DAN

DAN
BAB 35


__ADS_3

Ketika aku sedang meneguk minuman dari botolku, ponselku berdering dengan kencang. Seketika aku langsung mengambil ponselku di dalam saku. Aku terkejut ketika melihat nama yang terpampang di layar ponselku.


Bila calling....


Aku mendesah pelan dan berpikir dua kali untuk menjawab panggilan tersebut. Dengan rasa ragu, jariku mulai menekan tombol hijau pada ponselku dan mendekatkan ponselku ke telinga.


"Halo...." serunya dari ponsel, "Deva?" ujarnya lagi dengan nada hati-hati.


Aku masih mendengarkan suaranya lewat telepon sambil meletakkan kembali botol minumanku di atas meja. Aku memasang wajah sinis karena merasa terganggu walaupun aku tahu dia tak bisa melihatku. "Ada apa Bil telepon?" tanyaku dengan nada datar tak biasanya.


Aku mendengat suara tarikan napas yang berat di ponsel Bila. "Bisa kau menemui aku nanti malam? Ada yang ingin katakan dan ingin aku tunjukkan," ucapnya.


Aku kembali menjawabnya dengan nada datar, "Sorry, kayaknya gak bisa Bil, aku ada janji." Aku berbohong pada Bila.


"Tolonglah, aku mohon," ujarnya sambil memohon. "Ada sesuatu yang sangat penting, aku berharap kamu bisa datang."


Aku menelan ludahku pelan, berharap dia tidak mendengarnya. "Oke Bil, tapi aku gak janji yah," tambahku cepat memperingatkan.


"Yah, setidaknya kamu udah mau," jawabnya dengan lega.


"Jam berapa? Dimana?"


"Jam delapan, di kafe biasa. Masih ingat kan?"

__ADS_1


"Ya, aku ingat," jawabku singkat.


"Oke sip deh, sampai ketemu nanti ya Dev," seru Bila dengan nada yang lebih ceria dari sebelumnya. Aku menutup ponselku dan kembali memasukannya kedalam saku. Dalam hati, aku menyesali keputusanku menyetujui pertemuan itu, karena aku merasa bersalah pada pacarku Sally, aku sudah janji gak akan mengkhianatinya lagi. Bertemu jam delapan malam? Aku rasa itu bukan pilihan yang bagus.


...&&&&&...


Aku berjalan dengan rasa ragu menuju tempat janjian aku dan Bila. Dulu tempat ini adalah tempat favorite kita saat pacaran. Namun, saat ini kita bertemu di tempat ini dengan status yang berbeda.


Tibanya di sana, aku melihat Bila yang duduk membelakangi, sehingga aku hanya melihat punggungnya saja. Sebenarnya apa yang ingin Ia tunjukkan dan katakan padaku? Aku semakin penasaran. Entah kenapa biasanya aku selalu semangat jika bertemu dengan Bila, namun kali ini rasanya agak berbeda. Firasatku mengatakan, sesuatu yang terjadi bukanlah hal baik.


Aku memantapkan hatiku dan melangkah ke arah Bila. Entah mengapa, rasanya jantungku berdegup kencang dengan tidak enak.


"Hay Bil," ucapku sambil menepuk pundak Bila.


"Bil, kenapa wajahmu? Siapa yang bikin kamu kaya gini?" tanyaku sambil duduk di hadapan Bila.


"Gapapa," jawab Bila sambil meneteskan air mata.


Masih terpaku, aku merasakan emosi yang tak beraturan. Tanganku mulai gemetar menahan semua emosi itu.


"Jawab Bil, jujur. Siapa yang buat kamu kayak gini?" tanya ku lagi dengan nada khawatir.


Bila terdiam, menatapku dan bergelinang air mata. Bibirnya bergetar, seperti ada yang ingin di ucapkan tapi ragu. Akupun menatap Bila dengan perasaan sangat khawatir.

__ADS_1


"Pacarku Dev, dia yang buat aku kayak gini," ucap Bila sambil menangis.


"Si*lan!!!" ucapku sambil berteriak dan memukul keras meja tempat aku dan Bila diam. Orang-orang yang berada di Kafe itu seketika semua melihat ke arah kami.


"Tapi ini bukan salah Dia sepenuhnya Dev, Dia gak mungkin melakukan ini kalo aku gak berbuat salah," ujar Bila dengan air mata yang masih bercucuran.


Aku menghela nafas panjang mendengar penjelasan Bila.


"Bil, meskipun disini kamu berbuat salah, tapi gak seharusnya Dia melakukan kamu kayak gini, laki-laki macam apa yang berlaku kayak gini sama wanita, lagian kamu kenapa mesti bertahan sama orang itu? Banyak kok laki-laki lain yang bisa buat kamu gahaia," ucapku dengan nada emosi.


"Gak bisa Dev, sebentar lagi aku dan dia akan menikah, aku harus sabar," ucap Bila.


"Apa? Kamu udah disakitin kayak gini kamu masih mau meneruskan rencana pernikahan kalian? Sadar Bil!! Dia udah menyakiti kamu, bukan lagi hati, tapi ini sudah menyakiti fisik kamu!!!" ujarku dengan nada tinggi.


"Pokoknya aku akan bilang sama Ayah dan Ibu kamu soal ini, aku akan bilang kalo laki-laki itu sering menyakiti fisik kamu," ucapku.


"Aku mohon Dev jangan kasih tau Ayah sama Ibu," ucap Bila memohon sambil memegang kedua tanganku.


"Gak bisa Bil, aku harus tetap bilang ini ke Ayah dan Ibu, ini semua demi kebaahagiaan kamu Bil. Aku gak mau melihat kamu tersiksa seperti ini," ujarku.


"Jangan Dev, kamu gak berhak buat ikut campur dengan urusanku. Kamu juga gak perlu susah payah melakukan apapun untuk membuat aku bahagia," ucap Bila.


"Apa kamu bilang? Aku gak boleh ikut campur? Oke kalo gitu, mulai sekarang kamu urus aja urusanmu sendiri. Dan nanti, jika ada masalah lagi aku harap jangan pernah hubungi aku lagi. Mulai sekarang kita urus saja urusan masing-masing," ujarku dengan rasa penuh emosi.

__ADS_1


Tanpa berpikir lama, aku membalikkan badan, dan berjalan meninggalkan Bila. Aku masih mendengar Bila berteriak memanggilku, tapi aku tak lagi peduli.


__ADS_2