
"Makasih yah Bil," ucapku saat menerima ice cream rasa strawberry yang diberikan Bila padaku. Bila tersenyum dan mengambil posisi duduk di sebelahku.
"Hmm, makan ice cream di siang bolong kayak gini memang paling nikmat yah, sayangnya hari belum sore. Kalo sore pasti lebih nikmat lagi," ujarku sambil menjilat ice cream pemberian Bila.
Bila berhenti menjilat ice cream cone rasa cokelat kesukaannya dan menoleh memandangku dengan paras penuh rasa penasaran. "Memangnya kenapa kalo sore hari?" tanya Bila penasaran.
"Umm," Aku tersenyum sambil menatap langit yang sangat terik di atas kepalaku. "Aku suka aja lihat langit sore. Selain ia terasa lebih teduh, warna langitnya juga kelihatan sangat cantik. Apalagi kalo ngeliatnya sampe matahari tenggelam, aku pasti menikmati perubahan warnanya yang sangat keren. Menurut ku langit sore itu langit yang paling romantis."
"Tapi di siang hari kayak gini kan ada matahari yang terang banget, bukannya itu lebih indah yah?" tanya Bila.
Aku mengangguk-angguk setuju dengan perkataan Bila. "Iya, matahari yang terang itu indah. Bulan sama bintang yang terang juga indah. Mangkannya aku sukanya sore. Karena sore itu adalah penghubung antara siang dan malam. Penghubung antara matahari dengan bulan dan bintang. Sore itu perannya kaya jembatan," jelasku sambil menatap Bila.
__ADS_1
Bila tersenyum mendengar penjelasanku. "Aku selalu suka dengan analogimu tentang apapun. Kamu selalu beda dengan orang lain. Dikala banyak orang memilih siang karena adanya matahari yang terang, dikala banyak orang memilih malam karena terangnya bulan dan bintang, kamu malah memilih sore. Kamu memilih dengan alasan yang gak pernah aku pikirin sebelumnya," ujarnya.
Aku tersenyum dan tersipu mendengarnya. "Makasih loh atas puniannya. Aku merasa tersanjung, lihat tuh hidung aku sampe terbang saking malunya," ucapku sambil tertawa setelah beberapa detik aku mengucapkannya yang kemudian disusul oleh tawa Bila yang sangat lepas.
"Kamu sering liat langit sore?" tanya Bila.
"Hampir setiap hari," jawabku.
Bila menoleh ke arahku. "Hmm aku udah lama gak denger kamu nyanyi, ayo rong nyanyi sedikit," gumam Bila sambil tersenyum merayuku.
"Kalo gitu kamu harus siap-siap menutup telinga kamu supaya gak sakit dengar suaraku," candaku sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Ohiya gimana kabar pacarmu Bil?" tanyaku tiba-tiba merubah topik pembicaraan.
"Pacarku?" tanyanya bingung.
Aku memasang wajah penasaran tingkat tinggi, "Iya pacarmu. Gimana perkembangan hubungan kamu? Aku denger kabar katanya kamu sama dia ada rencana ke jenjang yang lebih serius."
Senyuman wajah Bila mulai tergeser dengan kerutan di alisnya. Dia menundukan wajahnya dengan pandangan yang lemas. "Iya Dia udah melamarku kemarin, tapi orang tuanya kayaknya gak bisa menyukaiku. Mereka belum merestui hubungan aku sama dia kalo ke arah yang lebih serius. Tapi, Dia bilang nanti Dia akan coba meyakini orang tuanya."
Aku terdiam dan menatapnya heran. "Bil, aku gak ngerti. Kenapa orang tuanya gak merestui kamu sama dia ke arah yang lebih serius? Kamu baik, cantik, cerdas, mandiri. Itu kayaknya cukup deh buat kriteria calon menantu idaman. Kamu adalah tipe wanita yang mudah dikagumi banyak orang," jawabku dengan jujur.
Bila tersenyum ke arahku. "Apa itu artinya kamu kagum sama aku?" tanya Bila sambil tersenyum.
__ADS_1
Aku tertawa mendengarnya. "Iya sih, tapi sedikit. Kalo aku gak kagum, mana mungkin aku waktu itu memacari kamu" jawabku sambil bercanda.