CINTAKU TERHALANG ANIME

CINTAKU TERHALANG ANIME
Agen Jual Beli Organ


__ADS_3

Vina ngos-ngosan setelah meluapkan perasaannya dengan cara memukuli supir taksi tadi.


Laki-laki itu menahan senyum melihat Vina yang ngos-ngosan.


"Terimakasih karena sudah menolongku."


"Sama-sama. Aku sedikit terkejut kamu memukulinya seperti tadi. Setelah dia hampir menculikmu, kamu masih berani memukulnya dan mengomel padanya. Apa kamu tidak takut Dik?"


Vina terbelalak mendengar pertanyaan laki-laki itu.


"Mustahil! Bagaimana mungkin aku tidak takut saat ada orang yang ingin menculikku?!!" bantah Vina. "Aku sangat ketakutan! Untung pintu mobilnya tidak dikunci! Aku membuka pintunya dan sempat berpikir akan melompat dari mobil! Aku sangat-sangat ketakutan!"


"Bagaimana ceritanya kamu bisa hampir diculik?"


"Awalnya aku mau pergi ke suatu tempat. Lalu, aku naik taksi. Dan Bapak tadi itu supir taksinya. Setelah itu, dia mencoba membawaku entah kemana. Dan aku mengancamnya akan melompat dari mobil jika ia tak menghentikan mobilnya. Setelah itu, seperti yang kamu lihat tadi. Aku sangat bersyukur kamu datang."


Laki-laki itu menatap Vina.


Dari tadi dia terus menyebutku 'kamu'.


Bukankah dia masih sekolah? Harusnya dia menyebutku lebih sopan sedikit.


Ah, lupakan! Anak jaman sekarang memang seperti ini!


"Ah! Apa aku boleh pinjam hpmu? Aku harus menelpon seseorang, tapi aku tidak punya pulsa," ucap Vina.


"Silakan." Laki-laki itu menyodorkan hpnya kepada Vina.


Saat ingin mengetikkan sebuah nomor, Vina baru ingat bahwa dia tak hafal nomor Dimas. Dia pun mengeluarkan hpnya untuk melihat nomor Dimas.


Tapi ternyata hpnya malah mati.


"Nggak jadi." Vina mengembalikan hp itu. "Aku nggak hafal nomornya. Nomornya ada di hpku, tapi hpku malah mati."


"Ke mobilku aja Dik. Kamu bisa mencharger hpmu! Sekalian aja aku akan mengantarmu. Di sini nggak ada taksi yang lewat."


"Beneran nggak papa?" tanya Vina.


"Iya nggak papa. Aku ada meeting sih." Laki-laki itu melihat jam tangannya. "Tapi masih satu jam lagi kok. Ayo masuk, biar aku antar!"


Vina pun masuk ke mobil laki-laki itu.


"Ini! Charger hpmu!" Laki-laki itu menyodorkan charger hp ke Vina.


Mobil pun mulai melaju.


"Oh ya, aku belum tahu namamu! Siapa namamu Dik?"


Vina menoleh ke laki-laki itu.


Oh iya! Dari tadi aku mengobrol dengannya, tapi aku tidak tahu namanya!


"Vina. Namaku Vina. Kalau kamu?"

__ADS_1


Laki-laki itu mengernyit.


Dari tadi dia terus menyebutku 'kamu'. Tidak ada embel-embel kakak atau apa kek. Aku kan jauh lebih tua darinya!


"Namaku Hanan! Oh ya Dik, bukankah sekarang masih jam sekolah. Kenapa kamu tidak sekolah?"


Kini giliran Vina yang mengernyit heran.


"Sekolah? Aku sudah nggak sekolah!"


"Tunggu-tunggu!! Jadi kamu sudah nggak sekolah?!" Hanan terkejut.


"Apa orang tuamu nggak punya biaya, jadinya kamu nggak bisa masuk sekolah?!"


"Kamu ngomong apa sih?! Aku tuh udah lulus sekolah tahu!! Kalau dipikir-pikir, dari tadi kamu juga terus-terusan memanggilku 'Adik'. Apa kamu mengira aku masih sekolah?!"


"Hah?!! Jadi kamu udah lulus sekolah?!!" Hanan menatap Vina tak percaya. Wajah seimut ini sudah lulus sekolah?!! "Berapa umurmu?!"


"20 tahun!" pekik Vina. "Jadi kamu terus-terusan memanggilku 'Adik' karena mengira aku masih sekolah?!!"


"Iya. Hehehe." Hanan menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal. "Habisnya kamu imut sih!"


Vina mendelik ke Hanan mendengar kata imut.


"Apa?!! Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Hanan heran.


"Supir taksi tadi, sebelum dia mencoba menculikku, dia juga mengatakan hal yang sama sepertimu! Dia mengatakan aku ini imut." Vina menatap Hanan serius.


Melihat wajah Vina yang sangat serius itu, membuat Hanan tertawa.


"Bagaimana aku nggak takut! Supir taksi tadi juga mengira aku masih anak sekolahan. Dan dia juga mengatakan aku imut. Sama seperti dirimu barusan kan?!! Kamu mengira aku masih sekolah, karena aku terlihat imut!!"


"Tenang Vina, tenang. Aku nggak akan nyulik kamu kok. Lagian, siapapun yang melihat kamu, pasti akan menganggapmu imut. Kamu lihat aja sendiri wajah kamu di kaca."


"Bagaimana aku bisa mempercayai kata-katamu?!"


"Kamu nggak percaya kalau kamu imut?"


"Bukan, aku nggak percaya kata-katamu yang mengatakan tidak akan menculikku. Kita kan baru ketemu. Dan aku juga tidak mengenalmu!"


"Aku sudah menyelamatkanmu! Apa itu belum cukup untuk membuatmu percaya?"


"Aku tahu itu! Tapi bisa saja itu semua adalah taktikmu. Kau sebenarnya adalah agen jual beli organ. Dan targetmu adalah anak-anak sekolahan. Kau mengira diriku masih sekolah, makanya kau menculikku!"


"Hahahaha!" Hanan tertawa mendengar dugaan Vina.


"Kenapa kau tertawa? Apa aku benar?!" Vina mulai merasa takut.


Perempuan ini benar-benar lucu!


Bagaimana bisa dia mengira diriku adalah agen jual beli organ?!


Hanan mengusap wajahnya yang tidak bisa berhenti tertawa.

__ADS_1


"Berhenti terus-terusan tertawa! Kau membuatku takut!!"


"Hahahaha! Vina, Vina. Perutku sakit gara-gara terus tertawa. Bagaimana mungkin kau mengira diriku adalah agen jual beli organ?! Hahahaha!!" Hanan menyeka air di sudut matanya. "Haduh.., haduh! Perutku sakit." Hanan menepikan mobilnya karena tidak tahan untuk tertawa. Dia tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata.


"Ya, bisa saja kan. Kau berpakaian rapi layaknya orang kantoran. Tadi kau juga mengatakan mau meeting. Mungkin sebenarnya kau mau menemui Bos mu!


Mobilmu juga sangat bagus! Mungkin hasil jual beli organ!"


Hanan semakin tertawa terbahak-bahak mendengar ungkapan Vina barusan.


"Ahahaha!! Cukup Vin, Cukup! Aku bisa mati di sini karena terus-terusan tertawa! Ini kartu namaku, supaya kamu bisa percaya padaku."


Di kartu nama itu tertulis Hanan adalah CEO pemilik perusahaan.


Setelah Vina membaca kartu nama itu, dia hanya bisa tersenyum malu.


"Ahaha..Maaf sudah menuduhmu sembarangan."


"Iya, nggak papa kok! Oh iya aku lupa! Ini kamu mau kemana? Aku mengatakan akan mengantarmu, tapi aku lupa tidak menanyakan alamat tujuannmu!"


"Oh iya! Aku juga lupa tidak mengatakan alamatnya!" Vina baru saja menyadari hal itu. "Aku mau ke Jaya Group."


Hanan menoleh kaget ke Vina. "Sama dong! Aku juga mau ke sana!"


Vina pun juga merasa kaget.


"Wah, kebetulan sekali! Kamu ngapain ke sana?"


"Kan aku sudah bilang tadi kalau mau meeting. Kalau kamu ke sana mau ngapain?" Hanan balik bertanya.


"Ah, aku.." Aku nggak mungkin bilang, kalau aku ke sana karena mau minta uang buat beli kuota. Kan nggak lucu!


"Aku ada urusan di sana!"


"Oohh gitu..Oh ya, denger-denger CEO-nya Jaya Group itu sangat disiplin dan tegas ya? Katanya dia juga sedikit cerewet. Aku nggak pernah bertemu dengannya. Orangnya seperti apa? Apa dia seorang bapak-bapak tua yang sudah botak?"


Vina menutup mulutnya menahan tawa mendengar pertanyaan terakhir Hanan.


Dimas dikira bapak-bapak botak! Ahahaha..


"Kamu kenapa?" Hanan heran melihat Vina yang senyum-senyum sendiri. "Orangnya beneran botak ya?"


"Ahahaha.., nggak kok. Orangnya nggak botak. Dan juga, dia masih muda. Kalau tentang disiplin dan tegas, aku kurang tahu. Tapi kalau cerewet kayaknya iya deh!"


Kok rasanya seperti gosipin suami sendiri ya?


.


.


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2