
Hal yang kini sering kali ku ucapkan dalam hati, memang seharusnya tidak diperdengarkan padamu. Ya, aku berpikir seperti itu. Ini memang sedikit tidak adil, kamu yang berfikir aku tidak apa-apa. Sedangkan Aku disini menyimpan banyak luka tapi tak bisa apa-apa.
Hari itu, Aku melakukan suatu kelasahan pada diriku sendiri. Mengapa pendengaranku saat itu Aku serahkan padamu sepenuhnya. Sehingga perkataan putusmu padaku saat itu masih terngiang-ngiang di kepalaku. Pembicaraanku denganmu saat itu masih tumbuh dengan pikiran dan perasaanku saat ini.
"Kalo Kamu gak bisa berubah dari kebiasaan burukmu, lebih baik kita putus, Aku udah gak tahan sama Kamu." Mendengar perkataanmu saat itu, Aku langsung tersentak. Dengan wajah yang ditekuk dan penuh amarah, Dia pergi meninggalkanku. Tak tau kenapa, saat itu Aku tak berani memandangnya. Aku hanya terdiam, bahkan Aku tak sempat menjelaskan.
Aku terlalu larut dalam perasaan nyamanku denganmu. Senyumanmu yang manis itu, membuatku candu. Tapi aku juga terlarut dalam ambisi pencarian jati diriku saat itu, hingga tak terasa kau lepas dari genggamanku.
Dan sekarang, Kita berada di titik ini. Titik dimana Kita harus berdiri di pijakan masing-masing. Mengintip masa lalu bersama dinginnya malam, dinginnya sifatmu padaku. Menahan bulir mata sudah menjadi kebiasaan ku saat berwisata, berwisata masa denganmu lebih tepatnya.
__ADS_1
Ya, Aku bersembunyi disini, di balik sifat pengecutku. Aku memilih untuk diam tidak mencoba memberikan argumenku padamu. Karena aku takut, aku takut jika aku menjelaskannya padamu, nanti kamu berfikir kalo aku takut kelihanganmu, ya, meskipun itu benar.
Keegoisanku memilih untuk tidak berubah, karena itu juga hak ku untuk menemukan jati diriku. Ah sudahlah, aku tak mau lebih cengeng untuk hal seperti. Ini memalukan.
...&&&&&...
"Kita dalam bahaya Dev, tiket untuk acara band minggu depan bentar lagi habis," canda Saga padaku. "Ahh kirain ada apaan, bikin kaget aja lu pagi-pagi,"jawabku. "Eh tapi serius tuh tiket udah mau abis, gila cepet banget," tanyaku pada Saga.
"Iya katanya sih gitu, bentar lagi tiketnya abis." Karena ketakutan tiket konser band habis, aku dan Saga pun pergi ke tempat penjualan tiket.
__ADS_1
...&&&&&...
"Mas tiket nya masih ada?" Tanya Saga pada penjual tiket. "Aduh udah habis mas, ini tinggal satu," jawab si penjual tiket.
"Aduh gimana ni Dev? Tiketnya tinggal sisa satu," tanya Saga padaku. "Yaudah gapapa beli aja, gampang nanti tinggal cari satu lagi, kali aja ada yang jual," jawabku. Saga pun membeli tiketnya yang tersisa satu itu.
Saat aku dan Saga berjalan menuju pintu keluar, aku dan Saga melihat Bila keluar dari toilet penjualan tiket konser itu. "Eh Dev, itu si Bila mantan lu itu bukan sih?" Tanya Deva. "Iya kayanya, gak tau cuman mirip doang."
Karena Saga adalah orang yang tak punya lagi rasa malu, di tempat yang hening ini dia teriak memanggil Bila. "Hey, Bila!" panggil Saga. Dari kejauhan Bila pun melihat ke arah Kami, melambaikan tangan pada kami, kemudian agak sedikit berlari ke arah kami.
__ADS_1