
"Haahhh," Vina menghela nafas panjang. "Tak kusangka mencoba gaun pernikahan itu melelahkan juga ya."
Setelah sangat lama dan lama, akhirnya mereka keluar dari toko tadi.
Vina menoleh ke belakang, melihat Dimas yang membawa banyak barang persiapan pernikahan. Sementara Vina, hanya membawa badannya sendiri saja.
"Mau kubanting? Eh, maaf. Maksudku mau kubantu untuk membawanya?" tawar Vina.
"Nggak usah, aku bisa kok membawanya sendiri," tolak Dimas.
"Baguslah kalo gitu. Aku juga tadi cuma basa-basi doang kok nawarinnya."
Jawaban Vina membuat Dimas jadi geregetan. Dasar! Untung dia imut, jadi kumaafkan.
Vina berjalan terlebih dahulu ke parkiran mobil, membukakan bagasi untuk Dimas dan masuk terlebih dahulu ke mobil.
"Aku mau tidur, nanti kalau sudah sampai bangunin ya," ucapnya setelah Dimas masuk mobil.
Di sepanjang perjalanan pulang Vina terus tertidur. Vina baru terbangun saat merasakan mesin mobil mati.
"Apa kita sudah sampai?" Vina membuka pintu mobil. "Eh?! Ini bukan di rumahku. Dimana kita?"
"Mumpung kita lagi keluar, sekalian saja kita nonton." Ya. Dimas membawa Vina ke bioskop.
"Kenapa kamu nggak bilang dulu kepadaku kalau kita mau ke bioskop?"
"Aku tadi mau bilang, tapi kamunya tidur."
"Tapi kan--" Setelah dipikir-pikir, aku memang tidak menyukainya tapi aku juga tidak membencinya. Jadi, nggak papalah sekali-kali nonton bioskop bareng. "Yaudalah, ayo kita masuk."
"Mau popcorn?" tawar Dimas saat akan membeli tiket.
"Tentu saja aku mau. Siapa yang akan menolak jika kasih makanan?"
Ah ternyata dia maniak makanan, ini bisa dimanfaatkan suatu hati nanti. "Oke, kalau gitu aku beli."
Vina terus menguap sepanjang film diputar.Tak kusangka filmnya begitu membosankan, jadi ngantuk. Padahal aku baru saja bangun tidur.
Sekuat apapun Vina berusaha menjaga matanya agar tetap terbuka, akhirnya dia tertidur juga.
Namun masalahnya, bukannya bersandar di pundak Dimas, kepala Vina justru jatuh ke pundak pria asing di samping kirinya.
Awalnya pria itu terkejut, tapi kemudian dia membiarkan Vina tertidur di pundaknya dan bahkan sempat mengelus kepala Vina.
Pemandangan itu tak luput dari mata Dimas. "Singkirkan tanganmu dari kepala pacarku," ucap Dimas sambil meraih kepala Vina dan menaruhnya di pundaknya sendiri.
"Ah maaf, tadi dia jatuh tertidur di pundakku. Kupikir dia tidak punya pacar," ucap pria itu sambil bangkit dari duduknya dan kembali duduk di kursi yang berjarak satu kursi dengan Vina.
Haah, bagaimana bisa Vina tertidur di pundak pria asing, dan bukannya di pundakku? Apa dia punya kebiasaan selalu tertidur saat di bioskop? Tapi bagaimana mungkin? Baru saja dia bangun tidur, masa sudah tidur lagi.
Ketika film selesai diputar, Dimas membangunkan Vina. "Vin, bangun. Filmnya udah selesai nih."
__ADS_1
"Hah? kok cepet banget sih?" tanya Vina sambil mengucek-ngucek matanya.
"Cepet apanya, kamu aja yang ketiduran."
"Oh, iyakah? Ahaha, maaf habisnya tadi filmnya ngebosenin, jadinya aku ngantuk."
"Eh, maaf kalau film yang aku pilih ngebosenin."
"Kamu nggak perlu minta maaf kok, selera orang kan beda-beda. Yuk kita pulang."
Di sepanjang perjalanan pulang, tak ada yang membuka suara. Vina juga tak menonton anime, karena baterai hpnya sudah habis.
Dan ketika mereka sampai di rumah Vina, Vina langsung turun dari mobil.
"Eh Vin, kamu nggak ngajakin aku masuk?" tanya Dimas.
Baru kali ini ada tamu nawarin diri buat mampir. "Ngapain? Tadi pagi kan kamu udah masuk rumahku. Udah, pulang sana."
Baru kali ini ada tuan rumah kayak gini. Biasanya tuan rumah kalo di film-film selalu ngajakin mampir. "Yaudah, aku pulang ya, daaah." Dimas memutar setirnya pulang.
"Eh? Dimas mana?" tanya Pak Hendra ketika putrinya masuk rumah sendirian.
"Udah pulang."
"Apa? Kenapa kamu nggak suruh dia mampir dulu? Mana dia, masih diluar kan?" Pak Hendra melongokkan kepalanya di pintu.
"Dia udah pulang Yah."
"Dasar kamu ini," Pak Hendra memukul kepala Vina dengan gulungan koran yang tadi dibacanya.
"Iya, lain kali akan kulakukan." Vina berlalu meninggalkan Ayahnya.
________
Tuk tuk. Vina merasakan pipinya sedang ditoel-toel.
"Vin, ayo bangun." Vina membuka mata dan--
"AAAA. KENAPA SETIAP KALI AKU MEMBUKA MATA SELALU ADA KAMU!!" Vina beringsut duduk menjauh dari Dimas. "Ngapain lagi kamu ke sini?!!"
"Hari ini kita akan foto prewedding."
"Haduhhhh..Apa lagi itu sih..Aku nggak mau. Aku masih ngantuk." Vina membaringkan tubuhnya lagi dan sembunyi di balik selimut.
"Eh, Vin, jangan tidur lagi. Ayo bangun!" Dimas berusaha menarik selimut Vina. "Fotografernya udah nungguin kita."
"Nggak mau, aku masih ngantuk."
"Yaudah, kalo gitu aku nungguin kamu sambil tiduran di sini aja deh." Dimas ikutan tidur di samping Vina.
"Aaargh. Apa yang kamu lakukan! Menyingkir dari kasurku!!" Vina menendang-nendang Dimas membuat selimut yang menutupinya rapat jadi terbuka.
__ADS_1
Dimas langsung meraih ujung pinggir selimutnya dan menariknya menyelimuti dirinya. Kini, Dimas dan Vina tidur dibawah satu selimut.
"Vin, apa sekarang kita sebaiknya simulasi tidur bareng aja ya. Biar nanti setelah nikah, kita nggak canggung pas tidur bareng."
"DASAR SINTING!!!! TURUN KAMU DARI KASURKU!!" Vina berusaha mendorong Dimas keluar dari selimutnya.
"Nggak mau ah, ternyata selimutmu itu hangat. Aku suka di sini."
"AAARGH!! YAUDAH. PAKEK TUH SELIMUTNYA. AKU MAU MANDI."
BRAKKK. Vina masuk kamar mandi dan menutup pintunya dengan keras.
"Ahahaha.. Akhirnya dia mau bangun juga."
Dimas masih saja betah berbaring di kasur Vina. Matanya menatap langit-langit kamar. Ada stiker bintang Glow In The Dark tertempel di sana. Stiker itu akan bersinar jika ruangan dalam keadaan gelap.
"Aku penasaran, bagaimana cara dia menempel semua stiker-stiker itu.
Sepertinya dia benar-benar seorang otaku. Lihat poster-poster itu!" Dimas memiringkan tubuhnya, berganti menatap dinding kamar yang penuh dengan poster-poster anime.
"Oh iya, aku ingat dia pernah mengatakan kalau dia mencintai Vanitas. Dari sekian banyak poster, kira-kira mana yang namanya Vanitas ya?"
"Haaahhh," Dimas menghela nafas panjang.
"Orang lain cintanya terhalang karena ada orang ketiga. Sementara cintaku malah terhalang sesuatu yang tak nyata. Malangnya, nasib ini."
Dimas terus menatap poster-poster di dinding, sampai pada akhirnya dia terlelap tidur beberapa saat.
"WOYYYY BANGUNN!!!! NGAPAIN MALAH TIDUR DI SINI!!" Vina menarik selimut yang menutupi tubuh Dimas dan membuat Dimas terbangun dari tidurnya.
"Ahaha, maaf. Karena hangat, jadinya ketiduran."
"Karena kamu yang terakhir bangun, lipat selimutnya," titah Vina kepada Dimas.
"Padahal aku bangunin kamu lembut banget. Tapi kamu malah bangunin aku kayak bangunin narapidana aja," ucap Dimas sambil melipat selimut.
"Eh, kamu beneran ngelipat selimutnya? Padahal tadi itu aku cuma bercanda tahu."
"Nggak papa, itung-itung latihan jadi suami."
"Huh dasar! Mana ada suami yang ngelipat selimut."
"Ada. Ini buktinya!" jawaban Dimas berakhir dengan lemparan bantal dari Vina.
.
.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG