CINTAKU TERHALANG ANIME

CINTAKU TERHALANG ANIME
Menyadari Perasaan


__ADS_3

Baru kali ini aku melihat Vina SKSD sama orang yang baru dikenalnya.


Dimas melihat Vina yang tersenyum ke Sekar.


Kenapa suasananya kaku banget sih!


Vina memandang Dimas dan Sekar bergantian. "Aku mau ke toilet sebentar. Kalian lanjutin makan aja."


"Biar aku antar." Dimas berdiri dari kursinya.


"Nggak usah. Emangnya aku anak kecil? Aku tahu letak toiletnya kali!"


"Bukan itu! Kakimu kan sedang sakit."


"Nggak papa, aku udah mendingan. Lagian aku nggak boleh terlalu memanjakan kakiku biar cepat sembuh!"


Vina berlalu meninggalkan mereka. Kemudian dia bersembunyi di balik tembok tak jauh dari meja Dimas.


"Kita lihat, apa mereka akan mengobrol?" gumam Vina mengintip.


Tak ada reaksi dari Dimas dan Sekar. Mereka saling memakan makanan di depan mereka.


Hingga Vina merasa kakinya kesemutan karena terlalu lama berdiri mengintip mereka.


"Apa ini?!! Kenapa mereka tidak mengobrol?! Apa mereka waspada karena ada aku di sini?!"


Vina pun akhirnya memilih untuk bergabung duduk dengan mereka lagi.


"Kenapa lama sekali?!" tanya Dimas. "Emangnya kamu beol batu ya?"


Para pengunjung yang lain menoleh ke Dimas mendengar perkataan Dimas.


"Aish Dimas! Nggak sopan tahu ngomongin beol waktu makan!" ucap Vina kesal.


"Abisnya kamu lama banget!"


Sekar tersenyum menahan tawanya mendengar perdebatan suami istri di depannya.


Astaga!! Kenapa dia manis sekali kalau tersenyum?!! Vina menatap Sekar yang tersenyum. Aku saja yang perempuan sampai memujinya!


________


Vina berbaring di tempat tidur. Dirinya terus-terusan menghela nafas panjang.


Apa yang harus kulakukan sekarang? Dimas mencintai orang lain dan pacaran dengannya. Apa dia akan menceraikanku?!


Vina memiringkan tubuhnya menghadap ke Dimas yang tidur terlentang.


Harusnya aku senang jika dia akan menceraikanku. Dengan begitu aku tidak perlu lagi satu rumah dengannya. Dan aku juga tidak perlu pura-pura menjadi istri yang baik di depan keluarga! Tapi kenapa rasanya ada yang mengganjal di hatiku?!


"Kenapa kau memandangiku seperti itu?! Apa ada yang mau kau katakan?" Dimas mengubah posisinya menghadap Vina.


Membuat Vina tersentak kaget. Dimas belum tidur!


"Ada apa? Katakanlah jika ada yang mau kau katakan! Sejak pulang dari kantor, aku perhatikan kamu banyak ngelamun."


"Ng-nggak ada apa-apa kok!" mata Vina tak berani menatap Dimas.


"Bohong! Aku tahu kamu bohong. Saat kamu bohong, matamu itu selalu mengatakannya! Matamu tidak akan berani menatapku saat berbohong."


"Sudahlah. Ini sudah malam, aku mengantuk." Vina menarik selimut sampai menutupi kepalanya. Memangnya dia itu psikiater, sampai tahu aku berbohong atau tidak!


Dimas menatap kepala Vina yang tertutup selimut.


Vina kenapa sih?! Sejak bertemu dengan Sekar tadi, dia jadi banyak ngelamun. Dia juga jadi tidak mau aku gandeng kalau di depan Sekar.


Diluar, hujan deras mulai turun. Sesekali terdengar guntur kecil.


BLEDARRRR!


"Aaaakhh!!" Vina ketakutan dan tanpa disadari dia beringsut ke dada Dimas.


Bersamaan dengan suara petir yang kencang tadi, listrik pun ikut padam.

__ADS_1


Gelap.


Beberapa kilat menerangi kamar gelap mereka.


Saat Vina tersadar, dia mulai menjauh dari Dimas. Tapi Dimas menahannya. Dan memeluk tubuh Vina.


"Jika masih takut, aku tak keberatan meminjamkan dadaku."


Vina tak jadi menjauh dari Dimas.


Kenapa dia bersikap seperti ini padaku jika dia mencintai perempuan lain?!


Hah! Apa yang sedang aku pikirkan?! Apa aku cemburu pada Dimas? Tidak mungkin! Aku Vina, seorang otaku! Tidak mungkin tertarik dengan 3D!


Vina terus berspekulasi sendiri sampai akhirnya tertidur di pelukan Dimas.


________


Saat Vina terbangun, dia masih berada di pelukan Dimas.


Dia mendongakkan kepalanya, mata Dimas masih terpejam.


Perlahan Vina melepas pelukan Dimas.


"Kau sudah bangun?" tanya Dimas dengan suara parau akibat baru bangun tidur.


Vina menghela nafas. Dia pikir Dimas masih belum bangun. Dia merasa malu karena tadi malam memeluk Dimas duluan.


"I-iya." Vina melepas pelukan Dimas dan duduk.


"Aku pikir tadi malam kamu nggak bisa tidur karena suara petirnya sangat kencang. Tapi syukurlah, kayaknya kamu nyenyak tidurnya."


Vina memalingkan wajahnya malu. Dan berjalan terpincang-pincang ke kamar mandi.


Setelah mandi dan sarapan, Dimas pergi ke kantor.


Vina yang masih penasaran dengan perasaannya sendiri, diam-diam mengikuti Dimas. Ia naik taksi dan mengikuti mobil Dimas.


Dia memulai penyamarannya. Memakaikan topi di kepalanya dan mulai masuk ke kafe. Dia memilih untuk duduk di sudut kafe. Agar mudah mengawasi Dimas.


Vina menutupi wajahnya dengan buku menu saat Sekar melalui mejanya.


Sekar!


Vina mengintip dari buku menunya. Sekar berjalan mendekati meja Dimas dan duduk di depannya.


"Kalau dia memang ingin ketemuan dengan Sekar, kenapa dia bohong padaku bilang ada meeting?!" gumam Vina. "Kenapa dia tidak jujur saja padaku?!"


Vina merogoh hpnya dari saku. Menekan tombol nomor Dimas.


Terlihat dari meja Vina, Dimas mengangkat telfonnya.


[ Halo Vin, ada apa? ]


"Kamu lagi apa?"


[ Ahaha! Tumben kamu nanyain kegiatanku. Aku lagi nungguin klien untuk meeting. ]


Cih! "Oh, begitu." Meeting katanya?! Kenapa Dimas tak jujur saja padaku sih?!


Setelah basa-basi sebentar, Vina mematikan telfonnya.


Melihat Dimas dan Sekar saling melempar senyum, Vina memegang dadanya.


Kenapa dadaku rasanya sesak melihat mereka berduaan?! Apa aku benar-benar cemburu pada Dimas? Jadi aku benar-benar mulai menyukai Dimas! Tapi sejak kapan?!


Vina menghembuskan nafas kasar.


Aku nggak suka rasa sakit ini! Hatiku terlalu kecil untuk menerima sakit seperti ini!


Vina berjalan keluar kafe dengan terpincang-pincang. Dia mengusap sudut matanya.


Jadi seperti ini rasanya bertepuk sebelah tangan!! Aku nggak boleh menangis! Dimas menyukai perempuan lain! Dia berhak bahagia!

__ADS_1


Vina terus-terusan mengusap sudut matanya yang mengeluarkan air.


BRUKK!


"Aww!" Vina terjatuh karena menabrak seseorang.


"Ah, maaf." Laki-laki yang Vina tabrak mengulurkan tangannya pada Vina.


Vina mendongak.


"Vina!" Hanan membantu Vina berdiri.


Yang membuat Hanan terkejut, dia melihat air di sudut mata Vina.


"Kamu nangis? Kenapa?" tanya Hanan.


Vina segera mengusap air matanya.


"S-sepetinya ada debu yang masuk ke mataku!" ucap Vina berbohong.


"Benarkah?! Kalau begitu, coba kulihat matamu!"


Vina terkejut Hanan meraih pipinya dan mendongakkan kepalanya menatap Hanan.


"Apakah mata kirimu yang kemasukan debu?" tanya Hanan lagi.


Dimas yang baru keluar dari kafe langsung melihat pemandangan itu.


Dia langsung berlari menjauhkan Vina dari Hanan.


"Apa yang mau kau lakukan pada Vina hah?!!" Dimas menatap Hanan dengan bengis.


DUAAK!!


Dimas memukul wajah Hanan.


"Berani-beraninya kau mau mencium Vina!!"


Duakk! Buk! Buk! Buk!


Dimas terus memukuli Hanan.


"Dimas hentikan! Hentikan!!" Vina berusaha menahan lengan Dimas yang memukuli Hanan. Tapi dengan sekali sentakan, membuat Vina jatuh terduduk.


"Dimas HENTIKANN!!!"


Teriakan Vina membuat Dimas berhenti memukuli Hanan.


Dimas mendongak menatap sekitar. Sudah banyak orang yang berdiri di sekelilingnya. Menatap Dimas yang sedang memukuli Hanan.


Dimas menoleh ke Vina. Perempuan itu masih terduduk akibat jatuh karena berusaha menahan lengan Dimas tadi.


"Ayo kita pulang!" Dimas menarik pergelangan tangan Vina. Membawa Vina ke parkiran kafe.


Vina meringis sakit, "Lepasin tanganku Dim. Lepasin!" Vina menghempaskan tangan Dimas.


Di pergelangan tangan Vina membekas merah karena tarikan dari tangan Dimas.


"Apa yang kamu lakukan pada Hanan?! Kenapa kamu memukulnya?!"


"Apa lagi?! Dia mau menciummu!!"


"Kamu salah paham Dim, dia cuma mau meniup mataku yang kelilipan!!"


"Itu cuma alasannya saja! Jelas-jelas tadi dia mau menciummu!!"


"Nggak Dim, Hanan--"


"KENAPA KAMU BEGITU MEMBELANYA?!!!"


Vina tersentak kaget karena Dimas membentaknya membuat air matanya keluar dari sudut mata, mengalir ke pipi.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2