
Aku duduk termenung di salah satu kursi yang tersedia di pinggiran jalan, rasanya terlalu lemah untuk terus berjalan. Jika aku tak menahan gengsi, mungkin aku sudah menangis sejadinya. Bahuku berguncang menahan rasa pedih.
Aku menekan dadaku dengan keras. Kenapa rasanya begitu sakit? Melihat wajah Bila yang penuh siksaan. Dengan kedua mata tertuju padaku Ia bilang akan tetap melangsungkan hubungannya ke jenjang yang lebih serius. Kenapa semua ini bisa terasa amat menyakitkan?
Aku memukul-mukul dinding untuk melepaskan emosiku. Mengapa Bila bisa mempunyai ide seburuk itu? Aku membungkam mulutku dengan tanganku erat-erat. Berusaha menahan agar aku tak berteriak kencang. Hingga akhirnya Saga pun datang.
"Kenapa lu Dev?" tanya Deva dari sampingku. Saga memperhatikanku dan sedikit terkejut melihat penampilanku yang begitu berantakan, tak seperti biasanya. Saga mendekatkan wajahnya padaku, berusaha melihatku lebih dekat. "Lu nangis? Ah cemen Lu, hahaha. Ketawa dong woy," canda Saga.
"Ini," ujar Saga sambil menyodorkan sapu tangannya ke depan wajahku. "Ambil nih, halus air mata cengengmu itu. Jijik Gua lihatnya," ujarnya sambil tertawa.
Aku menatap sapu tangan di depan wajahku, "Apaan sih Lu, siapa coba yang nangis? Ngarang Lu ah, Hahaha," jawabku sambil tertawa terpaksa karena gengsi pada Saga.
__ADS_1
"Nah gitu dong ketawa, malu tuh sama tante itu," ucap Saga sambil menunjuk papan iklan bergambar tante-tante sedang tersenyum.
"Ayo pergi Dev, jangan disini. Ke Bar kayaknya seru," ucap Saga. Aku merasa tak dapat bergerak. Saga menatapku tak sabar dan menarikku lebih kuat. "Ayo laki-laki cengeng, tunggu apa lagi?!" Hingga akhirnya aku hanya bisa menuruti apa yang dikatakan Saga.
...&&&&&...
Aku duduk di atas meja Bar ini dengan perasaan yang tak karuan. Aku hampir tak percaya pada semua yang terjadi hari ini. Terlalu banyak kejutan yang mempermainkanku.
Aku membuang napas mendengarnya. Dengan adanya Saga disini cukup membuatku sejenak lebih dingin. Di Bar ini aku ceritakan semua pada Saga apa yang telah terjadi. Saga sangat kesal mendengarnya, sama sepertiku.
Aku melirik jam sudah menunjukkan setengah dua belas malam. Matahari pun sepertinya sudah tertidur nyenyak. Aku dan Saga pun pulang meninggalkan Bar tersebut.
__ADS_1
...&&&&&...
Seorang diri di kamar tidur mau tak mau membuatku terus mengingat kejadian itu. Aku terus berpikir, bagaimana bisa Bila mempertahankan orang itu? Sedangkan aku yang hanya mempertahankan jati diriku Ia tidak menyukainya, padahal aku cinta dan sayang tulus pada Dia.
Selama ini aku selalu menjaga Bila, aku tak pernah menyakiti fisiknya. Sekarang lelaki itu seenaknya bermain tangan pada orang yang selama ini aku jaga.
Katakan sesuatu padaku Bil, apakah kamu bahagia dengannya? Atau itu hanya harapanmu saja? Atau kamu butuh yang lebih? Apakah ada sesuatu yang lain yang kamu cari dari Dia?
Mungkin saat ini kamu sudah tenggelam pada rasa cinta yang dalam dengannya. Hingga rasa sakit yang kamu terima tak jadi permasalahan bagimu.
Bil, tubuhku tergetar saat menatap kedua bola matamu. Rasa yang sudah redup sepertinya lahir kembali dengan rasa ingin memilikimu. Aku melihat jalan yang berada pada batinmu. Ijinkan aku sejenak untuk berkunjung kehatimu Bil, memperbaiki rasa sakit yang kamu terima.
__ADS_1