sini. Katanya dia nemuin di konter tempat kita kemarin beli kuota."
"Kok dia bisa tahu kalau kamu yang punya hp? Apalagi dia langsung nganterin ke sini."
"Yang nemuin hpku itu kenalanku.
Tapi itu sekarang nggak penting. Yang penting itu, sekarang aku mau pulang. Kan hpku udah ketemu."
"Lho. Kamu nggak boleh pulang." Larang Dimas.
"Kenapa?"
"Kamu lupa sama janji kamu kemarin? Kan kamu udah janji sama aku kalau kamu mau nemenin aku jalan-jalan."
Masih ingat aja dia.
"Tapi kan kamu sekarang ada meeting."
"Kita bisa pergi setelah aku selesai meeting."
"Tapi kan belum jamnya pulang."
"Ya nggak papa lah. Kan aku bosnya. Terserah aku dong mau pulang jam berapa."
"Hmh! Bos macam apa ini!" cibir Vina.
BERSAMBUNG
__ADS_1