
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Mencoba menyadarkan diri dari bayangan yang mulai berlari-lari di pikiranku.
Ah, sudahlah Dev!! Sepertinya sekarang Dia benar-benar tidak bisa kembali bersamamu. Dia mungkin tidak akan pernah bercerita lagi. Dia mungkin tidak akan menemuiku lagi. Dia mungkin tidak akan ada disisiku lagi.
Hei, tapi tunggu!! Memangnya untuk apa aku mengharapkan kehadiran dia disisiku lagi? Aku memukul-mukul kepalaku karena kesal tak bisa menghilangkan bayangan dia di pikiranku.
Sadar Dev sadar!! Ada Sally yang mencintaimu lebih tulus. Seharusnya aku tidak berfikir untuk jatuh cinta pada Bila. Hah? Apa-apaan ini? Sepertinya pikiranku mulai terpengaruhi oleh dirinya lagi. Tidak mungkin aku jatuh cinta kembali padanya.
Tapi, tak bisa aku pungkiri, jantungku terasa berdegup lebih kencang setiap teringat akan kenangan masa laluku dengan Bila. Bibirku pun seperti ada tarikan paksa untuk tersenyum saat mengingatnya. Aku memukul tempat tidurku dengan keras. Ada apa denganku ini?
Tok.. tok.. tok.. Suara orang mengetuk pintuku.
"Yah, masuk! Gak di kunci kok," ucap ku sambil teriak.
__ADS_1
"Deva.." seru Ibuku sambil memasuki kamar tidurku.
Aku menoleh ke arahnya, dan mengambil tangan kanannya untuk aku cium "Hay Bu, kok belum tidur?" Tanyaku.
"Seharian Ibu belum ketemu kamu, Ibu ingin melihat kamu sebelum kamu tidur," ujar Ibuku.
Aku tersenyum sambil melihat Ibuku. Hari ini, aku memang pulang lebih malam dari biasanya, hingga aku belum sempat bertemu dengan Ibu. "Ohh jadi Ibu kangen ya sama aku, emang sih gak heran. Aku emang ngangenin orang nya," ucapku bercanda.
Aku tersenyum sambil ikut menatap tanganku. "Apaan sih Bu, ini cuman luka biasa nanti juga sembuh," jawab ku dingin.
Ibuku memang sangat perhatian padaku. Meski usiaku kini tak lagi anak-anak. Bagi Ibuku, aku tetaplah bayi imut, mungil lucu dan menggemaskan. Maka tak heran kalo Ibuku memberikan ekstra perhatian padaku.
...&&&&&...
__ADS_1
"Selamat menikmati," ucapku sopa pada seorang pengunjung sambil meletakan pesanannya. Aku berjalam menuju dapur dengan cepat. Hari ini restoran sedang banyak pengunjung. Dan otomatis itu bakalan menguras tenaga ekstra.
Aku meletakkan secangkir kopi yang sudah siap untuk diantarkan. Aku mengangkatnya sambil terburu-buru sampai tak hati-hati.
"Aduh!" seruku karena terkejut pada panas yang tiba-tiba terciprat pada tanganku. Cangkir yang berisi kopi itu berlandas dengan sukses dan mengasilkan pecahan beling dan lantai yang basah. Keren Dev! Sekarang kerjaanku terganggu sama ulahku sendiri.
Aku segera mengambil kain pel di meja. Aku berusaha membersihkan pecahan cangkir yang berserakan di lantai.
"Sayang, sini biar aku aja yang beresin ini. Kamu lanjutin aja melayani pengunjung. Lagi ramai tuh," ucap Sally sambil mengambil alih kain pelnya. Untung ada Sally yang bersedia siap-siaga menemani sekaligus membantu ku.
Gak kebayang kalo hari ini Sally tak membantu ku, mungkin gak tau gimana jadinya, bisa-bisa jadi kacau. Ahh sekarang aku jadi tak semangat lagi melayani pengunjung.
Hari demi hari perhatian Sally padaku makin bertambah, itu artinya rasa bersalahku padanya juga pasti semakin bertambah. Tapi, saat ini cintaku pada Sally semakin besar, tapi entah mengapa meski cintaku pada Sally semakin besar tak mengikis perasaanku pada Bila.
__ADS_1