DAN

DAN
BAB 28


__ADS_3

"Jangan bilang dia akan dipecat!"


"Ah, gak mungkin dia kan kerja nya bagus."


"Iya sih, tapi kan dia dipecat bukan karena performanya. Denger kabar sih kalo dia dipecat gara-gara sering ambil cuti."


"Ohh gitu ya?"


Aku melangkah ragu memasuki lobby kantor ku dan disambut bisik-bisik seru antara dua laki-laki. Aku mendekati mereka secara perlahan. Rasanya geli juga mendengar dua lelaki bergosip dengan seru seperti ibu-ibu yang menggelar acara arisan.


"Ada apa nih? Kaya yang seru," tanyaku mencela obrolan mereka.


Mereka menatap ku heran. "Deva, kamu gak tau?" tanya mereka.


"Tahu tentang apa?" tanya ku tak ngerti.


"Dengar kabar sih katanya kamu mau dipecat nanti," jawab mereka menjelaskan.


Mendengar perkataan mereka aku sudah tak heran. Meskipun aku merasa performa kerja ku bagus tapi aku pasti di keluarkan karena aku terlalu sering mengambil cuti. Aku mengambil banyak cuti karena job bandku mulai banyak, dan project usahaku sedikit-sedikit sudah berkembang.


...&&&&&...

__ADS_1


"Dev, kamu benar-benar bekerja disini sekarang?" tanya Sally heran sambil memandangi restoran kecil ini.


"Ya aku sekarang bekerja disini, dan aku juga yang membayar diriku sendiri," jawabku sambil tersenyum.


"Wah ini restoran milik mu Dev? Aku bener-bener bangga sama kamu sayang," ujar Sally sambil memelukku.


Aku melihat Sally dengan senyum yang merekah. Sally yang bangga padaku karena bisa memiliki usaha sendiri.


Terimakasih Sal, sudah selalu ada untukku. terimakasih Sal, sudah selalu mendukung semua keinginanku. Terimakasih Sal, untuk semua ketulusan mu. Dan maaf, maaf hingga sampai saat ini aku belum bisa melupakan Bila.


...&&&&&...


Sally menatapku yang sedang meregangkan ototku karena kaku. Aku sangat lelah setelah seharian bekerja. Memasak semua pesanan. Kesana kemari membawa nampan makanan. Berkutat dengan piring dan gelas yang kotor. Dan membersihkan lantai yang kotor.


Sally memiliki banyak perhatian padaku, contohnya tadi ketika bekerja Ia mengomel masalah cucian piring yang kurang bersih. Mengomel karena aku mengepel lantai dengan kain yang sangat basah. Selalu saja ada hal yang bisa Ia protes. Itu tentu adalah bentuk dari perhatian Sally padaku.


Aku hanya bekerja sendiri di restoranku ini. Karena belum ada pekerja yang ku ambil. Dan itu menyebkan aku kewalahan dalam mengurus restoran ku.


...&&&&&...


Sally memasuki kamarku dan disambut oleh gerutuan ku lewat ponsel.

__ADS_1


"Setelah anda memecat saya lalu seenaknya menyuruh saya kerja di tempat anda lagi, gak lah!! Saya gak mau lagi kerja di tempat anda," ucapku sambil menggerutu lewat ponsel.


Ujung mataku menangkap kehadiran Sally. Sambil berbicara lewat ponsel, aku menarik tangan Sally untuk duduk di sebelahku.


"Itu bukan urusan saya Urusi aja masalah anda sendiri. Saya gak mau lagi!!" bentak ku sambil menutup telepon dan mengakhiri pembicaraan.


Sally hanya termenung menatapku yang masih memasang wajah kesal.


"Sayang, kenapa? Ada masalah?" tanya Sally dengan lembut.


"Gapapa, ini cuma orang gila," jawabku sambil menggelengkan kepala.


"Orang gila?" tanya Sally sambil tersenyum.


Aku hanya mengangguk dan melemparkan ponsel ku ke atas tempat tidur.


Sally memandangiku yang sedang meregangkan otot leher, aku sangat lelah. Mungkin belum terbiasa kerja seperti ini. "Dev, kamu keliatan cape banget. Kamu istirahat aja deh hari ini."


"Gak Sal, Kita kan mau jalan-jalan hari ini," ucapku.


"Jalan-jalannya lain waktu aja, sekarang kamu istirahat," ujar Sally sambil tersenyum manis.

__ADS_1


"Kamu yakin Sal?" tanya ku ragu. Sally mengangguk dan tersenyum untuk meyakiniku. Dan aku pun imut tersenyum dan mengelus kepalanya dengan lembut.


Perlahan-lahan cinta mulai tumbuh dengan tulus pada Sally, itu semua berkat cinta Sally yang begitu besar.


__ADS_2