
Sesampainya di Bandung, aku memasuki rumah dan terkejut melihat Sally yang duduk di sofa sambil menatapku dingin. Kayaknya suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Aku tersenyum riang ke arahnya dengan wajah tak berdosa. "Hay sayang, hari ini kamu gak jagain kafe? Tutup kafenya?" tanyaku karena aku menitipkan kafeku pada Sally.
Sally memalingkan wajahnya dan menjawab dengan datar, "Iya, tadinya aku mau pergi ke kafe sambil menjemputmu di travel. Tapi, waktu aku ngabarin temen-temen kamu katanya kamu gak pulang bareng mereka, kamu pulang bareng Bila."
"Iya aku tadi pulang bareng Bila. Sorry yah aku gak ngasih tau kamu. Tadinya aku mau di anterin sampe travel, tapi Bila maksa nganterin aku sampe ke Bandung. Aku gak enak nolak tawaran dari Bila," jelasku dengan nada merasa bersalah.
"Terus kemana aja kamu tadi? Kok nyampenya lama?" tanya Sally
Aku terkejut, lalu menatap wajah Bila dengan bingung. Aku belum pernah melihat wajah Bila seperti ini. Matanya berubah menjadi tajam seperti pisau yang mengkilat. Sally terlihat sangat marah. Aku sangat merasa bersalah.
__ADS_1
"Mm, yah.... kita... kita cuma diem di mobil aja lah. Dan masalah aku kenapa sampe sini agak lama karena tadi dipertengahan jalan kita istirahat, cuman makan dan ngobrol" jawabku dengan nada terbata-bata.
"Apa kamu gak tau?" tanya Sally dengan nada yang tinggi. "Aku khawatir nungguin kamu disini. Aku takut terjadi apa-apa sama kamu. Tapi kamu malah asyik-asyikan ngobrol sama Dia."
Kedua tanganku mulai dingin, dan berbicara pun terbata-bata, "Maaf Sal, iya aku salah."
"Apa kamu gak sadar ada orang disini yang sangat khawatir sama kamu?" tanya Sally dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sayang, aku sama sekali gak bermaksud membuat kamu khawatir," ujarku sambil mengelus-elus kepalanya.
Aku melihat Sally membuang nafas dengan berat. Dia memalingkan pandangannya dariku. "Ya udahlah," ucap Sally sambil menggendong tasnya yang disimpan di atas kursi.
__ADS_1
"Tapi kamu harus janji sama aku, kamu gak akan ngulangi lagi," tegas Sally.
Aku mengangguk dengan nurut.
"Terus lain kali kamu kalo ada apa-apa itu bilang, jangan ada yang di sembunyiin, jangan ada yang di tutup-tutupin," ujarnya memperingatiku.
Aku mengangguk mengerti, lalu tersenyum padanya sampai Ia pergi. Aku tak pernah melihatnya seperti itu.
Sal, terkadang aku gak bisa sendirian berjuang melupakan Bila, aku butuh bantuan kamu. Aku butuh dukungan kamu. Kalau tidak, aku akan banyak berfikir lagi. Dan ini tentang kesalahan yang telah aku buat. Saat-saat seperti ini aku berharap kamu ada disini Sal, disamping aku.
Maafkan aku Sal, untuk semual kesalahan yang pernah aku lakukan. Dan semua cinta yang tak sampai utuh kepadamu. Maafkan aku Sal.
__ADS_1
Aku gak bermaksud buat menyakiti kamu, aku gak bermaksud buat menutup-nutupi ini kepadamu Sal, aku hanya tidak enak menyampaikannya karena aku sangat menjaga perasaan kamu, maafin aku Sal.
Tapi Sal, aku memilih untuk baik-baik saja hari ini, meskipun kau memulai dengan rasa ragumu. Lain kali aku akan memberitahumu Sal. Meskipun nanti terasa berat untukku, dan untukmu.