CINTAKU TERHALANG ANIME

CINTAKU TERHALANG ANIME
Pengaruh Benda Kenyal Tak Bertulang


__ADS_3

Kruyuuuuk


Vina berhenti memukul Dimas mendengar perutnya berbunyi.


"Kamu lapar?" tanya Dimas.


"Iya." Vina menatap jam dinding.


Jam 14.02


Pantas aku lapar, aku belum makan dari pagi.


Vina turun dari tempat tidur.


"Mau kemana?"


Vina menoleh, "Mau makanlah."


"Bu Min dan Ira sedang keluar ke pasar. Tunggu mereka pulang untuk membuatkanmu makanan."


"Tidak perlu. Aku akan buat ramen."


"Memangnya kamu bisa buat mie-nya?"


"Tentu saja! Ramen adalah makanan kesukaan Naruto. Tentu saja aku bisa membuatnya!"


"Kalau begitu aku akan melihatmu membuatnya!" Dimas melompat dari tempat tidur, menyusul Vina.


"Kamu boleh melihatku memasak. Asal jangan menggangguku!" pesan Vina.


"Siap chef!"


Dimas mengikuti Vina ke dapur. Dan duduk manis di meja dapur. Dari tempatnya duduk, dia dengan leluasa melihat setiap gerakan yang dibuat Vina.


Vina mulai mengikat rambutnya ke atas.


Dia selalu mengikat rambutnya saat mau memasak.


Kemudian Vina memakai celemek.


Vina mulai mengambil bahan-bahan untuk membuat mie.


Tangannya dengan cekatan mencampurkan semua bahan.


Sambil menunggu adonan untuk dipotong, Vina membuat bumbu untuk kuah ramen.


Tangan Vina dengan lincah menggerakkan pisau, memotong bahan-bahan untuk bumbu ramen.


Dia terlihat sangat mempesona saat memasak.


Mata Dimas terus memandangi Vina.


Kemudian Vina beralih ke adonan untuk mie.


Dia menaburkan tepung ke telenan sebelum mulai memotong adonan.


Pisau di tangan Vina bergerak dengan cepat. Mengubah adonan tadi menjadi pipih dan panjang.


Wuahhh! Vina benar-benar bisa membuat mie!


Mata Dimas takjub melihat Vina mencelupkan adonan yang sudah dipotongnya menjadi bentuk mie ke dalam air mendidih.


"Oke! Sekarang kita tunggu mie-nya matang."


"Vin, tunggu sebentar." Dimas bangkit dari duduknya. Berjalan mendekati Vina.


Tangan Dimas terulur menyentuh pipi Vina.


Vina mematung dibuatnya.


"Ehem!" Vina berdehem menghilangkan rasa gugup.


"Ada tepung di pipimu," ucap Dimas tersenyum.


Vina segera memalingkan mukanya. Rasanya wajahku terasa panas. Kenapa aku jadi gugup karenanya?!


"Bilang dong kalau ada tepung di pipiku! Aku bisa membersihkannya sendiri!"


"Kenapa aku harus bilang, jika aku bisa membersihkannya untukmu," sahut Dimas.


Kenapa dia jadi bersikap seperti ini sih?!


"M-mie! Mie-nya kayaknya sudah matang!" Vina mengalihkan pembicaraan.


Vina mengangkat mie yang sudah matang. Melepas celemek yang dipakainya.


Kemudian dia menyiapkan mangkuk, menaruh mie-nya di sana dan menuangkan kuah. Terakhir, dia menambahkan toping di atas mie-nya.


"Tadaaa! Ramen ala Naruto sudah jadi!" Vina menatap dua mangkuk ramen di depannya.

__ADS_1


"Ini untukmu." Vina memberikan satu mangkuk ke Dimas. "Kau bisa memakai sumpit?"


Dimas menaikkan satu alisnya. "Nggak bisa. Suapi aku dengan sumpitmu!"


"Ngarep! Pakai garpu sana kalau nggak bisa pakai sumpit!"


"Cih! Pelit!" Dimas menyumpit mie-nya dengan sumpit lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.


"Tuh kan! Sudah kuduga kau cuma pura-pura nggak bisa."


"Wuahh.. Enaknya! Dengan kemampuan memasakmu, kamu bisa buka restoran Vin!" Dimas terus menyeruput mie dan kuah di mangkuknya.


"Aku tidak tertarik untuk buka restoran!"


"Kau bisa membuka restoran khusus makanan Jepang! Masaklah masakan yang ada di anime. Maka nanti akan ada banyak otaku yang datang ke restoranmu! Restoranmu akan menjadi tempat berkumpul para otaku!! Bukankah itu menyenangkan?!!"


"Wuahhh.. Kok kayaknya seperti.." Dimas menunggu Vina melanjutkan perkataannya dengan mata berbinar. "Merepotkan!" lanjut Vina.


Doeng!


Hilang sudah binar di mata Dimas.


________


"Haaaahh.."


Sudah kesekian kalinya Vina terus-terusan menghela nafas.


"Boseeen!" dari tadi Vina membalikkan badannya ke kanan dan ke kiri di tempat tidur.


Dimas yang baru saja keluar dari kamar mandi menatap Vina heran.


"Kamu kenapa Vin?"


Vina menghela nafas lagi. "Aku boseeen! Sepertinya karena nggak ngapa-ngapain waktu terasa sangat lambat!"


Dimas melihat jam di dinding.


Pukul 16.17


"Bukannya setiap hari kamu juga nggak ngapa-ngapain ya? Kok baru sekarang bosennya?"


"Heeghh! Dimas ini! Biasanya kan aku nonton anime. Jadi waktu terasa sangat cepat."


"Ya, kamu nonton anime aja sekarang."


"Aku lagi nggak mood!" lagi-lagi Vina menghela nafas. "Bosan sekali rasanya.."


Wajah Vina berubah menjadi tertarik. "Sepertinya menarik. Aku juga udah lama nggak naik motor!"


________


Wahhh, rasanya sangat nyaman saat angin menerpa wajahku.


Vina duduk di belakang Dimas yang sedang menyetir sepeda motornya.


"Dim."


"Ya?"


"Ajari aku naik sepeda motor!"


"Emangnya kamu nggak bisa naik motor?"


"Bisa, tapi yang matic. Yang kopling nggak bisa."


Dimas menghentikan motornya di sebuah taman.


"Oke. Kalau gitu kamu belajar motor di sini."


Dimas dan Vina turun dari motor. Kemudian Dimas menyuruh Vina menaiki motornya.


"Tahan koplingnya saat baru menghidupkan. Jika jalannya datar masukkan ke gigi empat." Dimas menginstruksi. "Longgarkan sedikit koplingnya jika kamu ingin menjalankan motornya."


Vina menjalankan motornya.


"Ahaha! Aku bisa. Aku bi-- Aaakh!!!!" Motor yang dinaiki Vina melaju dengan cepat.


"Koplingnya jangan dilepasin Vin!!! Rem! Tarik remnya!!!" teriak Dimas, sambil berlari mengejar Vina.


Bukannya ngerem, Vina malah menarik gas ditangannya.


Masih menjadi misteri, entah kenapa orang yang belajar naik motor, saat ingin ngerem, malah keliru menarik gas.


"Aaa- Aaakhh!!!"


Brakk


Vina menabrak pagar dari tanaman yang ada di taman itu. Kakinya tertimpa sepeda.

__ADS_1


"A-adu-duh! Kakiku.."


Dimas segera mengangkat motor yang menimpa kaki Vina.


Tubuh Dimas bergetar. Seketika tawanya meledak.


"Ahahahaha!"


"Kok malah ketawa sih?!" Vina memandang kesal Dimas.


"Ekspresimu..ahaha.. ekspresimu waktu mau jatuh tadi.. lucu banget.. Andai tadi aku video."


Vina bangkit, hendak memukul Dimas.


"Ahk!" Salah satu kaki Vina terasa nyut-nyutan saat dipijakkan, membuat Vina terjatuh lagi.


"Sepertinya kakimu terkilir." Dimas menyentuh pergelangan kaki Vina.


"Adu-duh! Sssh. Jangan disentuh. Sakit!"


________


Setelah memeriksakan kakinya ke rumah sakit, dokter mengatakan kakinya akan sembuh dalam empat lima hari ke depan.


Vina pulang ke rumah dengan kaki yang diperban.


Dimas menggendong Vina di punggungnya untuk masuk ke dalam rumah.


Rambut Dimas wangi. Padahal kami menggunakan shampo yang sama. Tapi kenapa rambutnya lebih harum dari rambutku?


Dari pertama menggendong Vina di punggungnya, Dimas tak bersuara.


Tapi kenapa dari tadi aku merasa kalau tubuh Dimas begitu tegang?


"Dim, kamu kenapa? Kok diem terus?"


"Nggak papa," jawab Dimas singkat.


Sampai akhirnya menaiki tangga untuk menuju kamarnya, ketegangan di tubuh Dimas semakin dirasakan Vina.


"Dim, dari tadi kenapa tubuhmu tegang sekali?" Vina kembali bertanya.


"Aku nggak papa."


Jawaban singkat Dimas semakin membuat Vina heran.


He? Dia ini kenapa sih?


"Kamu kenapa sih Dim?" Vina memajukan kepalanya, ingin melihat wajah Dimas.


Dimas berhenti di pertengahan tangga.


"Tolong jangan terlalu banyak gerak!" Suara Dimas terdengar sangat berat.


"Ha? Kenapa?" Vina mengeratkan pegangan tangannya yang melingkar di leher Dimas.


Dimas kembali berjalan.


"Aku mohon, tolong jangan bergerak lagi." Terdengar lagi suara berat Dimas.


"Aku..bisa merasakannya..kenyal.." suara Dimas tertahan.


"Ha? Kenyal? Apa maksudmu?" tanya Vina bingung.


"Kenyal..di punggungku.." lanjut Dimas.


Mata Vina membulat, melihat dadanya yang menempel di punggung Dimas.


"APA?!! Dasar mesum!! Mesum!!" Vina menjambak rambut Dimas.


"Aaadudududuh!! Vin Vin sakit Vin!"


"Biarin! Biar pikiran mesum itu hilang dari kepalamu!!"


"Stop, Vin. Stop! Kalau kamu gerak-gerak kayak gitu, benda kenyal itu semakin terasa di punggungku!"


"Aaargh!" Vina berhenti menjambak rambut Dimas. "Cepat jalannya agar aku segera turun!"


Dimas masuk ke dalam kamar dan menurunkan Vina di tempat tidur.


"A-ku.." suara Dimas masih terdengar berat.


"Cukup! Jangan bicara lagi! Suaramu terdengar berbeda! Setiap tarikan nafasmu mendesah. Membuatku merinding!"


"A-aku akan mandi untuk menghilangkan ketegangan di tubuhku." Dimas meninggalkan Vina. Masuk ke kamar mandi.


Vina menghela nafas panjang.


Haahhh. Suaranya benar-benar membuatku merinding.

__ADS_1


Apa iya dia terangsang, cuma gara-gara benda di dadaku ini?!


BERSAMBUNG


__ADS_2