CINTAKU TERHALANG ANIME

CINTAKU TERHALANG ANIME
Jalan-jalan Unlimited


__ADS_3

"Loh. Kok kita pulang?" tanya Vina ketika melihat pagar rumah dari jauh.


"Kenapa? Kamu masih mau kencan sama aku?" ucap Dimas menggoda Vina.


"E-eh. Bukannya gitu. Kan tadi kamu sendiri yang bilang kalau kita masih akan ke tempat-tempat yang lain."


"Oh. Nggak jadi. Besok aja. Aku capek."


Dimas memarkirkan mobilnya dan keluar dari mobil.


"B-besok? Bukannya cuma hari ini aja ya?" Vina menyusul keluar.


"Apa maksudmu? Jalan-jalan unlimitednya masih belum berakhir!!" Dimas membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.


"Ck!" Vina mendengus kesal.


Jalan-jalan Unlimited? Ada-ada aja.


Untung Mama nggak jadi nginep dua hari. Jadi aku nggak perlu pura-pura mesra sama Dimas.


Dimas masuk ke dalam kamar. Disusul oleh Vina.


"Aku mandi duluan." ucap Vina setelah mengecas hpnya.


"Jangan lupa bawa handuk!" ujar Dimas mengingatkan, membuat Vina ingat akan kejadian tadi pagi.


"Hergh! Iya-iya."


________


Setelah selesai mandi, Vina berbaring di tempat tidur sambil nonton anime.


Dimas naik ke tempat tidur mendekati Vina yang sedang berbaring. Ia mengulurkan tangannya, mengelus rambut Vina.


"Singkirkan tanganmu!" Vina menepis tangan Dimas.


"Biarkan aku tetap mengelus rambutmu!" Dimas kembali mengelus rambut Vina tapi ditepis lagi oleh Vina.


"Kau ini kenapa sih?! Apa aku kucingmu yang bisa kau elus-elus?!"


"Aku dulu punya kucing yang suka kuelus-elus." Ujar Dimas berbohong. "Tapi dia sudah mati."


"Lalu apa urusannya denganku?!"


"Rambutmu halus. Seperti bulu kucingku dulu." Dimas kembali mengelus kepala Vina.


"Singkirkan tanganmu!" Vina menepis tangan Dimas lagi. "Jangan ganggu aku! Aku lagi nonton anime."


"Biarkan aku melakukannya!"


"Tidak akan kubiarkan!"


"Akan kubelikan kau miniatur anime jika kau membiarkanku mengelus kepalamu!"


Vina langsung duduk dan mempause animenya. "Sungguh??"


Dimas melebarkan matanya dan tersenyum. "Ya. Aku janji."


"Belikan aku miniatur Naruto!"


Dimas mengernyit. "Eh? Bukannya kamu suka Vanitas ya?"


"Belikan aku dua-duanya!"


"Oke."


"Kapan?" tanya Vina.


"Besok."


"Janji?"


"Iya, janji."


"Baiklah." Vina kembali berbaring. "Eluslah kepalaku sampai kau puas!"

__ADS_1


Dimas tersenyum dan mulai mengelus kepala Vina.


Miniatur anime ya..


Akan kubelikan apapun itu asalkan itu bisa membuatmu jatuh cinta padaku.


Dimas terus mengelus kepala Vina sambil menonton TV.


Vina yang sedari tadi tidak bergerak membuat Dimas heran.


Dimas menaikkan poni Vina untuk melihat wajahnya.


"Lho? Udah tidur?" Dimas melirik jam.


Pukul 20.31


"Padahal masih jam setengah sembilan. Apa karena aku terus mengelus kepalanya ya?"


Dimas mematikan TV. Kemudian meraih hp Vina. Mempause anime dan menaruh hpnya di meja.


Menggeser tubuh Vina dan menaruh kepala Vina di lengannya.


Kemudian terlelap tidur bersama Vina.


________


Apa yang melingkar di perutku ini?


Berat sekali!


Vina meraba sesuatu yang melingkar di perutnya. Matanya masih terpejam.


Tangan siapa ini?


Hah?! Tangan?!!


Vina langsung membuka matanya begitu menyadari ada tangan yang memeluk perutnya.


Lagi-lagi aku tertidur di pelukan Dimas!


Vina terbelalak.


Apa itu?! Kenapa bantalku ada di sana?!!


Vina menatap bantalnya yang berada di sisi tempat tidur.


Apa itu berarti aku yang mendekati tempat tidur bagian Dimas?! Itulah alasannya dia memelukku sekarang. Gara-gara aku sendiri yang mendekat ke Dimas. Aargh! Aku harus bangun dengan hati-hati. Jangan sampai Dimas bangun. Kalau tidak, nanti dia akan mengejekku karena aku merebut bagian tempat tidurnya.


Vina dengan perlahan mengangkat tangan Dimas dari perutnya.


Baru saja terangkat lima senti dari perutnya. Dimas malah memeluk Vina lagi. Dan tambah mengeratkan pelukannya. Ditambah, Dimas menempelkan wajahnya di leher Vina bagian belakang.


Nafas Dimas yang terus berhembus di leher Vina membuatnya merasa geli.


Aargh. Jangan bernafas di leherku. Rasanya geli sekali!


Vina menahan tubuhnya untuk tidak menggeliat karena geli.


Vina membulatkan matanya.


Sesuatu yang basah menyentuh lehernya sekarang. Itu bibir Dimas.


Vina sudah tak tahan dan ingin menggeliat karena geli.


Aaargh!! Dia mencium leherku!!


Apa dia selalu melakukan ini pada gulingnya?!! Aku nggak tahan lagi!!


Vina menjauhkan lehernya dari wajah Dimas. Dan mengangkat tangan Dimas dari perutnya tanpa pelan-pelan lagi.


Aku tidak peduli lagi meskipun dia akan terbangun!


Vina berhasil keluar dari pelukan Dimas. Dan Dimas masih terlelap tidur.


Sepertinya aku benar-benar butuh guling agar malam nanti ini tidak terjadi lagi!

__ADS_1


________


Di meja makan, Vina terus menatap Dimas yang sedang mengunyah makanan.


Sial! Vina menyentuh leher belakangnya. Aku masih bisa merasakan bibir itu menempel di leherku! Heergh!


Vina terus melihat bibir Dimas yang sedang mengunyah.


Dasar bibir sialan! Bibir itu yang tadi pagi mencium leherku! Bibir itu!


Vina terus terpaku menatap bibir Dimas.


Sial!! Vina membuang muka. Kenapa aku terus melihat bibir itu! Wajah Vina memerah.


Melihat Vina yang membuang muka, Dimas mengernyit heran.


"Vina, wajah kamu merah. Apa kamu sakit?" Dimas menempelkan tangannya di dahi Vina.


"Aku nggak sakit!" Vina menyingkirkan tangan Dimas.


"Tapi pipi kamu merah! Apa kamu terlalu banyak memakai blush on?"


"Aku bahkan tidak memakai bedak!"


"Lalu kenapa wajahmu merah?"


"Sudahlah! Kubilang aku tidak sakit. Cepat habiskan nasimu!


Oh iya, tadi malam kamu janji akan membelikanku miniatur Naruto dan Vanitas. Ayo kita beli hari ini! Hari ini hari libur kan. Jadi kamu tidak ke kantor."


"Aku sudah pesan secara online." sahut Dimas santai sambil meminum airnya.


"Oh, iya kah?"


"Iya dong. Aku tidak mau membuang waktuku. Hari kan kita mau jalan-jalan."


"A-apa?!" Haaaahh. Vina menghela nafas. Dia tidak melupakan tentang jalan-jalan.


"Hari ini kita mau kemana?"


"Hari ini kita akan shopping!" jawab Dimas.


"Haaahh. Aku nggak suka shopping."


"Lho, kenapa? perempuan kan biasanya suka shopping."


"Entahlah. Dari dulu aku tidak terlalu suka shopping. Itu sangat melelahkan."


"Ayolah. Kamu pasti akan menyukainya nanti. Kamu kan perempuan. Aku akan memilihkan dress yang bagus untukmu!"


"Hah? Aku tidak akan memakai dress. Cukup satu kali saja pas waktu pertemuan keluarga waktu itu! Aku nggak mau memakai dress lagi. Aku lebih nyaman pakek kaos oblong ataupun hoodie."


"Ah, iya. Waktu itu kau memakai dress selutut warna biru muda. Terlihat sangat manis. Kita akan memilih beberapa untukmu nanti."


"Sudah kubilang aku nggak mau pakai dress!"


"Aku akan membelikanmu pedang katana seperti di anime!"


"Kamu pikir aku Yakuza?"


"Aku akan membelikanmu seragam Touman Tokyo Revenge!"


"Ohoho, kau mau menyogokku? Kau pikir aku menerima sogokan?"


"Aku juga akan membelikanmu lampu tidur dengan bentuk Naruto!"


"Aku bukan orang yang suka menerima sogokan!" Vina mengibaskan poninya.


"Dan juga kaos gambar Vanitas!


Aku akan membelikanmu seragam Touman, Lampu tidur Naruto, kaos gambar Vanitas, gelas dengan gambar anime, selimut anime--"


"Oke! Kapan kita akan berangkat beli dressnya? Aku sudah siap!" Vina berdiri dari kursinya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2