DAN

DAN
BAB 2


__ADS_3

PERTEMUAN


Tak terasa Aku pun tertidur lelap, dengan harapan bermimpi tentang Dia. Setidaknya Kita hanya bertemu di dalam mimpi. Setidaknya Kita saling bertatapan di dalam mimpi. Setidaknya kita saling melepas rindu di dalam mimpi. Tapi sayangnya tidak, bahkan aku tak pernah lagi bermimpi tentang dirinya.


Kemudian aku terbangun dari tidur lelapku. Ponselku berbunyi, ternyata itu telfon dari pacarku, Sally. “Hallo, kemana aja Kamu? Kok baru di jawab?” ucapnya. “Iya sorry tadi Aku ketiduran,” jawabku dingin.


“Nanti malam Kamu ada acara gak? Kita jalan,” tanya dia. Dengan keadaan lemas dan masih mengantuk aku menjawab, “Gak ada koo, ayo mau jalan kemana?”


“Ke Dago, temen kampus Aku baru buka kafe, nanti pembukaannya jam 3 sore,” jawabnya. “Oke nanti Aku jemput Kamu, udah dulu yaa Aku kebelet mau ke air, daaah.”


“Daaah sampe ketemu yaaa,” jawabnya sambil menutup teleponnya.

__ADS_1



Aku mulai bersiap mengganti bajuku. Mengenakan kaos dari band seringai, celana jeans hitam, dan sepatu vans berwarna hitam. Setelah selesai mengganti pakaianku, aku segera bergegas menjemput pacarku. Sesampainya disana aku berdiri memandangi wanita yang usianya satu tahun di bawahku sedang duduk di depan teras rumahnya. Wanita itu terlihat sangat mempesona, Matanya yang lebar, kulitnya yang lebih putih dariku, wajahnya yang cantik dan anggun. Dia mengenakan baju putih dengan huruf S di bagian dadanya. Ya, wanita itu adalah pacarku.



Aku mulai melangkahkan kakiku dan mulai mendekatinya. “Ayo, udah siap?” tanyaku sambil tersenyum kepadanya. “Ayo kita pergi, udah pada nungguin nih,” jawabnya sambil berdiri dari tempat duduknya. Kita pun pergi ke tempat kafe baru teman kuliahnya pacarku.



Entah Aku harus senang, atau Aku harus sedih, yang jelas perasaanku saat ini bercampur menjadi satu. Senang karena akhirnya bisa melihatmu lagi, sedih karena saat akhirnya aku melihatmu lagi kamu sudah bersama yang lain.

__ADS_1


Aku dan pacarku menghampiri Dia dan pacarnya untuk mengucapkan selamat atas pembukaan kafe barunya. “Selamat ya, semoga lancer terus kafenya,” ucap pacarku pada mereka. Kami pun saling bersalaman untuk mengucapkan selamat dan terima kasih.



Aku melirik wajahnya sambil tersenyum penuh arti. Sedangkan Dia menatapku seolah aku tak lagi berarti. Mungkin ini cara Dia menjaga perasaan kekasihnya.



Aku merasakan hal ini seperti tertembak AK-47, sakit rasanya. Apakah ini mimpi? Aku berharap kalau ini hanya sebuah mimpi. Tapi sayang, ternyata ini bukan mimpi.


__ADS_1


“Ohh iya kenalin nama gue Alka, ini pacar gue Bila,” seru pria itu sambil memegang pundakku. Wanita itu pun menyodorkan tangannya padaku “Hay namaku Bila.” Sial, Dia memperkenalkan namanya padaku seolah kita tak pernah kenal sebelumnya. “Ohh hay namaku Deva,” jawabku padanya sambil tersenyum hangat. Serius!!! Berat rasanya untuk pura-pura tersenyum.


Sepertinya Dia mau kalau kenangan Kita menjadi rahasia saja, tak boleh ada yang tau. Aku bisa merasakan hal itu. Dari nada saat Ia bicara, dari senyuman yang Ia berikan, dari tatapan yang Ia sorotkan. Sekarang Aku tak tau harus berbuat apa lagi.


__ADS_2