
Melihat perjuangan Sally yang selalu ada saat aku dalam kesulitan membuat ku kembali sayang padanya, dan kami pun memutuskan untuk balikan.
Semua orang selalu berkata bahwa aku adalah pria yang sangat beruntung karena berhasil mendapatkan hati Sally kembali. Kebanyakan orang menilai Sally adalah orang yang nyaris sempurna. Cantik, baik, pintar ditambah lagi sekarang Ia sukses dalam karir nya. Banyak orang bilang bahwa Sally adalah impian setiap pria.
Penilaian orang yang berlebihan tentang Sally membuat ku berfikir kenapa Sally yang nyaris sempurna itu mau dengan orang seperti ku. Padahal dulu aku pernah menyakitinya. Dan sekarang aku menyesalinya.
Setiap aku memejamkan mataku dan mencoba membayangkan Sally tersenyum namun yang terlihat justru ekspresi Bila yang meninggalkanku dengan penuh rasa emosi. Dan aku berusaha keras untuk menghilangkanya, karena aku tak mau lagi ketika aku berpacaran dengan Sally namun hati dan pikiran ku masih membayangkan Bila. Aku mencoba melepaskan rasa bersalah yang berdesakan ini.
...&&&&&...
Aku berjalan menuju dapur sambil membawa piring dan gelas kotor dengan hati-hati. Mendadak, langkahku menjadi lambat saat melihatnya. Disana ada bayangan Bila sedang mencuci piring dan gelas kotor seolah-olah itu nyata.
Halusinasiku terlalu berlebih, hingga bayangan itu seperti nyata. Aku berjalan mendekatinya dengan perasaan yang tak menentu. Dia sama sekali tak memandangku bahkan melirik pun tidak. Aku meletakkan piring dan gelas yang kotor itu dengan kencang sehingga menimbulkan bunyi yang keras. Namun Dia tetap terdiam seakan aku ini hanyalah seekor nyamuk yang terus berbunyi di telinganya.
__ADS_1
Dev sadar Dev ini hanya bayangan saja.
...&&&&&...
Usahaku untuk mencintai Sally terus aku lakukan. Aku menelusuri rak penuh boneka di toko mainan. Aku melihat-lihat boneka kelinci beraneka bentuk dan warna. Wajah senang Sally sudah terbayang di pikiranku. Aku harus memilih dan membelikannya boneka yang terbaik.
"Sayang aku mau boneka beruang putih ini," ucap seorang gadis berseragam SMA pada pacarnya yang memakai seragam yang sama.
Pria itu mengambil boneka beruang yang lain dan jongkok di depan pacarnya. "Ini aja nih lebih bagus," ucapnya sambil mengulurkan boneka beruang cokelat pada pacarnya. "Kalo warna putih nanti cepat kotor, yang ini aja lebih bagus."
Ada satu rasa aneh yang muncul di kepalaku. Melihat mereka seperti aku dan Bila saat pertama berpacaran dulu. Rasanya semua itu terlalu lama untuk aku kenang.
...&&&&&...
__ADS_1
"Sally, lihat apa yang kubawa?" seruku riang begitu menemui Sally di rumahnya. Sally tersenyum lebut padaku. Perasaanku masih terlalu terkejut untuk melihat senyuman Sally.
"Wah bagus banget bonekanya, makasih yah sayang," ucapnya dengan lembut.
Kulihat Ayahnya Sally muncul dari dapur dan membawa dua gelas teh hangat. Ayahnya menatapku dan kami pun memulai obrolan.
"Wah bawa apa tuh Dev?" tanya Ayahnya Sally.
"Ini boneka gajah buat nyonya Sally Om," jawabku sambil bercanda.
Ayahnya hanya tersenyum seolah sudah biasa dengan candaanku. Padahal aku membawa boneka beruang tapi menyebutnya boneka gajah. Sally hanya mengamati ku yang tengah bercerita akrab dengan Ayahnya.
Tak sengaja aku menatap mata Sally yang teduh dan tenang sampai memancarkan cahaya ketulusan. Aku mengalihkan pandanganku pada kaki-kaki meja. Melihat pancaran ketulusan Sally kembali mengingatkanku pada rasa bersalah.
__ADS_1
Ya, mungkin benar kata orang-orang Dia adalah wanita yang cantik dan baik. Aku dulu pernah menyia-nyiakannya dan itu adalah kesalahan terbesar.
Tapi, setiap aku bertanya pada diriku sendiri apakah aku sudah benar-benar mencintai Sally dan melupakan Bila sepenuhnya, aku tak pernah menemukan jawaban pada diriku.