DAN

DAN
BAB 24


__ADS_3

Akhir-akhir ini aku gak pernah mau liat jalanan di Bandung. Kenangan bersama Bila menjadi salah satu alasan aku enggan melihat jalanan Bandung. Tapi akhirnya Bila juga lah yang membuat aku kembali lagi keliling Bandung. Bandung, aku kembali lagi berkelana.


Bersama Bila dan vespa hijau ku, kembali aku menyusuri jalanan di Kota Kembang ini. Kembali aku lihat bayangan diriku yang memberi sekuntum bunga mawar pada Bila. Setelah berapa lama aku tak menyusuri jalanan Bandung, ternyata Bandung masih tetap indah, dan indah nya bertambah karena ada Bila di jok belakang motor vespa hijau ku.


Waktu berputar begitu cepat ketika aku dan Bila menyusuri jalanan. Rasanya aku melihat air hujan yang mengalir begitu cepat. Waktu terlalu cepat untuk aku mendengarkan Bila bercerita. Bila kelihatan lebih cantik, dengan rambutnya yang dibiarkan tumbuh panjang, dan gaya nya sekarang kelihatan sedikit lebih dewasa.


Bila yang ternyata ngejalanin hubungan putus nyambung nya sama pacar barunya, baru bertengkar hebat dan kebetulan sekarang lagi putus. Karena pacar barunya memilih melanjutkan pendidikannya di Australia. Harusnya ini menjadi momen yang tepat buatku. Tapi setelah Bila bercerita soal perasaannya yang gak bisa lepas sama pria itu.


Mendengar cerita Bila tentang perasaan pada pria itu cukup membuatku menyerah. Apalagi mereka telah merencanakan ke jenjang yang lebih serius, yaitu pernikahan.


Kayaknya usaha ku buat kembali sama Bila ini sia-sia deh. Pria itu kayaknya udah masuk terlalu jauh di hidupnya Bila. Bukan salah Bila juga sih, karena selama ini banyak waktu Bila yang telah di lewati bareng aku. Mungkin ini waktu nya Bila buat lari cepat untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Saat ini, memberikan pinjaman jaket dan mengantar Bilaa ke travel menuju Jakarta cukup membayar semua ke-kecewaan ku. Setelah sampai di travel menuju Jakarta, aku melepaskan jaket yang aku pinjamkan pada Bila dan melipatnya kembali. Mengusap kepalanya, memegang kedua tangan nya dan mencium tangan kanannya.


"Kamu hati-hati ya Nyam"


"Iya.."


Aku tak membiarkan obrolah terakhir ini panjang lebat, karena bibirku rasanya terbungkam dan enggan berbicara. Aku hanya bisa tersenyum sambil memutar balik motor vespa ku dan ngebut dengan cepat. Aku gak mau kelihatan lemah dan cengeng di depan Bila. Aku gak mau keliatan kalo aku masih pingin balikan sama Bila. Aku gak ingin Bila tau kalo aku masih membutuhkan nya.


"Hahaha, hari yang sangat indah Nyam, meski waktu berputar lebih cepat 100 tahun ke depan, aku akan tetap mengingatnya Nyam.. Thanks"


Gimana caranya aku bisa lupain Bila, kalo sekarang aja list di dalam pesan ku penuh dengan pesan Bila. Terlebih lagi saat Bila mengabariku kalo Dia balikan lagi dengan pacar nya. Aku memutuskan untuk mengganti nomor telpon ku.

__ADS_1


"Aku dapet nomor baru kamu dari Saga, kenapa kamu ganti nomor kamu?" tulis pesan Bila.


Aduh Saga, kenapa lu malah kasih nomor baruku ke Bila.


"Ahaha iya, nomor kemarin udah gak aktif dan kontaknya pun banyak yang hilang. Simpan aja nomor baruku ini. Eh nanti aku ada acara di Jakarta. Mau ketemu?" tanyaku.


"Mmm diusahain Dev, cuma kayaknya pacarku dateng dari Australia. Aku gak janji kita bisa ketemu, tapi nanti kabarin aja."


Perasaanku kembali down melihat jawaban pesan Bila ini. Tentang pacarnya lagi? Kalo memang buat Bila dia lebih penting, yah gapapa. Aku gak bakal ngarepin buat di temenin Bila ketika nanti di Jakarta. Kenapa juga aku malah bilang ke Bila kalo aku ke Jakarta? Bila kan udah punya pacar.


Aku gak boleh ngebiarin Bila menguasai pikiran ku terus-menerus. Aku harus bisa menghadapi Jakarta tanpa Bila.

__ADS_1


Sesampainya di Jakarta aku gak ngehubungi Bila. Ada rasa cemas di hatiku karena takut papasan dengan Bila dan pacarnya. Dan hari itu sepertinya ekspresi cemas ku muncul lebih dominan daripada ekspresi ceria.


__ADS_2